GHPR : Untung Bu Nova Belum Pulang

WhatsApp-Image-2026-07-17-at-08.29.45.jpeg

Pelayanan pasien dengan gigitan anjing di Puskesmas Dumboraya Kota Gorontalo Kota Gorontalo.

Oleh : Arman Saidi (Epidemiolog Kesehatan Ahli Pertama)

Salam Sehat dari Sabua, Kamis/16 Juli 2026- Sore tadi, di penghujung jam kerja, ketika kami sedang bersiap pulang ke rumah, Komandan Adit Security di kantor datang mengantarkan seorang ibu paruh baya bersama putri remajanya dan seorang anak laki-laki berusia sekitar 7 tahun ke Ruang Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2) Dinas Kesehatan PPKB Provinsi Gorontalo.

Dengan wajah cemas, sang ibu menceritakan bahwa anaknya baru saja digigit anjing saat bermain di sekitar kompleks rumah pada siang hari. Mereka telah berusaha mencari pertolongan dengan mendatangi Puskesmas setempat. Namun sayangnya, saat tiba di sana pelayanan sudah tutup karena jam kerja telah berakhir. Tidak ingin mengambil risiko, mereka kemudian menuju salah satu rumah sakit swasta. Harapan itu pun kembali pupus karena vaksin anti rabies (VAR) tidak tersedia. Petugas rumah sakit akhirnya menyarankan agar mereka datang ke Dinas Kesehatan Provinsi.

Sesampainya di kantor Dinas Kesehatan, mereka langsung disambut dengan baik oleh petugas keamanan yang kemudian mempertemukan mereka dengan pengelola Program Rabies, Ibu Novariany Nasibu. Syukur alhamdulillah, meskipun jam kerja telah usai, beliau masih berada di kantor menyelesaikan pekerjaannya. Tanpa menunda waktu sedikit pun, Bu Nova segera berkoordinasi dengan Puskesmas terdekat yang menjadi Rabies Center agar pasien segera mendapatkan pelayanan.

Fast Respons alias gercep, koordinasi mantul, dan dedikasi yang tinggi akhirnya membuahkan hasil. Salah satu Puskesmas bersedia menerima pasien tersebut. Tidak lama kemudian kami memperoleh kabar bahwa anak itu telah mendapatkan penanganan sesuai standar dengan pemberian vaksin anti rabies (VAR) dosis hari ke-0 sebanyak dua vial (koreksi jika keliru ya, bu Nova).

Mendengar kabar itu, saya menghela napas lega. Namun di saat yang sama muncul satu pertanyaan yang terus mengusik pikiran.

Bagaimana jika anak itu terlambat mendapatkan vaksin?

Pertanyaan itu bukan sekadar hipotesa. Rabies adalah salah satu penyakit dengan Case Fatality Rate (CFR) yang mendekati 100% setelah gejala klinis muncul. Dengan kata lain, ketika seseorang sudah mengalami gejala rabies dan belum memperoleh profilaksis pascapajanan yang tepat waktu, peluang untuk bertahan hidup hampir tidak ada alias bisa metong. Rabies bukan penyakit yang memberi kesempatan kedua kepada mantan. Penyakit ini hanya memberi satu kesempatan: bertindak sebelum terlambat atau wasalam?

Kejadian sore ini kemudian memberikan pelajaran penting bagi kita semua bahwa kegawatdaruratan kesehatan tidak mengenal jam kerja. Virus tidak menunggu petugas shif pagi. Anjing ketika menggigit tidak melihat ini hari kerja atau hari libur. Sehingganya, sistem pelayanan kesehatan untuk kasus-kasus dengan CFR tinggi harus mampu memberikan akses yang cepat, jelas, dan berkesinambungan selama 24 jam. Jangan sampai masyarakat harus berkeliling dari satu faskes ke faskes lainnya hanya untuk mencari vaksin yang seharusnya segera diberikan.

Kondisi seperti ini menjadi bahan refleksi bersama. Masih perlukah masyarakat berpindah-pindah fasilitas kesehatan ketika setiap menit sangat menentukan keselamatan nyawa? Masih pantaskah ketersediaan vaksin, serum anti rabies, atau mekanisme rujukan menjadi hambatan pada penyakit yang hampir selalu berakhir dengan kematian apabila terlambat ditangani? Pelayanan kesehatan harus selalu hadir dan siap ketika masyarakat membutuhkan. Pada kasus-kasus dengan CFR tinggi seperti rabies atau kasus dengan kondisi kegawatdaruratan lainnya, sudah kita pahami bersama bahwa wajib segera ditangani.

Di sisi lain, cerita ini juga menunjukkan bahwa secanggih apa pun sistem kesehatan, pada akhirnya keberhasilannya sangat ditentukan oleh sumberdaya manusia kesehatan yang ada di dalamnya. Dedikasi Bu Nova yang memilih menyelesaikan pekerjaannya sebelum pulang, kepedulian petugas keamanan yang tidak mengabaikan masyarakat yang datang, serta kesediaan Puskesmas rujukan untuk segera menerima pasien adalah contoh nyata bahwa profesionalisme dan empati masih menjadi kekuatan terbesar dalam pelayanan kesehatan.

Semoga semangat seperti ini terus tumbuh di setiap fasilitas pelayanan kesehatan. Sebab bagi petugas kesehatan, mungkin itu hanya satu pasien di penghujung jam kerja. Namun bagi keluarga pasien, itu adalah harapan terakhir untuk menyelamatkan orang yang paling mereka cintai.

Mari kita jadikan setiap kasus sebagai pengingat bahwa setiap menit sangat berharga, setiap tindakan memiliki arti, dan setiap nyawa layak diperjuangkan tanpa mengenal batas jam pelayanan. Sistem boleh memiliki aturan administratif, tetapi kemanusiaan tidak pernah mengenal jam pulang.

Barangkali ukuran keberhasilan pelayanan kesehatan selama ini bukan hanya berapa banyak laporan yang selesai dibuat, tetapi berapa banyak nyawa yang berhasil diselamatkan.

Terimakasih untuk orang-orang hebat hari ini. *

Sosial Media Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo :
Channel Youtube
Facebook Page
Facebook
Twitter
Instagram

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

one × 1 =

scroll to top
Bahasa »