Gelombang Kebaikan

IMG-20260407-WA0001.jpg

Oleh: Anang S. Otoluwa

Persis tanggal 31 Maret, foto itu saya terima dari dr. Suli. Foto seorang staf kami sedang mendonorkan darah. Sebuah hal yang biasa. Namun, caption yang menyertai foto itu, jauh dari sederhana. Ia menggetarkan rasa kemanusiaan saya:
“Pertama kali dalam hidupnya, dia menyumbangkan darahnya, demi menyelamatkan seorang ibu hamil dengan pre eklampsia berat dan DBD.”

Hari itu, Taty, pegawai P3K di Dinkes Provinsi Gorontalo, telah mengambil langkah yang mungkin terlihat kecil, namun sesungguhnya sangat besar. Ia mendonorkan darah, untuk pertama kali. Ia melawan rasa takutnya. Bukan untuk dirinya. Tapi untuk seorang ibu yang nyawanya sedang berada di ujung harapan.

Beberapa hari kemudian, tepatnya 6 April, sebuah foto lain datang. Kali ini dari Tity Niaty, Ketua Timker SIAGA IBU (SInergi Aksi Gerakan Aman IBU). Foto itu menghadirkan pemandangan yang berbeda: seorang ibu dengan senyum kemenangan, memeluk bayinya. Dua bidan berdiri di sampingnya, menjadi saksi bahwa kehidupan telah menang atas ancaman kematian.
Ibu itu selamat. Bayinya juga sehat.

Namun di balik akhir yang membahagiakan ini, tersimpan perjuangan yang luar biasa. Ia menghadapi preeklampsia berat (keracunan kehamilan). Ini adalah kelainan kehamilan yang sangat berbahaya. Ia dikenal sebagai salah satu penyebab utama kematian ibu. Tekanan darah tinggi yang tak terkendali, risiko kejang, hingga ancaman kegagalan organ.

Seolah belum cukup, ia juga terjangkit Demam Berdarah Dengue (DBD), penyakit yang dapat menyebabkan penurunan trombosit drastis dan perdarahan hebat.
Dua kondisi berat, terjadi pada satu tubuh. Satu nyawa yang dipertaruhkan.

Dr. Maimun yang menangani kasus ini memahami betul bahwa setiap langkah harus diambil dengan presisi. Tidak ada ruang untuk kesalahan. Dia perlu effort membujuk keluarga, agar ibu tadi mau dirujuk ke RS Aloei Saboe (RS dengan kelas layanan utama untuk Ibu dan Anak). Dan dalam proses persalinan itu, dibutuhkan 26 kantong darah.

Bayangkan sejenak.

Dua puluh enam kantong darah. Artinya dua puluh enam orang harus hadir, harus peduli, harus rela berbagi bagian dari dirinya untuk menyelamatkan satu kehidupan.

Dan di sinilah kisah ini menemukan maknanya yang paling dalam.
Keberanian seorang Taty menjadi titik awal. Tindakan kecilnya memicu gelombang kebaikan. Satu donor menggerakkan yang lain. Hingga akhirnya, 25 orang lainnya ikut berdiri.

Untuk mendapatkan 26 pendonor dalam sepekan, bukan pekerjaan mudah. Tapi, semua itu bisa terjadi karena ada kesungguhan orang-orang. Bidan dari Puskesmas Kota Utara Kota Gorontalo. Pegawai dan Cleaning Service di Dinkes Provinsi Gorontalo. Perawat dari dua rumah sakit berbeda. Dan orang lain yang entah dari mana. Mereka mungkin tidak saling mengenal, tetapi dipersatukan oleh satu tujuan: menyelamatkan seorang ibu.

Inilah wajah sejati kemanusiaan.
Keselamatan ibu bukan hanya urusan tenaga kesehatan. Ia adalah tanggung jawab kita semua. Karena di balik setiap ibu yang selamat, ada seorang anak yang tidak kehilangan pelukan pertama. Ada keluarga yang tidak kehilangan pusat kehidupannya. Ada masa depan yang tetap utuh.

Sering kali kita berpikir bahwa kontribusi besar membutuhkan kekuatan besar. Padahal, kisah ini membuktikan sebaliknya. Kadang, yang dibutuhkan hanyalah keberanian untuk memulai.
Setetes darah. Satu keputusan. Satu langkah kecil. Namun dampaknya… bisa menyelamatkan dua nyawa sekaligus.

Hari ini, mungkin kita bukan dokter. Bukan bidan. Bukan perawat. Tapi kita tetap bisa menjadi bagian dari rantai kehidupan itu. Dengan menjadi donor. Dengan menyebarkan kepedulian. Dengan tidak menutup mata terhadap perjuangan ibu-ibu yang melahirkan.

Karena bisa jadi, di suatu tempat, saat ini juga, mungkin ada seorang ibu yang sedang berjuang antara hidup dan mati.
Dan bisa jadi harapan itu… adalah kita.
Maka, jangan berhenti memancarkan gelombang kebaikan.(*)

Sosial Media Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo :
Channel Youtube
Facebook Page
Facebook
Twitter
Instagram

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

18 − 10 =

scroll to top
Bahasa »