Menjadi Teladan yang Belum Terwujud: Rendahnya ASI Eksklusif Tenaga Kesehatan dan Tantangannya terhadap Penurunan Stunting

WhatsApp-Image-2026-07-03-at-20.49.20.jpeg

Shinto Mohamad, Ahli Gizi/Anggota Persagi Gorontalo

Oleh: Shinto Mohamad

Pendahuluan

Hasil penelitian pada tenaga kesehatan di Kota Gorontalo menyajikan sebuah fakta yang layak menjadi bahan refleksi serius bagi seluruh pihak yang terlibat dalam percepatan penurunan stunting. Dari 61 tenaga kesehatan yang menjadi responden, hanya 17 orang atau 27,9 persen yang berhasil memberikan ASI eksklusif kepada bayinya, sementara 72,1 persen lainnya tidak memberikan ASI eksklusif sesuai rekomendasi. Angka ini bukan sekadar statistik penelitian, melainkan sebuah alarm yang mengingatkan bahwa masih terdapat kesenjangan antara pengetahuan dan praktik di lapangan.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah: jika tenaga kesehatan yang setiap hari mengedukasi masyarakat tentang pentingnya ASI eksklusif masih mengalami kesulitan menerapkannya pada kehidupan mereka sendiri, bagaimana kita dapat berharap masyarakat umum mampu mencapai cakupan ASI eksklusif yang lebih tinggi? Pertanyaan ini bukan untuk menyalahkan tenaga kesehatan, melainkan untuk membuka mata bahwa persoalan ASI eksklusif jauh lebih kompleks daripada sekedar kurangnya pengetahuan. Fakta ini sekaligus menjadi cermin tantangan nyata yang dihadapi program penurunan stunting di Provinsi Gorontalo.

ASI Eksklusif dan Pencegahan Stunting

Stunting merupakan masalah gizi kronis yang terjadi akibat kekurangan asupan gizi dalam jangka panjang, terutama pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan. Dampaknya tidak hanya terlihat pada pertumbuhan fisik anak yang terhambat, tetapi juga pada perkembangan otak, kemampuan belajar, produktivitas, bahkan daya saing daerah di masa mendatang.

Di antara berbagai intervensi yang dilakukan untuk mencegah stunting, pemberian ASI eksklusif merupakan salah satu yang paling mendasar dan paling efektif. ASI menyediakan seluruh kebutuhan gizi bayi selama enam bulan pertama kehidupan serta melindungi bayi dari berbagai penyakit infeksi yang dapat memperburuk status gizi.

Ketika praktik ASI eksklusif tidak berjalan optimal, maka salah satu fondasi utama pencegahan stunting menjadi rapuh. Oleh karena itu, rendahnya cakupan ASI eksklusif seharusnya tidak dipandang sebagai masalah tersendiri, melainkan sebagai bagian dari rantai penyebab stunting yang harus segera diperbaiki.

Ketika Pengetahuan Tidak Berbanding Lurus dengan Praktik

Secara teori, tenaga kesehatan merupakan kelompok yang paling memahami manfaat ASI eksklusif. Mereka memperoleh pendidikan formal di bidang kesehatan, mengikuti berbagai pelatihan, serta terlibat langsung dalam pelayanan ibu dan anak. Namun penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan yang baik belum tentu menghasilkan praktik yang baik.

Fenomena ini menunjukkan bahwa keberhasilan ASI eksklusif tidak cukup hanya mengandalkan penyuluhan dan peningkatan pengetahuan. Ada faktor lain yang jauh lebih menentukan, seperti dukungan keluarga, budaya, beban pekerjaan, serta lingkungan kerja yang memungkinkan seorang ibu tetap dapat menyusui atau memerah ASI selama bekerja.

Pelajaran penting dari temuan ini adalah bahwa perubahan perilaku tidak dapat dibebankan sepenuhnya kepada individu. Sistem yang mendukung harus dibangun secara bersamaan agar pengetahuan dapat diterjemahkan menjadi tindakan nyata.

Fasilitas Menyusui sebagai Faktor Penentu

Penelitian menunjukkan bahwa faktor yang paling dominan memengaruhi keberhasilan pemberian ASI eksklusif adalah ketersediaan fasilitas pendukung menyusui di tempat kerja. Temuan ini menegaskan bahwa ibu bekerja membutuhkan lebih dari sekadar motivasi dan pengetahuan.

Ruang laktasi yang layak, waktu khusus untuk memerah ASI, tempat penyimpanan ASI perah, serta kebijakan institusi yang ramah terhadap ibu menyusui merupakan kebutuhan yang tidak dapat diabaikan. Tanpa dukungan tersebut, banyak ibu yang akhirnya terpaksa menghentikan pemberian ASI eksklusif lebih awal.

Ironisnya, kondisi ini masih ditemukan bahkan di fasilitas pelayanan kesehatan yang seharusnya menjadi contoh dalam penerapan kebijakan ramah ibu menyusui.

Pelajaran bagi Program Penurunan Stunting di Gorontalo

Provinsi Gorontalo telah menunjukkan komitmen yang kuat dalam menurunkan prevalensi stunting. Namun hasil penelitian ini mengingatkan bahwa keberhasilan program stunting tidak cukup hanya diukur dari jumlah kegiatan, rapat koordinasi, atau sosialisasi yang dilaksanakan.

Keberhasilan sesungguhnya terletak pada kemampuan menghadirkan perubahan nyata di lingkungan keluarga dan tempat kerja. Ketika seorang tenaga kesehatan masih kesulitan memberikan ASI eksklusif karena keterbatasan fasilitas dan dukungan, maka dapat dibayangkan tantangan yang dihadapi oleh ibu-ibu di sektor informal, petani, pedagang, atau pekerja lainnya.

Karena itu, strategi penurunan stunting harus mulai menempatkan dukungan terhadap ibu menyusui sebagai prioritas yang lebih konkret, bukan hanya sebagai pesan kampanye kesehatan.

Penutup

Rendahnya cakupan ASI eksklusif pada tenaga kesehatan di Kota Gorontalo bukan sekadar persoalan individu, melainkan gambaran bahwa sistem pendukung menyusui kita masih belum sepenuhnya kuat. Temuan ini harus menjadi bahan introspeksi bagi pemerintah, fasilitas pelayanan kesehatan, dunia kerja, dan seluruh pemangku kepentingan yang selama ini mendorong peningkatan ASI eksklusif sebagai bagian dari percepatan penurunan stunting.

Kita tidak dapat terus-menerus meminta masyarakat untuk melakukan sesuatu yang bahkan masih sulit diwujudkan oleh mereka yang paling memahami manfaatnya. Jika tenaga kesehatan diharapkan menjadi agen perubahan, maka mereka terlebih dahulu harus diberikan ruang dan dukungan untuk menjadi contoh nyata. Sebab pada akhirnya, keberhasilan menurunkan stunting tidak hanya ditentukan oleh seberapa sering kita berbicara tentang ASI eksklusif, tetapi oleh seberapa serius kita menciptakan kondisi yang memungkinkan setiap ibu untuk benar-benar memberikannya. Tanpa keteladanan dan dukungan sistem yang kuat, target penurunan stunting hanya akan menjadi angka di atas kertas. Namun ketika tenaga kesehatan mampu menjadi teladan, maka perubahan perilaku masyarakat akan mengikuti, dan di situlah fondasi menuju Generasi Emas Gorontalo dapat benar-benar dibangun.

Sosial Media Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo :
Channel Youtube
Facebook Page
Facebook
Twitter
Instagram

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 × one =

scroll to top
Bahasa »