Kota Gorontalo, Dinkesprov – Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo melaksanakan Pertemuan Sosialisasi Rencana Aksi dan Target Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak (GKIA) Tahun 2026 yang diikuti oleh seluruh Dinas Kesehatan kabupaten/kota serta Puskesmas se-Provinsi Gorontalo. Kegiatan yang digelar secara daring melalui Zoom Meeting ini bertujuan menyamakan persepsi sekaligus memperkuat strategi implementasi program pada tahun 2026.
Pertemuan tersebut difokuskan pada peningkatan capaian indikator program Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), termasuk percepatan penurunan Angka Kematian Ibu (AKI), Angka Kematian Bayi (AKB), serta prevalensi stunting. Sinkronisasi rencana aksi dari tingkat provinsi hingga puskesmas sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan menjadi poin strategis dalam forum ini.
Kegiatan dibuka oleh Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Provinsi Gorontalo, Anang S. Otoluwa, yang menegaskan bahwa keberhasilan target 2026 sangat ditentukan oleh soliditas kerja tim dan integrasi lintas program.
“Tahun 2026 harus menjadi momentum akselerasi. Kita tidak bisa lagi bekerja secara parsial. Seluruh tim kerja—baik penurunan AKI-AKB, percepatan penurunan stunting, maupun Usekrem—harus bergerak dalam satu orkestrasi yang sama, berbasis data dan berorientasi pada hasil nyata di lapangan,” tegas Anang.
“Puskesmas adalah garda terdepan. Jika perencanaan kita tajam, intervensi tepat sasaran, dan pengawasan berjalan konsisten, maka target indikator kesehatan ibu dan anak dapat kita capai secara terukur,” tambahnya.
Dalam sesi pemaparan materi, dibahas sejumlah agenda strategis, antara lain Rencana Aksi dan Target Tim Kerja Penurunan AKI dan AKB Tahun 2026, Rencana Aksi dan Target Tim Kerja Percepatan Penurunan Stunting, Rencana Aksi dan Target Tim Kerja Usia Sekolah Anak dan Remaja (Usekrem), serta penguatan komitmen bersama seluruh kabupaten/kota.
Sementara itu, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Syafiin S. Napu menekankan pentingnya perencanaan yang berbasis evidence dan sistem monitoring yang disiplin.
“Setiap target harus ditopang oleh data yang valid, by name by address, serta dianalisis secara berkala. Monitoring dan evaluasi bukan sekadar administrasi, tetapi instrumen kendali mutu pelaksanaan program,” ujar Syafiin.
Ia juga menambahkan, Pendekatan kolaboratif lintas sektor menjadi prasyarat utama agar penurunan stunting dan perbaikan status gizi dapat berlangsung signifikan dan berkelanjutan di seluruh kabupaten/kota.
Peserta yang terdiri dari penanggung jawab program Gizi, KIA, Usekrem, Komdat, MPDN, serta Tim Kerja Percepatan Penurunan Stunting menunjukkan komitmen bersama untuk memperkuat koordinasi, integrasi program, serta pengawasan implementasi di lapangan.
Melalui kegiatan ini, diharapkan seluruh jajaran kesehatan di Provinsi Gorontalo memiliki langkah yang selaras, terukur, dan akuntabel dalam mencapai target indikator kesehatan ibu dan anak Tahun 2026, sekaligus mempercepat terwujudnya generasi Gorontalo yang sehat, unggul, dan bebas stunting.
Rilis : ILB
Editor : MD
Sosial Media Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo :
Channel Youtube
Facebook Page
Facebook
Twitter
Instagram
