Kota Gorontalo, Dinkesprov – Data menunjukkan kasus penyakit Hand, Foot, and Mouth Disease (HFMD)/penyakit tangan, kaki, dan mulut atau sering disebut penyakit Flu Singapura di Provinsi Gorontalo meningkat.
Kasus suspek HFMD, terlaporkan di Sistem Kewaspadaan Dini Respon (SKDR) hingga minggu 24 (15 juni 2024) berjumlah 66 kasus tersebar di 4 Kabupaten/Kota yaitu Kabupaten Bone Bolango, Kota Gorontalo, Kabupaten Gorontalo dan Boalemo.
Mengantisipasi penularan dan peningkatan kasus, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia telah menerbitkan surat Edaran Nomor : 01.01/C/1383/2024 tentang Kewaspadaan terhadap peningkatan HFMD. Untuk itu, Dinas Kesehatan Provinsi dan Kabupaten/Kota telah menindaklanjuti dengan melakukan berbagai upaya diantaranya lebih aktif menemukan kasus mulai dari berkoordinasi dengan dokter spesialis anak untuk melaporkan setiap kasus yang datang ke praktek mandiri dan melakukan penyelidikan epidemiologi.
“Dengan meningkatkan penemuan kasus lebih dini agar dapat dilakukan tatalaksana diagnosa dengan pengambilan sampel dan saat ini 4 sampel telah di ambil dan akan di kirim ke Balai Besar Laboratorium Biologi Kesehatan (BBLBK) Jakarta sebagai laboratorium rujukan untuk penegakan diagnosa dan mengidentifikasi jenis virusnya,” ungkap Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Jeane I. Dalie, Jum’at (21/06/2024).
Selain itu kata Jeane, Dinas Kesehatan telah meningkatkan edukasi melalui media Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) di fasilitas kesehatan dan lingkungan pendidikan, untuk selalu berperilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) sebagai upaya pencegahan dan melaporkan ke petugas kesehatan di puskesmas apabila ditemukan di masyarakat ada yang bergejala untuk mendapatkan pengobatan dan mengidentifikasi besar masalah.
“Penyakit ini bisa dicegah dengan dengan PHBS, segera melaporkan ke puskesmas terdekat jika mengalami gejala sehingga bisa dilakukan tindakan pengobatan dengan tepat,” ujarnya.
Hand, Foot, and Mouth Disease (HFMD) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dari genus Enterovirus. Spesies enterovirus yang paling sering menyebabkan HFMD adalah Coxsackievirus A16 (CA16) dan Human Enterovirus 71 (EV71). HFMD umumnya ringan dan self limiting, namun sebagian kecil kasus dapat menimbulkan komplikasi berat.
Infeksi CA16 biasanya berhubungan dengan manifestasi klinis yang ringan sementara EV71 dikaitkan dengan manifestasi yang berat atau kematian. Penyakit ini mudah menular dan sering terjadi pada anak-anak di bawah usia 10 tahun. HFMD juga bisa menyerang orang dewasa. Penyakit ini biasanya diawali dengan demam, nyeri tenggorokan, dan kehilangan nafsu makan. Dalam 1- 2 hari setelah timbul demam, muncul vesikel di gusi dan tepi lidah serta lesi di tangan dan kaki. Penularan HFMD dapat terjadi secara fecal-oral, lesi dan sekret saluran pernapasan.
Informasi terkait situasi global penyakit HFMD masih terbatas, akan tetapi diperkirakan ada jutaan kasus setiap tahunnya terjadi di benua Asia. Berdasarkan modelling study yang dilakukan di tahun 2018 untuk 8 negara di Asia Tenggara, diperkirakan terdapat 6% kasus HFMD yang harus dirawat di RS, dengan 18.7% dari kasus tersebut mengalami komplikasi, dan 5% kematian.
Gambaran HFMD di Indonesia saat ini juga masih belum banyak diketahui. Namun demikian berdasarkan data Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR) tahun 2024 hingga minggu ke-12 menunjukkan adanya peningkatan tren suspek HFMD di seluruh provinsi.
Rilis : ILB/Lani
Editor : Nancy Pembengo/MD
Sosial Media Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo :
Channel Youtube
Facebook Page
Facebook
Twitter
Instagram
