Kemenkes Dukung Penguatan Surveilans Faktor Risiko Penyakit Virus Hanta di Gorontalo

IMG-20250913-WA0015.jpg

Tim dari Kemenkes menyaksikan proses pembedahan spesimen tikus di Puskesmas Pilolodaa Kecamatan Kota Barat Kota Gorontalo.

Kota Gorontalo, Dinkesprov – Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) memberikan dukungan teknis dalam penguatan surveilans faktor risiko penyakit virus Hanta di Provinsi Gorontalo. Dukungan ini diberikan sebagai respon atas temuan kasus yang mengarah pada penyakit virus Hanta, yang memiliki gejala mirip dengan Leptospirosis, Dengue, Demam Tifoid dan Rickettsiosis.

Tim Kerja Surveilans dan Intervensi Penyakit Infeksi Emerging Kemenkes RI, Chita Septiawati, mengungkapkan bahwa upaya ini dilakukan untuk meningkatkan kewaspadaan dini dan memperkuat deteksi kasus.

“Penyakit virus Hanta merupakan penyakit infeksi emerging yang perlu diwaspadai. Mengingat adanya laporan kasus Leptospirosis di Gorontalo sejak tahun 2024 dan temuan tikus di sekitar rumah kasus, penting bagi tenaga kesehatan untuk mempertimbangkan pemeriksaan suspek penyakit virus Hanta,” ujarnya.

Sebagai tindak lanjut, Kemenkes RI mengoordinasikan serangkaian kegiatan, antara lain sosialisasi kepada klinisi di Puskesmas, rumah sakit, dan klinik, pelaksanaan On The Job Training (OJT) pengambilan spesimen paru tikus di kelurahan Lekobalo Kecamatan Kota Barat Kota Gorontalo, pendampingan laboratorium, serta analisis data penyakit yang berpotensi mengarah pada temuan kasus Hanta.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo melalui Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Jeane Dalie menyampaikan apresiasi atas dukungan Kemenkes RI.

“Kami terus meningkatkan kewaspadaan, melakukan penyelidikan epidemiologi, dan menyiapkan tenaga kesehatan untuk dapat melakukan pemeriksaan spesimen tikus. Langkah ini penting agar deteksi penyakit virus Hanta dapat lebih cepat dan tepat,” jelasnya.

Kegiatan penguatan surveilans ini berlangsung pada 10–12 September 2025 dan melibatkan Dinas Kesehatan Provinsi dan Kota Gorontalo, RSUD Prof. Dr. H. Aloei Saboe, Balai Besar Laboratorium Kesehatan Lingkungan Salatiga, Balai Kekarantinaan Kesehatan, serta RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso.

Dengan dukungan ini, diharapkan kapasitas deteksi dan penanganan penyakit virus Hanta di Gorontalo semakin kuat, sehingga risiko penularan di masyarakat dapat ditekan dan kesehatan masyarakat tetap terjaga.

Rilis : Nangsih/ILB
Foto : Lani
Editor : Nancy Pembengo/MD

Sosial Media Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo :
Channel Youtube
Facebook Page
Facebook
Twitter
Instagram

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

4 + 20 =

scroll to top
Bahasa »