Oleh: Anang S. Otoluwa
ULANG TAHUN, biasanya identik dengan menerima hadiah. Namun yang terjadi di Manna Hall kemarin (16/5), justru sebaliknya. Di hadapan para orang tua dan anak-anak penyandang gangguan pendengaran, Ibu Linda Djohan, memilih menjadikan hari bahagianya sebagai hari berbagi harapan.
Siapa Ibu Linda? Dia adalah istri dari Pak Lewis Brata, owner Nobel Audiology Center (Pusat Pelayanan dan Solusi Masalah Pendengaran) yang kini membuka cabang di Gorontalo. Mereka berdua datang ke Gorontalo, demi melihat langsung pertemuan sosialisasi gangguan pendengaran yang digelar bekerjasama dengan perhimpunan ahli THT.
Ternyata, pas di hari pertemuan itu, ibu Linda berulang tahun. Maka, saat didaulat untuk memberikan sepatah kata, tercetuslah ide mulia itu. Sebagai ungkapan rasa syukur, Ibu Linda menghadiahkan 10 set alat bantu dengar (ABD) bagi anak-anak yang membutuhkan.
Mungkin bagi sebagian orang, itu hanya angka: 10 ABD. Tetapi bagi keluarga penerima, itu adalah rahmat yang luar biasa. Bagi anak dengan gangguan pendengaran, ABD bukan sekadar perangkat elektronik. Ia adalah pintu menuju suara ibu yang memanggil namanya. Ia adalah kesempatan mendengar tawa teman-temannya. Ia adalah jembatan menuju komunikasi, pendidikan, dan rasa percaya diri.
Dan semua itu tidak murah. Satu alat bantu dengar, menurut dr. Ziad Ahmad, Sp.THT-BKL, bisa bernilai sekitar dua belas juta rupiah. Bahkan, menurut pengalaman ibu Yuni Usman (salah satu orang tua anak penyandang tuna rungu) bisa sampai 15 juta. Jadi pembaca sudah bisa mengira-ngira sendiri, berapa nilai hadiah yang diberikan ibu Linda tadi.
Hadiah ini sangat membantu perjuangan orang tua yang sedang mengusahakan anaknya bisa mendengar. Sebab, jangankan untuk membeli ABD, untuk pemeriksaan penilaian derajat ketulian saja (ASSR dan BERRA), banyak orang tua yang kesulitan. “Sekitar 90% orang tua belum sempat memeriksakan anak-anaknya karena kendala biaya”, jelas bu Yuni.
Tak heran bila saat diskusi, ibu Yuni meminta agar pemeriksaan ASSR dan BERRA kiranya dapat ditanggung BPJS. Banyak orang tua yang ingin memakaikan anaknya ABD, tapi minat itu terhambat karena biaya pemeriksaan saja mencapai 2 jutaan.
Di Australia, kata ibu Eka Kurnia Hikmat (nara sumber yang juga terapis wicara bersertifikat internasional), semua biaya ini ditanggung oleh negara. Bahkan, semua biaya perawatan sampai anak berumur 26 tahun. Di Indonesia belum seperti itu. Sehingganya, bagi banyak keluarga, biaya ini terasa terlalu membebani.
Meskipun demikian, tetap ada titik pengharapan. Di kota besar, dukungan terhadap penyandang tuna rungu ini tumbuh melalui yayasan, komunitas, organisasi sosial, hingga gerakan-gerakan kecil penuh empati. Mereka membantu bukan hanya dengan dana, tetapi juga dengan pendampingan, edukasi, dan penguatan mental bagi orang tua dan anak-anak.
Gorontalo pun membutuhkan lebih banyak tangan seperti itu. Sebab setiap anak berhak mendengar dunia.
Berhak mendengar azan yang memanggil ke masjid. Berhak mendengar gurunya mengajar di kelas. Berhak mendengar ucapan “Ibu sayang kamu.” Berhak tumbuh tanpa merasa berbeda.
Dan mungkin, perubahan besar memang harus dimulai dari hal sederhana: dari satu kepedulian, satu bantuan, satu hadiah ulang tahun.
Siang itu, Ibu Linda tidak hanya merayakan pertambahan usia. Ia sedang mengajarkan bahwa kebahagiaan paling indah bukanlah ketika menerima, melainkan ketika membuat orang lain kembali memiliki harapan.
Semoga semakin banyak hati yang tergerak, bersama-sama, membantu mereka yang tuna rungu. Sebab di luar sana, masih banyak anak-anak yang sedang menunggu untuk kembali bisa mendengar dunia.(*)
Sosial Media Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo :
Channel Youtube
Facebook Page
Facebook
Twitter
Instagram
