Angka “13” Bukan Sial

WhatsApp-Image-2021-04-21-at-23.38.13.jpeg

Dr. Arifasno Napu, SSiT, MKes, Pemerhati Gizi, Kesehatan dan Sosial. Mengajar Ilmu Gizi, Kesehatan, Olahraga, Budaya di Perguruan Tinggi, Anggota Pengurus ISNA (Indonesia Sport Nutritionist Association), Ketua Pergizi Pangan Indonesia Gorontalo, Wakil Ketua Kwarda Gorontalo, Pembina DPD PERSAGI Gtlo, ASN Staf Dinkes Prov Gtlo.

Punya Teori, Praktik Dan Hasil

Semoga tidak menuju ke jalan orang-orang murka dan orang-orang sesat maka dalam ajaran agama tindakan yang sebaiknya dilakukan sejatinya mencontoh bukan mengawali dan sejatinya pula mengikuti bukan mengada-ada. Maknanya bahwa sesungguhnya Contoh dan tindakan itu sudah ada yang didasari oleh teori, praktik dan hasilnya.

 Dalam kehidupan sehari-hari diketahui bahwa jika dalam perengkingan prestasi maka angka 1 (satu) adalah angka yang paling utama atau mulia Namun angka 3 (tiga) sering dinyatakan sebagai angka terkuat yang terimplikasi ketika sedang melakukan sesuatu secara bersama-sama misalnya memindahkan benda yang berat umumnya menggunakan hitungan 1 (bersedia), 2 (siap), 3 (laksanakan memindahkan secara bersama-sama). Ada juga bilangan 0 (nol) yang jika dikalikan dengan angka berapa pun maka hasilnya nol. Angka 9 (sembilan) juga unik karena angka berapapun (kecuali nol) bila dikalikan dengan angka 9 pastilah tetap akan menunjukkan angka sembilan, sebagai contoh  tujuh dikalikan dengan sembilan (7 x 9= 63) hasilnya enam puluh tiga artinya hasil tetap menampakkan angka sembilan yakni 6 + 3 = 9. Masih banyak lagi keunikan-keunikan dalam angka-angka lainnya.

Awalnya, bahwa semua angka yang ditemukan dan penggunaannya hanyalah dikenal dari angka 1 sampai angka 9. Oleh ilmuan matematika Islam yang bernama Muhammad Ibnu Musa Al-Khawarizmi yang bekerja di Bayt Al Himah menyarankan bahwa lingkaran kecil harus digunakan dalam perhitungan jika tidak terdapat suatu nomor di tempat puluhan misalnya karena ada angka nol maka bisa dibedakan angka 355 dan 3055. Bagaimana jika tidak ada angka nol tersebut maka tentunya sampai hari ini tidak akan bisa ada angka 3055 (tiga ribu lipuluh lima) atau angka lainnya yang ada bilangan 0 (nol). Al-Khawarizmi menggunakannya untuk menciptakan teori Al-Jabar pada abad ke-9,  dan digunakan dalam mengembangkan metode untuk mengalikan dan membagikan angka yang disebut algoritma. Sementara angka nol baru sampai ke Eropa nanti pada abat ke-12 (https://www.idntimes.com/science/discovery/siti-nurdianti/sejarah-penemuan-angka-0-sempat-disangka-angka-setan-lho-exp-c1c2/5). Bagaimana dengan angka “13”?

Dari dulu sampai sekarang tidak bisa dipungkiri bahwa ada pernyataan yang menjadi dasar di alam kehidupan tentang angka 13 yang sering diidentikkan dengan angka sial. Terbukti bahwa penggunaannya tidak diperkenankan secara tertulis tetapi dipraktikkan secara pribadi, institusi, perusahan bahkan digunakan pada karya-karya dengan teknologi canggih yang dikerjakan oleh ilmuan atau praktisi seperti pada penggunaan nomor kursi di pesawat, nomor gedung bertingkat, dsb yang tidak ada angka 13.

Apakah angka 13 telah banyak memberikan bukti kemudhoratan misalnya terkait dengan sebuah kegagalan dalam berusaha, berdagang, atau bisa juga terkait dengan kejadian bencana, kecelakaan sehingga mendasari tidak menggunakannya malah ditetapkan dan dipercaya bahwa sebagai angka sial?

Dikatakan angka 13 adalah angka sial, tetapi untuk penulis tidak demikian malah menjadi bukti dalam waktu dan jumlah penyelesaian sebuah studi. Secara tidak disengaja bahwa penulis bisa selesai ujiannya pada tanggal 13, bulan 03, tahun 2013. Dan disampaikan pula sebagai lulusan ke-13 untuk tahun ajaran 2013. Bila dirunut ke belakang lagi dalam proses penyelesaian riset penulis, bahwa angka 13 pula yang telah menjadi angka hasil hitungan secara statistik dalam menentukan jumlah responden untuk setiap tempat pengumpulan data.

Selanjutnya angka 13 menjadi point penting dan terus menjadi pikiran yang juga memaksa agar dicarikan maknanya melalui diskusi dengan berbagai pihak, tetapi tak kunjung ditemukan jawabannya. Untuk itu penulis sering melakukan perenungan dan menyatakan bahwa ini adalah keunikan yang butuh jawabannya.

