Oleh : Arman Saidi
Salam Sehat dari Sabua, Senin, 1 Juni 2026- Memasuki waktu syuruk, saya yang sedang menikmati kopi hitam racikan istri tercinta mendadak merasa seperti raja yang paling beruntung di dunia. Dengan penuh percaya diri sambil menyeruput kopi saya meminta istri untuk mengecek saldo M-Bankingnya sambil berkata, “bunda cantik, coba cek dulu saldo BSG!” tentu dia sudah mengerti bahwa gaji bulan kemarin saya sudah mendarat di rekningnya. Tidak menunggu lama layar HP-nya langsung disodorkan tepat di depan mata saya dan hampir menyenggol gelas kopi, sembari berucap “Huhh..harapan palsu” dengan wajah yang sedikit kecewa. Nampak nominal saldo pada tampilan interface BSGTouch miliknya. Seketika saya langsung mengerti, ini tanda bahwa gaji saya belum masuk ke rekening istri. Ini kali ke-2 gaji suami ke istri mengalami kendala, walaupun di daftar mutasi M-Banking saya sudah ada keterangan berhasil didebet ke rekening istri.
Sebagai seorang pekerja, gaji atau upah hasil usaha setelah melaksanakan tugas sebulan penuh dapat diumpamakan seperti nyawa untuk keluarga. Walau pun saya sadari masalah seperti ini tidak butuh waktu lama untuk diatasi. Hanya saja ketika kejadian ini bukan kali pertama terjadi, pasti dampaknya sedikit demi sedikit mampu mengikis semangat dan harapan pekerja. Kemudian setelah ditelusuri, ternyata tidak hanya saya yang mengalami hal seperti ini. Beberapa teman kerja lainnya juga mengalaminya dan mereka juga mengeluhkan hal yang serupa. Namun untuk menghilangkan overthingking kami, saya pun melontarkan candaan kepada mereka dengan menanyakan “Aduh, rekening istri yang mana ini pak?”. Kemudian saya lanjutkan dengan memberi motivasi, “Alhamdulillah masih ada yang dapat diharapkan, karena kalau sudah pensiun kita tidak akan dapat gaji seperti pensiunan PNS”. Dari sinilah kemudian saya teringat Om Utam sosok yang sepintas mirip Pierluigi Collina, wasit legendaris yang iconik. Tapi dia tidak seseram Collina yang hampir tak pernah senyum saat di lapangan hijau. Namun, bapak berkepala plontos yang satu ini lebih santai dan penuh aura positif dibanding Collina.
Yah, tepat tanggal 1 Juni 2026 menjadi penanda berakhirnya satu babak penuh kenangan pengabdian panjang seorang Aparatur Sipil Negara di Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo. Setelah sekitar 20 tahun lamanya mengabdi, Zamir Abdussamad atau yang lebih akrab kami sapa Om Utam resmi memasuki masa purna tugas. Namun bagi kami yang pernah berinteraksi bersama beliau, sulit membayangkan lorong kantor tanpa kehadiran sosok berkepala plontos yang selalu hadir dengan senyum sumringahnya, seolah setiap hari adalah hari baik yang patut disyukuri.
Om Utam bukan tipikal pegawai yang sibuk mencari panggung, barangkali dialah panggungnya, hahahaha. Justru kesederhanaannya yang membuat banyak orang mudah untuk selalu mengenangnya. Beliau ramah kepada siapa saja, murah hati dalam membantu teman, dan tidak pernah terlihat pelit membagikan hal positif. Ada satu kebiasaan yang sangat melekat dalam ingatan saya dan mungkin mereka yang sering bergaul dengan Om Utam, yaitu kebiasaan mengajak orang sholat. Ketika adzan belum berkumandang di musholah kantor, padahal jam sudah menunjukkan masuk waktu sholat dzuhur atau ashar, beliau akan berkeliling mengingatkan, “Wei, adzan kasana jo!” Lucunya, karena beliau sendiri merasa suaranya kurang merdu, maka beberapa diantara kami sering ditunjuk secara sukarela untuk mengumandangkan azan. Beliau orang yang mengajak, kami yang bertugas, kira-kira begitu gambarannya. Sebuah pembagian tugas yang tidak masuk pada laporan e-kinerja dan sampai sekarang masih menjadi bahan candaan di antara kami.
