Gorontalo Masuk Tiga Provinsi dengan Kinerja Terbaik Penanggulangan Stunting 2025

IMG-20260925-WA0033.jpg

Rilis Kementerian Dalam Negeri hasil penilaian provinsi dengan kinerja terbaik dalam Percepatan Penanggulangan Stunting.

Kota Gorontalo, DinkesP2KB – Provinsi Gorontalo masuk dalam tiga provinsi dengan kinerja terbaik dalam Program Percepatan Penanggulangan Stunting (PPPS) tahun 2025, dengan capaian 100 persen kabupaten/kota berkinerja baik.

Capaian tersebut disampaikan dalam Pertemuan Asistensi dan Supervisi Implementasi Pencegahan dan Percepatan Penurunan Stunting yang dilaksanakan Direktorat Jenderal Bina Pembangunan Daerah, Kementerian Dalam Negeri, Jumat (25/9/2026).

Berdasarkan hasil penilaian yang disampaikan Kemendagri, terdapat tiga provinsi yang seluruh kabupaten/kotanya tercatat berkinerja baik dalam penilaian pencegahan dan percepatan penurunan stunting, yakni Provinsi DKI Jakarta, DI Yogyakarta, dan Gorontalo. Ketiga provinsi tersebut sama-sama mencatat proporsi 100 persen kabupaten/kota berkinerja baik.

Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Provinsi Gorontalo, Anang S. Otoluwa, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam upaya pencegahan dan percepatan penurunan stunting di Gorontalo.

“Capaian ini merupakan hasil kerja bersama. Tidak hanya pemerintah, tetapi juga jajaran kesehatan, pemerintah kabupaten dan kota, kader Posyandu, TPPS, pemerintah desa, keluarga, serta seluruh lintas sektor yang terus bergerak memastikan intervensi stunting berjalan sampai ke masyarakat,” ujar Anang.

Menurut Anang, capaian kinerja tersebut menjadi momentum untuk memperkuat pelaksanaan intervensi secara berkelanjutan. Penanganan stunting, kata dia, tidak dapat dilakukan hanya ketika anak sudah mengalami gangguan pertumbuhan, tetapi harus dimulai sejak sebelum kehamilan, masa kehamilan, persalinan, hingga pemantauan tumbuh kembang anak.

“Yang paling penting adalah bagaimana capaian ini diterjemahkan menjadi dampak nyata bagi masyarakat. Kita harus memastikan anak-anak yang berisiko terdeteksi lebih awal, mendapatkan intervensi yang tepat, dan tidak ada sasaran yang terlewat,” katanya.

Capaian kinerja program tersebut juga berjalan seiring dengan perkembangan indikator prevalensi stunting di Gorontalo. Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, prevalensi stunting Gorontalo tercatat 23,8 persen, turun dari 26,9 persen pada 2023. Penurunan sebesar 3,1 poin persentase tersebut menunjukkan adanya perbaikan indikator status gizi balita di daerah.

Secara nasional, prevalensi stunting berdasarkan SSGI 2024 juga turun dari 21,5 persen pada 2023 menjadi 19,8 persen pada 2024. Data tersebut menjadi salah satu dasar pemerintah dalam memperkuat intervensi konvergen untuk mencapai target penurunan stunting secara nasional.

Di tingkat daerah, penurunan prevalensi stunting menjadi bagian dari agenda pembangunan kesehatan Gorontalo. Pemerintah Provinsi Gorontalo terus mendorong penguatan intervensi spesifik dan sensitif, peningkatan kualitas pelayanan Posyandu, pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak, serta penguatan koordinasi lintas sektor.

Anang menegaskan bahwa keberhasilan penanggulangan stunting tidak hanya ditentukan oleh intervensi sektor kesehatan, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh pemangku kepentingan.

“Terima kasih atas kerja keras dan kolaborasi Bapak/Ibu semua. Capaian 100 persen ini harus kita jaga dan terus ditingkatkan. Ukuran keberhasilan kita bukan hanya pada capaian program, tetapi pada semakin banyaknya anak yang tumbuh sehat dan terlindungi dari risiko stunting,” ujar Anang.

Sebelumnya, Gorontalo juga mencatat capaian 100 persen pengukuran dan input elektronik e-PPGBM bayi dan balita di Posyandu pada Juni 2024. Sebanyak 84.739 bayi dan balita menjadi sasaran pengukuran. Capaian tersebut menjadi bagian penting dalam penyediaan data status gizi sekaligus dasar untuk menentukan sasaran intervensi bagi anak yang mengalami atau berisiko mengalami masalah gizi.

Kemendagri dalam evaluasinya menekankan bahwa daerah dengan kinerja baik diharapkan tidak hanya mempertahankan capaian, tetapi juga menjadi sumber pembelajaran bagi daerah lain. Penguatan konvergensi program, kualitas data, perencanaan dan penganggaran, pelaksanaan aksi konvergensi, peran pemerintah desa, serta monitoring dan evaluasi menjadi bagian penting dalam keberlanjutan upaya penurunan stunting.

Bagi Gorontalo, capaian tersebut menjadi dorongan untuk memastikan seluruh upaya pencegahan dan penanganan stunting semakin terintegrasi, berbasis data, dan berorientasi pada hasil yang dirasakan langsung oleh keluarga dan anak.

Rilis : ILB
Editor : MD

Sosial Media Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo :
Channel Youtube
Facebook Page
Facebook
Twitter
Instagram

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

six + eleven =

scroll to top