Oleh: Anang S. Otoluwa
Pernah dengar istilah Ramadaniyun? Saya juga baru mendengarnya kemarin, saat buka puasa bersama IDI Wilayah Gorontalo, di tepi kolam renang Azlea Covention Center. Saat berceramah menjelang buka, Ustaz Munkizul Umam Kau mengingatkan hadirin agar berhati-hati. Jangan sampai setelah Ramadan ini, kita mendapat julukan: Ramadaniyun.
Sekilas, istilah ini terdengar seperti nama kelompok penggemar Ramadan. Seolah-olah seperti Madridista bagi penggemar Real Madrid, Cules bagi pendukung FC Barcelona, atau Slankers bagi penggemar Slank.
Namun makna Ramadaniyun justru bukan pujian, melainkan sindiran. Istilah ini merujuk pada orang yang sangat religius pada bulan Ramadan, tetapi memudar setelah bulan suci itu berlalu.
Pada bulan Ramadan, masjid penuh. Orang berbondong-bondong melaksanakan salat berjamaah. Tadarus Al-Qur’an terdengar di mana-mana, bahkan di sela-sela rapat atau pekerjaan di kantor. Sedekah dan infak pun mengalir deras. Lidah dijaga dari kata-kata kasar.
Namun ketika Ramadan pergi, sebagian orang kembali pada kebiasaan lama. Salat mulai ditunda-tunda, bahkan ditinggalkan. Al-Qur’an kembali tertata rapi di rak. Sedekah menjadi jarang. Kesabaran yang dulu dijaga kembali hilang.
Di saat inilah, seseorang tanpa sadar bisa menjadi Ramadaniyun. Atau Muslim yang saleh hanya pada musim Ramadan. Atau Muslim musiman.
Padahal Ramadan bukanlah tujuan akhir. Kata Usatz, Ramadan adalah sekolah kebaikan. Ia mendidik manusia selama sebulan penuh agar lahir kebiasaan baik yang terus hidup setelahnya.
Puasa melatih pengendalian diri. Salat malam menumbuhkan kedekatan dengan Allah. Sedekah melatih empati kepada sesama.
Jika semua itu berhenti setelah Ramadan, berarti pelajaran yang diberikan oleh bulan suci itu tidak berhasil.
Dalam Islam, tambah Ustaz yang juga doktor di bidang filsafat itu, penilaian sukses tidaknya ibadah seseorang, bukan pada saat ibadah itu dilakukan, melainkan pada dampaknya sesudah ibadah dilaksanakan.
Salat, misalnya. Ia dinilai bukan pada saat berdiri, rukuk, dan sujud lima kali sehari. Salat seharusnya melahirkan akhlak yang lebih baik: kejujuran, kesabaran, dan ketenangan. Puasa bukan hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan amarah, menjaga lisan, dan menumbuhkan empati kepada orang yang kekurangan.
Dengan kata lain, Allah tidak hanya menilai saat kita beribadah, tetapi bagaimana ibadah itu membentuk perilaku kita setelahnya.
Jika seseorang rajin salat tetapi masih mudah menzalimi orang lain, maka salatnya belum benar-benar membentuk dirinya. Jika seseorang berpuasa tetapi tetap mudah marah dan menyakiti orang lain, maka puasa itu belum mencapai tujuannya.
Ramadan seharusnya melahirkan manusia yang lebih sabar, lebih dermawan, dan lebih dekat dengan Al-Qur’an sepanjang tahun.
Karena itu, ukuran keberhasilan Ramadan sebenarnya baru terlihat setelah Ramadan berlalu.
Apakah masjid masih kita datangi?
Apakah Al-Qur’an masih kita baca?
Apakah infak/sedekah masih kita lakukan?
Apakah akhlak kita tetap terjaga?
Jika iya, maka Ramadan telah berhasil mendidik kita. Namun jika semua kembali seperti sebelum Ramadan, mungkin kita telah menjadi Ramadaniyun.
Padahal yang diharapkan dari seorang Muslim bukanlah menjadi Ramadaniyun, melainkan menjadi Rabbaniyun, atau orang yang hidupnya selalu terhubung dengan Allah. Bukan hanya di bulan Ramadan, tetapi sepanjang waktu.
Istilah Rabbaniyun merujuk pada manusia yang menjadikan Tuhan sebagai pusat hidupnya: belajar karena Allah, bekerja karena Allah, berbuat baik karena Allah, dan menahan diri dari keburukan karena Allah.
Bagi seorang Rabbani, Ramadan bukan satu-satunya waktu untuk beribadah, melainkan momentum untuk memperkuat kebiasaan baik yang terus hidup sepanjang tahun.
Sebab Tuhan yang kita sembah di bulan Ramadan adalah juga Tuhan di bulan Syawal, Dzulqa’dah, Muharram, dan seluruh bulan lainnya.
Bapak/Ibu, Ramadan 1447 H sebentar lagi akan usai. Tak usah ribut mau lebaran tanggal 20 atau 21. Tak usah pusing karena belum punya kue dan baju baru. Inilah saatnya kita merenung, apakah mau jadi Ramadaniyun atau Rabbaniyun.
Wallahu a’lam bish-shawab. (*)
Sosial Media Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo :
Channel Youtube
Facebook Page
Facebook
Twitter
Instagram