Segala Puji Bagi Allah, Tuhan Semesta Alam. Entah dari hasil renungan dan diskusi, terinspirasi dengan berbagai hal yang ada dalam ajaran Islam. Adapun yang dimaksud dengan angka ‘13” merupakan kesatuan kekuatan yang tak terhingga. Kesatuan kekuatan tak terhingga terdapat pada tiga unsur utama kehidupan yakni Rukun Iman yang berjumlah 6 rukun, Rukun Islam ada 5 Rukun dan Rukun Ihsan ada 2 Rukun, sehingga bila dijumlahkan rukun-rukun tersebut ada 13.

Iman itu bermakna bahwa keyakinan mendasar yang dibenarkan dari lubuk hati dan dinyatakan dengan ucapan serta membuktikannya dengan perbuatan terhadap kebenaran dan keyakinan. Tentu sesuai dengan Sabda Rasulullah SAW bahwa iman atau keyakinan itu meliputi keyakinan adanya Allah SWT, keyakinan kepada Malaikat-Nya, keyakinan pada Kitab-Kitab-Nya,  keyakinan pada para Rasul-Nya, Keyakinan hadirnya kiamat, dan keyakinan pada takdir (Qada dan Qadar) yang baik maupun buruk (Hadist Riwayat Muslim).

Enam rukun Iman itu, bukan berdiri sendiri-sendiri. Sama halnya dengan memahami teori dalam keilmiahan akalia (aqli) yang  harus benar-benar berdasar dan ada metodologinya. Misalnya metodologi yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim AS ketika mau mencari Allah SWT diantaranya ketika Beliau melihat berhala yang disembah oleh kaumnya, secara rasional dalam kebenararan dan keilmiahan adalah tidak masuk akal bahwa patung-patung itu adalah Tuhan manusia. Demikian pula Beliau melihat bintang, bulan dan matahari, ternyata semuanya itu terbenam dan tidak mungkin Tuhan terbenam atau tenggelam (Surat surat Al-An’am ayat 76-78).

            Proses pencarian Allah SWT sebagai dasar keyakinan, sesungguhnya telah termaktub dalam Kitab-Kitab-Nya dan semuanya bermuara dalam Al-Qur’an serta diuraikan dalam hadist yang tidak lain adalah hasil percakapan Rasulullah SAW dengan malaikat. Oleh karena itu 6 Rukun Iman merupakan teori dasar abadi (dalil naqli) yang harus difahami terlebih dahulu metodologinya untuk menjadi pijakan dari teori semua ilmu pengetahuan (sebut saja Ilmu Filsafat, Ilmu Pengetahuan Alam, Sosial, Ekonomi, pertahanan keamanan, Kesehatan, dan sebagainya) yang mengedepankan kebaikan dalam kebenaran yang rasional dan ilmiah. Selanjutnya 6 Rukun Iman ini, juga sebagai pijakan abadi dalam memahami, meyakini dan membenarkan kejadian-kejadian sebelum adanya jagat raya,  kejadian dalam alam dunia lainnya, alam kubur, padang Mahsyar, bahkan sampai masa di akhirat yang terkait dengan alam surga dan neraka.

            Enam rukun dalam Rukun Iman harus dipraktikkan. Praktiknya terjabarkan dalam 5 rukun dalam Rukun Islam yakni mengucapkan dua Kalimat Syahadat, melaksanakan Sholat Lima Waktu, Mengeluarkan Zakat, Puasa di bulan Ramadhan, Menunaikan Ibadah Haji. Rrukun Islam merupakan paripurnanya praktik dari berbagai teori dasar abadi. Bila praktik tidak dilaksanakan berarti logikanya hanya meyakini teori saja, artinya bagaimana sebuah teori akan bermanfaat atau teraktualisasi dalam sebuah produk KeImanan, dalam bentuk karya KeImanan, jasa KeImanan dan lainnya bila tidak dipraktikkan atau dibuat sesuai dengan metodologinya?

            Rukun Iman yang dimiliki dan dibenarkan oleh hatinya, kemudian dipraktikkan dalam bentuk Rukun Islam, pada akhirnya akan memberikan hasil untuk kehidupan. Hasil yang dimaksud itulah sebagai pencapaian ibadah umat manusia dalam keihsanannya yaitu titik di mana ketika manusia melakukan ibadah kepada Allah SWT seolah-olah melihat Allah SWT dan meskipun tidak melihat Allah SWT namun diyakini bahwa Allah SWT menyaksikan apa yang diperbuat. KeIhsanan inilah menjadi puncak dari hasil tindakan kehidupan manusia dalam takwa, tawakal, dan keikhlasannya.

            Bisa saja ada yang tidak sependapat tentang kajian angka 13 yang dianggap sebagai angka sial, namun menurut penulis ternyata telah bermakna teori dasar abadi dalam keImanan, bermakna praktik dalam keIslaman dan bermakna hasil dalam keihsanannya. Oleh karena itu bila ingat angka 13 maka bukanlah suatu kesialan tetapi merupakan Kesatuan Kekuatan Tak Terhingga dari KeImanan, KeIslaman dan KeIhsanan. Semua kebenaran hanya dari Allah SWT. Semoga tulisan ini bermanfaat, bersama berkarya sebagai ibadah, Aamiin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

5 × four =

scroll to top