Begitulah orangnya, di balik penampilannya yang sederhana, Om Utam juga dikenal sebagai pribadi humoris, baru melihat senyumnya saja kami seolah diajak tertawa lepas hingga lupa akan beban tugas yang menanti untuk direalisasikan. Tingkah usilnya sering muncul di sela kesibukan kantor, tetapi selalu masih dalam batasan yang membuat orang tertawa tanpa membuat hati tersinggung. Kehadirannya sering menjadi penyejuk suasana ketika pekerjaan sedang menumpuk. Menurut ilmu psikologi, kemampuan seperti ini dikenal sebagai bagian dari kecerdasan emosional, yaitu kemampuan membangun hubungan sosial yang positif, menciptakan kenyamanan dalam interaksi, dan memahami suasana hati orang lain. Tanpa banyak teori yang beliau ucapkan, Om Utam justru mempraktikkannya setiap hari dalam kehidupan kerja.
Salah satu kenangan yang paling membekas bagi saya selain beliau adalah sosok pemimpin apel yang legend. Adalah terjadi pada tahun 2012, kala itu kami sama-sama melaksanakan perjalanan dinas ke Jakarta. Waktu itu saya masih berstatus tenaga honorer di Sub Bagian Perencanaan, sedangkan Om Utam sudah menjadi PNS. Kondisi kantong kami saat itu bisa dibilang sedang tidak bersahabat. Selama berada di Jakarta, agenda kami lebih banyak diisi dengan kegiatan dinas (yah, walaupun tidak banyak) dibandingkan jalan-jalan. Jangankan membeli oleh-oleh, menikmati tempat wisata saja kami harus berpikir berkali-kali. Kami hanya bisa melihat mall-mall dari kejauhan sambil sesekali berkhayal menjadi wisatawan yang dompetnya lebih tebal.
Klimaksnya terjadi saat hari kepulangan. Ketika taksi menuju bandara sudah dipesan dan koper siap diangkut, barulah uang perjalanan dinas kami cair. Bayangkan, setelah berhari-hari hidup hemat dan menahan diri untuk tidak belanja, uang justru datang ketika pesawat hampir membawa kami pulang ke Gorontalo. Endingnya kami pun pulang dengan kantong berisi uang tunai, tetapi tanpa oleh-oleh, tanpa foto-foto wisata, dan tanpa cerita belanja. Sampai hari ini, kenangan itu masih menjadi salah satu kisah lucu bersama beliau yang selalu mengundang tawa kecil ketika dikenang kembali.
Kini Om Utam telah menuntaskan tugas sebagai abdi negara, tetapi nilai-nilai yang beliau tinggalkan akan terus hidup di hati kami. Dari beliau kami belajar bahwa penghormatan tidak selalu lahir dari jabatan yang tinggi, melainkan dari sikap yang baik. Bahwa kecerdasan emosional bukan hanya teori dalam buku, melainkan kemampuan untuk tetap ramah, rendah hati, suka menolong, mengingatkan dalam kebaikan, dan membuat orang lain merasa nyaman berada di sekitar kita. Walau pun tulisan ini terlambat dibuat, setidaknya bisa menjadi memoar saya bersama Om Utam.
Selamat memasuki masa purna tugas, Om Utam. Pengabdian di catatan SK boleh berakhir sesuai aturan negara, tetapi keteladanan dan jejak kebaikan tidak mengenal kata pensiun. Semoga kami yang tidak lama lagi akan berakhir masa tugas dapat memberikan cerita yang baik seperti yang ditorehkan Om Utam. Bedanya Om Utam pensiun masih bisa terima gaji, tapi kami yang terikat waktu 5 tahunan berbeda. Sehingganya kalau gaji kami terus bermasalah, ini akan membuat kami merasa makin kehilangan harapan. Jadi, apakah benar Om Utam mirip Collina?
Sosial Media Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo :
Channel Youtube
Facebook Page
Facebook
Twitter
Instagram
