Waspada, Kasus Chikungunya Meningkat

WhatsApp-Image-2019-01-16-at-13.37.40.jpeg

Tim Gerak Cepat Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo dan Kabupaten Pohuwato melakukan pengambilan Specimen Cikungunyah di desa Banurejo Wilayah Puskesmas Motolohu, Rabu (16/01/2019)

Pohuwato, Dinkesprov – Tim Gerak Cepat (TGC) Provinsi dan Kabupaten Pohuwato melaksanakan kegiatan investigasi kasus chikungunya di wilayah Kabupaten pohuwato.

Menurut hasil analisis data SKDR bahwa sejak minggu kedua tahun 2019 kasus Chikingunya mengalami peningkatan khususnya di wilayah Kabupaten Pohuwato di wilayah puskesmas Motolohu, sampai demgan minggu ketiga sebanyak 23 kasus di desa Banuroja.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi dr H. Triyanto S. Bialangi, M.Kes., menjelaskan bahwa demam chikungunya disebabkan oleh virus yang di tularkan melalui nyamuk Aedes Aegypti atau Albopictus. Gejala yang paling umum adalah demam dan sakit persendian dan terkadang muncul rash/ruam, karena gejalanya umum sebagimana demam/dengue maka untuk memastikan diagnosis harus dilakukan pemerikssaan darah, adapun untuk pengobatan penyakit demam chikungunya atau flu tulang ini di tata laksana sesuai gejala.

“Meskipun penyakit ini bisa sembuh sendiri tetapi jika terserang penyakit ini dapat mengakibatkan produktivitas seseorang menurun karena tdk dapat bekerja” kata dr. Triyanto.

Selain melaksanakan kegiatan penyelidikan epidemiologi juga melaksanakan pengambilan darah bekerja sama dengan puskesmas motolohu.

Setelah dilakukan investigasi ada 3 (tiga) desa yang terserang demam Chikingunya yaitu desa Banuroja, Sarimurni dan Manunggal. Sudah dilakukan fogging yang sebelumnya telah didahului dengan penyuluhan oleh tim promosi kesehatan dan kesehatan lingkungan, demikian dijelaskan oleh Kepala Puskesmas Motolohu Triwijayati Djuwari.SKM.

“Kegiatan PSN juga telah dilaksanakan diseluruh desa di wilayah puskesmas Motolohu” tuturnya.

Kasus chikungunya yang dilaporkan terakhir 2 hari lalu sebanyak 3 kasus. Masyarakat wajib waspada terhadap kasus demam chikungunya, karena seseorang dapat menderita demam chik dan DBD sekaligus, karena vektornya sama.

Meskipun peningkatan kasus Chikingunya terjadi di Kabupaten Pohuwato tetapi kabupaten/kota lainnya wajib waspada karena penyakit menular tidak mengenal batas wilayah, apalagi didukung oleh iklim yang sangat baik untuk perkembangbiakan nyamuk Aedes sebagai vektor penyakit DBD, chikununya dan penyakit2 lainnya. (TIK)

Rilis : Kristin Alaina
Editor : MD dan Nancy Pembengo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

thirteen − 7 =

scroll to top