Oleh: Anang S. Otoluwa
KAMI sedang mengikuti upacara peringatan Hari Patriotik 23 Januari di rumah dinas Gubernur, ketika di Grup WA Koordinasi OPD, Pak Rifli Katili membagikan sebuah komik. Judulnya:”Merdeka Sebelum Merdeka”.
Komik itu halaman demi halaman saya buka. Gambar berganti gambar, membawa saya mengetahui lebih jauh satu fase penting dalam sejarah Gorontalo.
Namun yang benar-benar membuat saya terpaku adalah dua kalimat di halaman kelima:
“Mereka tidak menunggu instruksi pusat. Mereka memilih bertindak.
Dua kalimat magis yang menurut saya tak boleh hanya menjadi narasi sejarah.
Sampai di halaman ini, komik mengisahkan keputusan cepat Nani Wartabone ketika membaca situasi dunia. Pada Desember 1941, Jepang meluluhlantakkan Pearl Harbour. Akibatnya, kekuatan Belanda melemah.
Informasi itu tidak berhenti sebagai kabar, tetapi dengan akal oleh Pak Nani diolah menjadi kesadaran: inilah saat yang tepat. Dan tanpa menunggu perintah dari mana pun, Nani Wartabone dan rakyat bergerak. Kantor Gubernur Belanda di Taruna Remaja dikuasai. Lalu, pada 23 Januari 1942, Gorontalo menyatakan diri merdeka, sebelum Indonesia merdeka, 17 Agustus 1945.
Sejarah mencatat keberanian itu. Tetapi komik ini seolah ingin berkata: akal dan insiatif itu tidak boleh hanya dicatat sebagai masa lalu.
Saya membayangkan, seandainya saat itu Nani Wartabone memilih bersikap “menunggu”. Menunggu instruksi pusat. Menunggu kondisi benar-benar stabil. Menunggu semua jelas dan sempurna. Bisa jadi, 23 Januari hari ini tidak pernah kita kenal sebagai Hari Patriotik Gorontalo.
Sejarah tidak memberi peluang bagi mereka yang suka menunggu.
Jika ingin membuat sejarah, kebiasaan menunggu itu harus kita buang jauh-jauh.
Di tempat kerja, kita akrab dengan budaya menunggu. Menunggu juknis. Menunggu anggaran. Menunggu perintah. Menunggu rapat. Menunggu SK.
Padahal, tidak sedikit pekerjaan dan persoalan publik yang sebenarnya sudah bisa mulai dilaksanakan dengan akal dan inisiatif. Banyak hal yang bisa dijalankan sambil berjalan, disempurnakan sambil bekerja.
Nani Wartabone mengajarkan bahwa kepemimpinan bukan soal jabatan, melainkan keberanian membaca situasi dan mengambil tanggung jawab. Ia tidak bertindak ceroboh, tetapi juga tidak terhambat oleh keraguan. Ia memilih bertindak karena sadar: menunda berarti kehilangan peluang, dan ini adalah kerugian.
Bagi kita hari ini, patriotisme mungkin tidak lagi diukur dari keberanian mengangkat senjata. Ia hadir dalam bentuk yang hening tapi tidak kalah penting: keberanian mengambil prakarsa. Keberanian mencari solusi di tengah keterbatasan. Keberanian yang tidak bersembunyi di balik kalimat “belum ada aturannya”, ketika masyarakat menunggu kehadiran negara.
Komik yang dibagikan Pak Rifli pagi itu hanya 13 halaman. Tapi pesannya panjang dan dalam. Ia mengingatkan kita bahwa Gorontalo pernah melahirkan pemimpin yang tidak menunggu untuk berbuat baik bagi bangsanya.
Pertanyaannya sekarang:
di meja kerja kita masing-masing, di tugas dan kewenangan yang kita miliki hari ini, apakah kita sedang menunggu… atau sedang memilih untuk bertindak?
Hari Patriotik Gorontalo semestinya tidak berhenti pada ingatan sejarah. Ia seharusnya hidup dalam etos kerja. Dalam keputusan-keputusan yang menentukan apakah kita benar-benar mewarisi jiwa Nani Wartabone, atau sekadar mengenangnya.(*)
Sosial Media Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo :
Channel Youtube
Facebook Page
Facebook
Twitter
Instagram
