Lebih Penting Agama Atau Sehat?

WhatsApp-Image-2022-04-25-at-09.43.32.jpeg

Masjid Al-Jawwal Pramuli arti: Penjelajah Pramuka Peduli Kwarda Gorontalo di Puncak Waolo, Molotabu, Bone Bolango Gorontalo, dihiasi air terjun yang menakjubkan.

Oleh: Dr. Arifasno Napu, SSiT, MKes*
Salam Gizi;
“Sehat Melalui Makanan”

“Selamat Labaran 1 Syawal 1443 H, Mohon Maaf Lahir dan Bathin”

Manakah yang lebih penting dalam kehidupan ini, agama atau sehat?  Sudah hampir seribuan yang menjawabnya dengan cepat dan sangat yakin bahwa yang lebih penting itu adalah agama. Kalau begitu bagaimana yang tidak sehat seperti orang gila, apakah dia butuh agama? Tentunya orang gila tidak butuh agama sehingga sehatlah yang lebih penting daripada agama?…

Itulah pertanyaan dan jawaban yang sederhana namun membutuhkan kebersamaan interpretasi dalam berpikir sekaligus bertindak guna memahami tentang agama dan sehat. Sejatinya untuk menjawabnya dapatlah dirasionalisasikan bahwa dalam ajaran sehat belum tentu atau bahkan tidak mengajarkan ajaran agama, namun dalam ajaran agama Islam sudah pasti membelajarkan ajaran agama juga ada pembelajaran tentang sehat seperti upaya-upaya menjadikan orang yang sehat tetap sehat secara fisik, mental spiritual maupun sosial atau tentang bagaimana orang sakit bisa sembuh dan sehat.

Tidak sedikit hasil-hasil penelitian di alam dunia ini tentang upaya-upaya mencegah berbagai macam penyakit ataupun upaya-upaya pengobatannya tetapi tidak berlaku untuk di negara penemu itu sendiri. Sebagai contoh: banyak penelitian yang dilakukan oleh para ahli yang ada di negara-negara hebat tentang penyakit degeneratif (penyakit jantung, diabetes mellitus, ginjal, hepar, dll) termasuk upaya-upaya untuk mencegah faktor resikonya seperti obesitas namun kenyataannya malah di negara tersebut yang banyak kejadian penyakit dan obesitas di maksud?

Sesungguhnya, bila kita mau mencari panutan dalam hidup sehat maka pasti akan berpedoman atau berkiblat pada orang yang sehat dan bahkan tidak sakit-sakit. Pertanyaannya, siapakah yang bisa menjadi panutan tersebut dan apakah selama hidupnya dia tidak sakit-sakit dan bila dia sakit dalam hidupnya adakah yang hanya 2 (dua) kali sakit?

Dalam sejarah umat manusia bahwa para nabi dan rasul adalah orang yang istimewa dalam hidupnya termasuk status kesehatannya. Nabi Muhammad SAW merupakan seorang kepala rumah tangga, pemimpin negara yang tentunya aktivitas yang dilakoni sangat tinggi, akan tetapi selama hidupnya Rasulullah SAW hanya mengalami 2 kali sakit. Kalau begitu, mengapa kita harus melakukan atau menerapkan hasil-hasil penelitian atau temuan-temuan yang dilakukan oleh orang-orang yang dalam hidupnya sering-sering sakit?

Ternyata sangat sederhana perilaku hidup untuk mencapai derajat kesehatan lahiriah, bathiniah, sosial bahkan spiritual yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Tidak lain adalah mempraktikkan perilaku hidup bersih dan sehat. Diantaranya berpuasa agar sehat seperti Puasa Ramadhan maupun puasa sunat hari Senin dan Kamis, berpuasa karena nazar, puasa Nabi Daud AS yaitu sehari puasa sehari tidak puasa; Makan makanan yang halal dan baik (meliputi: alami, beragam, bergizi, berimbang, aman dan menyehatkan); makan di saat lapar dan berhenti sebelum kenyang yang terimplikasi pada kemampuan memadukan antara napsu dan keimanan seperti mampu membagi isi perut menjadi 3 (tiga) bagian yakni untuk makanan, air dan udara; mengunyah makanan 33 kali dalam sekali telan; tidak mengkonsumsi makanan yang sangat panas apalagi harus ditiup-tiup terlebih dahulu; dll.

