Kota Gorontalo, DinkesP2KB – Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Provinsi Gorontalo terus memperkuat implementasi Posyandu 6 Standar Pelayanan Minimal (SPM) melalui kegiatan Pendampingan Surveilans dan Evaluasi Program Gizi dan KIA dalam Pelayanan Kesehatan dan Gizi Keluarga yang dilaksanakan di Hotel Amaris Kota Gorontalo selama dua hari 21 – 22 Mei 2026.
Kegiatan tersebut diikuti oleh pengelola program gizi dan Posyandu kabupaten/kota, petugas Puskesmas, kader Posyandu desa pilot project, serta lintas program terkait. Fokus utama kegiatan diarahkan pada penguatan pelayanan kesehatan dan gizi keluarga, khususnya sasaran keluarga 1000 Hari Pertama Kehidupan (1000 HPK) sebagai upaya percepatan penurunan stunting di Provinsi Gorontalo.
Pelaksanaan kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari Roadshow Monitoring dan Implementasi Posyandu 6 SPM yang sebelumnya dilakukan oleh Tim Pembina Posyandu Provinsi Gorontalo di sejumlah wilayah pilot project Posyandu 6 SPM. Dari hasil monitoring tersebut ditemukan masih perlunya penguatan kapasitas kader dan petugas kesehatan, terutama dalam surveilans gizi, pengukuran status gizi, pencatatan dan pelaporan program, hingga sinkronisasi data sasaran antara Posyandu, desa, dan Puskesmas.
Salah satu materi utama dalam kegiatan tersebut adalah Analisis Hasil Monitoring Posyandu Percontohan yang dibawakan oleh Ketua Tim Kerja Pencegahan dan Percepatan Penurunan Stunting Dinkes P2KB Provinsi Gorontalo, Yustiyanty Monoarfa.
Dalam pemaparannya, Yustiyanty menegaskan bahwa kualitas data dan hasil monitoring Posyandu menjadi faktor penting dalam menentukan arah intervensi program percepatan penurunan stunting.
“Posyandu merupakan garda terdepan dalam pemantauan tumbuh kembang anak dan pencegahan stunting. Karena itu, kualitas data, ketepatan pengukuran status gizi, serta tindak lanjut terhadap sasaran risiko harus benar-benar diperkuat agar intervensi yang dilakukan tepat sasaran dan memberikan dampak nyata bagi keluarga 1000 HPK,” ujar Yustiyanty.
Ia juga menambahkan bahwa kader Posyandu memiliki peran strategis dalam mendampingi keluarga sasaran secara berkelanjutan.
“Kader Posyandu tidak hanya melakukan penimbangan, tetapi juga harus mampu melakukan pemantauan, edukasi, kunjungan rumah, hingga memastikan sasaran berisiko mendapatkan tindak lanjut pelayanan dan rujukan yang tepat,” tambahnya.

Materi yang diberikan dalam kegiatan tersebut meliputi analisis capaian pelayanan Posyandu, identifikasi masalah gizi dan sasaran risiko, standar pengukuran antropometri balita dan ibu hamil, tata cara pencatatan dan pelaporan program, hingga penyusunan rencana tindak lanjut pelayanan Posyandu.
Peserta juga memperoleh pembekalan terkait sinkronisasi data sasaran B3 antara desa dan Puskesmas agar intervensi program dapat dilakukan secara tepat sasaran dan berbasis data yang valid.
Dalam sesi praktik, para kader Posyandu melakukan penimbangan dan pengukuran status gizi sesuai standar yang dipandu langsung oleh Tim Kerja Pencegahan dan Percepatan Penurunan Stunting Provinsi Gorontalo. Peserta juga bersama-sama melakukan analisis hasil monitoring Posyandu percontohan untuk mengidentifikasi berbagai persoalan pelayanan di lapangan, seperti ketidaksesuaian data sasaran, rendahnya cakupan pelayanan, kesalahan pengukuran, hingga keterlambatan pelaporan program.
Selain itu, peserta bersama tim provinsi menyusun Rencana Tindak Lanjut (RTL) yang akan diterapkan di wilayah kerja masing-masing. Dalam RTL tersebut disepakati pembagian tanggung jawab kader Posyandu dalam pendampingan sasaran keluarga 1000 HPK secara khusus, sehingga pemantauan status gizi, kunjungan rumah, dan tindak lanjut sasaran risiko dapat dilakukan lebih optimal dan berkelanjutan.
Sebagai bentuk motivasi dan apresiasi, kader Posyandu yang berhasil menurunkan angka masalah gizi pada sasaran dampingan seperti stunting, gizi kurang, wasting, maupun risiko Kekurangan Energi Kronis (KEK) pada ibu hamil juga akan diberikan penghargaan.
Adapun sejumlah tindak lanjut yang akan dilakukan meliputi validasi dan sinkronisasi data sasaran B3 antara Posyandu, desa, dan Puskesmas, peningkatan kualitas pengukuran antropometri, pemantauan rutin sasaran risiko gizi dan stunting, kunjungan rumah bagi sasaran berisiko, penguatan pencatatan dan pelaporan program, pembinaan kader secara berkala, serta peningkatan koordinasi lintas program dan lintas sektor dalam mendukung pelayanan Posyandu 6 SPM.
Melalui kegiatan ini, Dinkes P2KB Provinsi Gorontalo berharap kualitas pelayanan Posyandu semakin meningkat, data sasaran semakin valid dan terintegrasi, serta kader dan petugas kesehatan semakin siap mendukung percepatan penurunan stunting di Provinsi Gorontalo.
Rilis : ILB
Editor : MD
Sosial Media Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo :
Channel Youtube
Facebook Page
Facebook
Twitter
Instagram
