Merdeka Seutuhnya, Merdeka dari “Tidak Sehat”

IMG-20250816-WA0007.jpg

Oleh: Misrawatie Goi (Dosen di Poltekkes Kemenkes Gorontalo)

Tanggal 17 Agustus di Gorontalo biasanya kita rame-rame ikut lomba panjat pinang, makan kerupuk, atau sekadar selfie di depan rumah dengan bendera merah putih yang sudah agak pudar karena dipakai tiap tahun. Jalanan penuh spanduk “Dirgahayu RI”, anak-anak sibuk latihan drum band, bapak-bapak sibuk pasang umbul-umbul, sementara ibu-ibu… sibuk belanja bahan lomba masak di pasar. Semua serba meriah.

Lalu, apakah “Kemerdekaan itu cuma sebatas upacara dan lomba kerupuk?” Jangan salah, kerupuk memang renyah, tapi kesehatan kita nggak bisa dirayakan dengan tepuk tangan saja. Ada “penjajahan” lain yang masih bercokol: bukan Belanda, bukan Jepang, tapi penjajah bernama tidak sehat.

Penjajah Modern: Dari Stunting Sampai Stres

Di Gorontalo, ikan segar berlimpah. Dari ikan tuna, cakalang, sampai ikan nike yang mungil tapi bergizi. Sayangnya, kadang meja makan kita lebih sering diisi mie instan plus cabai rawit daripada ikan kuah asam pedas. Akibatnya, anak-anak yang harusnya tumbuh tinggi dan kuat malah tumbuh “pendek tapi bandel”. Itulah stunting, semacam “perampasan hak kemerdekaan anak” untuk jadi pintar dan sehat.

Lucunya, kita sering menyalahkan ekonomi. Padahal, kalau mau jujur, harga sebungkus mie instan plus minuman botol manis bisa sama atau malah lebih mahal daripada sepiring ikan goropa bakar dengan rica-rica. Jadi, siapa sebenarnya penjajah? Ekonomi atau malas masak?

Dewasa Tapi Belum Merdeka

Bicara soal orang dewasa, penjajahan gaya hidup juga nggak kalah parah. Kita lebih rela antre es kopi kekinian 20 ribu segelas daripada beli pepaya 5 ribu yang jelas-jelas bisa lancarkan pencernaan. Kita lebih pilih rebahan di rumah nonton drama Korea daripada jalan pagi di Telaga atau lari kecil di Stadion Merdeka.

Belum lagi gaya hidup “scroll sampai subuh” yang bikin mata perih dan kepala pening. Keesokan harinya ngeluh: “Aduh, kok gampang capek ya?” Lah, bagaimana nggak capek, tubuhmu dipaksa begadang demi konten gosip seleb yang bahkan nggak kenal kamu. Itu sama saja menyerahkan kemerdekaan tubuhmu pada layar 6 inci.

Sehat Itu Revolusi Kecil Setiap Hari

Kemerdekaan sejati dalam kesehatan bukan datang tiba-tiba, tapi dari revolusi kecil setiap hari.

  • Ganti minuman manis dengan air putih dingin (serius, air putih dingin pun bisa terasa “mewah” kalau diminum setelah jalan siang di Gorontalo).
  • Mulai biasakan makan ikan nike atau ilabulo daripada gorengan dobel minyak.
  • Coba bergerak lebih banyak. Kalau malas olahraga berat, ya minimal jalan kaki ke warung daripada naik motor cuma beli garam.

Jangan lupa juga kesehatan mental. Kalau ada masalah, cerita sama sahabat, bukan dipendam sampai jadi “bom waktu”. Jangan biarkan stres dan overthinking jadi penjajah yang membelenggu pikiran.

Merdeka yang Sesungguhnya

Bayangkan kalau semua orang di Gorontalo merdeka dari penyakit kronis, dari diabetes, dari hipertensi, dari stres kerja. Betapa indahnya hidup ketika kita bisa ikut lomba tarik tambang tanpa ngos-ngosan, makan jagung pulut tanpa takut gula naik, dan masih sempat tertawa lepas bersama keluarga.

Jadi, mari kita rayakan kemerdekaan yang lebih otentik: bukan hanya kibarkan bendera setiap Agustus, tapi juga kibarkan semangat hidup sehat setiap hari. Karena percuma teriak “MERDEKA!” di lapangan kalau tubuh masih dijajah rasa malas dan makanan instan.

Kalau pepatah bilang: “Di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat.”
Kalau saya bilang: “Di dalam tubuh yang sehat dan pikiran yang waras, terdapat kemerdekaan yang sungguh paripurna.”

Sosial Media Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo :
Channel Youtube
Facebook Page
Facebook
Twitter
Instagram

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

one × one =

scroll to top
Bahasa »