Sangat ironis, ketika pasca lebaran tidak sedikit kejadian yang menimpa umat Islam yang masuk rumah sakit karena masalah minuman dan makanan. Bisa karena jumlah yang dikonsumsinya berlebihan, frekuensi mengkonsumsinya terlalu tinggi, jenis yang dionsumsinya tidak sesuai, keamanan minuman dan makanan yang tidak terjamin, dll. Ini terjadi pada semua kalangan dan banyak dari kalangan yang berpendidikan dan berpendapatan terbatas bahkan rendah. Akibatnya, sudah hidup dalam kesulitan dan menjadi beban pribadi, keluarga, bangsa dan negara.

Ketika ditanyakan pada setiap orang bila mengkonsumsi minuman dan makanan bersoda, apakah anda merasakan perut kembung? Penulis menemukan jawabannya adalah bahwa benar-benar perut mereka merasakan kembung. Selanjutnya, “saat perut kembung apakah anda merasakan nyaman”? Semua jawabannya menyatakan bahwa tidak nyaman.

Pertanyaan selanjutnya “berdosakah kita, menyuguhkan minuman dan makanan yang diketahui menyebabkan ketidaknyamanan bahkan bisa menyebabkan penyakit akut maupun kronis pada orang yang mengkonsumsinya termasuk pada Hari Lebaran atau Hari Raya Umat yang bukan Muslim? Bukankah paling banyak suguhannya untuk anak-anak, atau bisa saja suguhan itu pada orang yang berpenyakit tertentu tetapi tidak diketahuinya seperti maag (gastritis), penyakit jantung, diabetes mellitus, ginjal, dll?

Inilah dudukannya bahwa begitu penting memiliki agama yang membelajarkan tentang ajaran kebaikan dan kebenaran agama itu sendiri, juga membelajarkan tentang kesehatan secara lahir, batin, sosial dan spiritual. Semoga tulisan ini bermanfaat karena menyampaikan kebaikan dalam kebenaran yang rasional dan ilmiah. Bersama Berkarya Sebagai Ibadah, Amiin.

Salam Gizi!!!
“Sehat Melalui Makanan”

*Pengamat Gizi dan Kesehatan. Mengajar Ilmu Gizi, Kesehatan, Olahraga, Budaya di Perguruan Tinggi, Anggota Pengurus ISNA (Indonesia Sport Nutritionist Association), Ketua Pergizi Pangan Indonesia Gorontalo,  Wakil Ketua Kwarda Gorontalo, Pembina DPD PERSAGI Gorontalo, Ketua Yayasan Makanan dan Minuman Indonesi (YAMMI), Dosen Poltekkes Gorontalo.

2 Replies to “Lebih Penting Agama Atau Sehat?”

  1. Hasan Djamaini berkata:

    Sangat setuju.
    memang manusia tdk menyadari bahwa makanan dan minuman yg sudah di olah terutama minuman bersoda yg dapat menyebabkan perut kembung akan mengurangi nafsu makan dalam tanda kutip sy sendiri sudah pernah mengalami perut kembung olenya itu setiap yg mengonsumsi minuman tersebut pasti akan mengalami hal yang sama apalagi dgn adanya fariasi warna dalam setiap minuman justru lebih membahayakan tubuh kita terutama perut yg akan menjafi suber penyakit.

  2. Hasan Djamaini berkata:

    Sudah pasti kita berdosa ketika menyuguhkan makanan dan minuman yang mengandung soda karena dapat merusak organ tubuh kita terutama perut sebagai sumber makanan dan juga sumber penyakit olehnya itu mari kita mengonsumsi makanan tradisional yg alami.

Tinggalkan Balasan ke Hasan Djamaini Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

seventeen − thirteen =

scroll to top