Oleh: Anang S. Otoluwa
SUDAH lama saya tidak menerima hadiah dari pasien. Dulu, ketika masih bertugas di puskesmas, hal seperti itu terasa biasa. Ada yang datang membawa ikan, mangga, ayam, bahkan pernah sebidang tanah ditawarkan sebagai tanda terima kasih. Saya apresiasi hadiah itu, bukan karena nilai bendanya, tetapi karena kehangatan hubungan antara tenaga kesehatan dan masyarakat yang terbangun dari rasa saling percaya.
Karena itu, ketika kali ini kembali menerima hadiah dari seorang pasien, saya justru merasa janggal. Pasien tersebut datang dari Luwuk untuk menjalani operasi ginjal. Hadiah itu disampaikan melalui Lukita Tomayahu.
Saya tidak tahu alasannya memberikan hadiah. Mungkin ia merasa terbantu. Mungkin juga merasa diperhatikan lebih dari yang ia bayangkan sebelumnya.
Memang, beberapa waktu sebelum dirawat, pasien ini sempat bercerita kepada saya. Masa cuti dua minggu yang dimilikinya tidak cukup untuk menjalani pengobatan di Gorontalo, sehingga dia harus bolak balik Luwuk untuk memperpanjang cutinya. Prosedur yang panjang, antrean yang harus dilalui, dan kecemasan menghadapi operasi membuatnya lelah bahkan sebelum perawatan dimulai.
Karena itu, saya hanya menitipkan satu pesan kepada Lukita: “Perlakukan pasien ini sebaik-baiknya.”
Lukita menerjemahkan pesan ini dengan baik. Sehari sebelum pasien masuk ruang rawat, kamar sudah dipastikan siap oleh Lukita. Dia bahkan datang ke RS untuk mengecek langsung. Dia juga menuliskan kalimat “Selamat datang ….(nama pasien). Semoga Lekas Sembuh,” di secarik kertas, lalu diletakkan di dekat tempat tidur pasien. Lukita telah meminta juga nomor hp keluarga pasien agar mudah dihubungi.
Ini merupakan hal kecil, sederhana, dan mungkin dianggap sepele dalam rutinitas rumah sakit yang sibuk.
Namun ternyata, perhatian kecil itulah yang paling diingat pasien.
Bagi orang sehat, perhatian mungkin dianggap sekadar basa-basi. Tetapi bagi orang yang sedang sakit, perhatian adalah penguat harapan. Di tengah rasa takut, nyeri, dan ketidakpastian, sapaan hangat, kesiapan kamar, atau sekadar kalimat selamat datang itu bisa mengubah perasaan seseorang dari cemas menjadi tenang. Ia merasa dilihat, dihargai, dan tidak sendirian.
Seringkali kita mengira bahwa pelayanan terbaik di rumah sakit hanya diukur dari kecanggihan alat, kecepatan tindakan, atau keberhasilan prosedur medis. Padahal, ada dimensi lain yang tidak kalah penting, yakni kemanusiaan. Perhatian yang tulus tidak membutuhkan biaya besar, tetapi dampaknya bisa sangat dalam.
Hadiah yang saya terima kali ini lebih pantas buat Lukita. Ini bukan sekadar pemberian pasien. Ini adalah pengingat bahwa dalam pelayanan kesehatan, yang paling diingat pasien bukan hanya obat yang diberikan atau operasi yang dilakukan, melainkan bagaimana ia diperlakukan sebagai manusia.
Semoga kisah ini mengingatkan kita semua bahwa setiap tenaga kesehatan memiliki kesempatan yang sama untuk menghadirkan kesembuhan. Bukan hanya melalui ilmu dan keterampilan, tetapi juga melalui perhatian. Seringkali, perhatian kecil dari kita menjadi harapan besar bagi mereka yang sedang berjuang untuk sembuh.(*)
Sosial Media Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo :
Channel Youtube
Facebook Page
Facebook
Twitter
Instagram
