Angka Kematian Ibu 2 tahun Terakhir, Turun

WhatsApp-Image-2019-01-15-at-09.11.31.jpeg

Kunjungan Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Gorontalo Ibu Idah Syahidah Rusli Habibie di RSUD dr. Hasri Ainun Habibie Provinsi Gorontalo untuk Menjenguk Pasien Operasi Sectio Perdana

Kota Gorontalo, Dinkesprov – Program pendampingan ibu hamil beresiko yang digagas Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo dalam dua tahun terakhir berhasil.

Program untuk menekan angka kematian ibu/bayi dinilai efektif dalam mengatasi masalah kematian ibu yang cukup tinggi dalam beberapa tahun terakhir di Gorontalo.

Dari data yang ada bahwa jumlah kematian ibu pada tahun 2016 mencapai 61 kasus, sementara untuk 2017 mencapai 44 kasus, dan 2018 mencapai 30 kasus. Artinya ada penurunan yang signifikan setiap tahunnya dari kasus kematian ibu tersebut.

Sementara dari angka kematian di tahun 2016 terjadi 302/100.000 kelahiran hidup, di tahun 2017 terjadi 209/100.000 kelahiran hidup dan di 2018 157/100.000.

“Apa perbedaan antara jumlah kematian dan angka kematian? Artinya dalam setiap 100.000 kelahiran hidup ada 302 angka kematian. Kalau jumlah absolutnya. Kalau angka kematian itu pembaginya,” jelas Syafiin S. Napu, SKM, M.Kes, Kepala Seksi Kesga, Pengendalian Penduduk, KB dan Gizi Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo.

Sementara target Pemerintah Provinsi Gorontalo untuk penurunan angka kematian di tahun 2018 adalah 298/100.000 kelahiran hidup.

Sehingga jumlah kematian dan angka kematian per 100.000 kelahiran hidup mengalami penurunan di tiap tahunnya.

Menurut pria yang sering disapa Apin itu bahwa beberapa langkah dilakukan Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo dalam menjalankan program tersebut berjalan baik.

Diantaranya pendampingan oleh mahasiswa kesehatan dan organisasi masyarakat seperti kelompok pengajian Al Hidayah dan Dasa Wisma kepada ibu hamil beresiko.

“Allhamdulillah sejak 2017 kami jalankan program pendampingan ibu beresiko ini, jumlah dan angka kematiannya menurun. Bahkan 2018 ada 500 ibu hamil beresiko yang menjadi sasaran kami untuk di dampingi dan ternyata itu berhasi,” kata Apin.

Masa pendampingan sendiri dilakukan selama 18 bulan. Dimana setiap ada ibu hamil beresiko, maka PKK atau mahasiswa yang berada di sekitar yang sudah ditugaskan akan melakukan kontrol.

“Namun mereka tidak melakukan tindakan. Yang memberikan tindakan adalah petugas bidan di wilayah tersebut. Mereka hanya melaporkan kondisi dari ibu hamil itu. Kami membekali para pendamping ini dengan rapor untuk ibu hamil beresiko,” sambungnya.

Kemudian, angka kematian bisa menurun karena adanya komunikasi dan sinkronisasi yang baik antar sesama petugas bidan se provinsi. Jaringan yang dibentuk dalam grup WhatsApp sangat membantu jika ada ibu hamil beresiko pindah domisili.

“Kita bisa mengetahui jika ada ibu hamil beresiko yang sering berobat di posyandu/puskesmas, kemudian ibu tersebut hilang atau sudah tidak disitu lagi. Maka bidan lain yang akan menginformasikan bahwa nama ibu tersebut berada di wilayah mereka. Itu akan terinformasi semua,” tuturnya.

Apin berharap program ini nantinya terus memberi dampak positif, khususnya dalam menekan angka kematian ibu/bayi di Provinsi Gorontalo. (ndi/gps)

Tim INFOKOM

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

sixteen − 1 =

scroll to top