Makanan, Pramuka dan Revolusi Mental

IMG-20190813-WA0027-e1565693276837.jpg

Dr. Arifasno Napu, SSiT, MKes, Pemerhati masalah Gizi, Kesehatan dan Sosial. Mengajar Ilmu Gizi, Kesehatan, Olahraga, Budaya di UNG dan Kampus Swasta Lainnya, Anggota Pengurus ISNA (Indonesia Sport Nutritionist Association), Ketua Perhimpunan Pakar Gizi dan Pangan (Pergizi Pangan) Indonesia Gorontalo, Staf di Seksi Dinkes Prov Gtlo.

Oleh: Dr. Arifasno Napu, SSiT, MKes

(Selamat HUT Pramuka 14 Agustus 1961 – 14 Agustus 2019)

Zaman Penjajahan, orde lama, orde baru, orde reformasi, dan sekarang zaman orde kerja-kerja-kerja, pramuka selalu menjadi dambaan masyarakat. Bila ditanyakan kepada para pejabat di tingkat nasional sampai tingkat kelurahan, para politisi dari tingkat nasional sampai tingkat kabupaten/kota akan selalu mengatakan bahwa mereka berhasil dalam bidangnya karena perilaku hidupnya telah diwarnai oleh Gerakan Pramuka. Namun bagaimana anak bangsa yang tidak pernah ikut Pramuka, mengenyam pendidikan di luar negeri, kemudian menjadi pemimpin dalam negeri?

    Oleh karena itu di zaman orde kerja-kerja-kerja ini, yang telah menawarkan revolusi mental untuk bangsa Indonesia menjadi sebuah mitra yang besar buat Gerakan Pramuka. Tawaran revolusi mental tahun 2014 silam didiskusikan di tingkat provinsi yang dihadiri oleh para petinggi politisi, birokrat bahkan praktisi termasuk para pelaku revolusi mental dari tingkat pusat yang sangat menaruh harapan terhadap program revolusi mental. Ini sangat berarti untuk kehidupan berbangsa dan bernegara yang berbineka tunggal ika dalam negara kesatuan republik Indonesia.

    Memang, tidak sedikit yang bertanya-tanya sesungguhnya di mana letak revolusi mental itu sendiri? Pertanyaan mendasar yang harus di jawab diantarnaya adalah sesungguhnya apa tawaran program revolusi mental pada anak SD/sederajat, SMP/MI/sederajat, SMA/SMK/sederajat, perguruan tinggi ataupun masyarakat umum lainnya? Apa pentingnya revolusi mental harus dilaksanakan? Siapa yang akan melaksanakan proses revolusi mental dan siapa saja sasarannya? Kapan dan di mana pelaksanaannya? Bagaimana cara melakukannya? Apa, kapan, dan bagaimana buktinya telah mencapai revolusi mental tersebut? Serta pertanyaan-pertanyaan lainnya yang penting dijawab.

    Akibat tim Revolusi Mental yang dipercayakan sebagai motivatornya, ternyata sangat sulit dan bahkan tidak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Sebagai tawaran konkrit dan mudah dilaksanakan maka disampaikan bahwa jika susah-susah membuat konsep revolusi mental dan membutuhkan dana yang tidak sedikit sementara negara sedang terbebani dengan utang yang memadai, maka lebih baik dana yang ada pada revolusi mental diberikan saja pada Gerakan Pramuka (Gerakan Praja Muda Karana). Gerakan ini merupakan organisasi terbesar di Indonesia dan sangat berjasa dalam proses merebut kemerdekaan, mempertahankan kemerdekaan, mengisi kemerdekaan dan mempertahankan nasionalisme yang religius. Karena dalam Gerakan Pramuka sangat jelas pencapaian revolusi mental yang notabene adalah dipertahankannya karakter bangsa Indonesia yang bernar-benar pancasialis dan nasionalis.

    Proses Revolusi Mental dalam Gerakan Pramuka adalah sangat jelas, namun lebih memilih sebuah pencitraan yang akan bermakna? Di Golongan Siaga (umur 7-10 Tahun) saja yang mempunyai tiga tingkatan yakni Siaga Mula, Bantu dan Tata, telah diatur sedemikian rupa bagaimana sesungguhnya sebuah revolusi mental merupakan sebuah nasionalisme yang religius secara jelas. Bagaimana proses pendidikan kepramukaan pada Golongan Penggalang (umur 11-15 tahun) yang mempunyai tingkatan penggalang Ramu, Rakit dan Terap; golongan penegak (umur 16-20 tahun) Bantara dan Laksana; serta golongan Pandega (umur 21-25 tahun). Semua golongan dengan tingkatannya ini diatur dalam syarat-syarat kecakapan umum (SKU) guna mencapai tanda kecakapan umum (TKU). Selanjutnya secara khusus lagi untuk meningkatkan keterampilan yang nasionalis dan religius para peserta didik Gerakan Pramuka baik secara umum maupun Pramuka dalam satuan karya telah dibuatkan sistemnya melalui syarat-syarat kecakapan khusus (SKK).

    Teringat saat masih sebagai peserta didik yang dibina dalam kreatifitas dengan ketersedian bahan-bahan yang sangat terbatas. Termasuk dalam memaknai arti kehidupan melalui kebersamaan dan kegotong-royongan. Bagaimana harus mencintai tanah air dan menggunakan produk lokal apakah dalam bentuk bahan-bahan untuk mendirikan tenda juga bahan-bahan yang akan digunakan untuk makanan yang bisa dikonsumsi dalam perkemahan.

    Ternyata dengan kecanggihan teknologi termasuk sistem media sosial, kreatifitas dalam menggunakan bahan-bahan lokal untuk memproduksi makanan melahirkan berbagai jiwa kecintaan. Cinta pada bahan-bahan itu sendiri yang merupakan kekayaan alam Indonesia, cinta pada makanan yang dibuat sendiri, puas dengan hasil karya yang dikonsumsi sendiri. Inilah jiwa patriotisme, pancasialis dan nasionalisme yang ditanamkan pada setiap generasi pramuka yang telah dibuktikan kemampuannya dalam merebut kemerdekaan Bangsa Indonesia saat zaman penjajahan.

    Kecanggihan teknologi bukan penghalang perkembangan gerakan pramuka, yang harus dikuasai pula oleh semua peserta didik. Namun, tidak semua sistem teknologi memberikan dampak positif pada perkembangan alam kehidupan dan tentunya tidak semuanya dibutuhkan. Permainan di alam terbuka tanpa sistem teknologi, yang harus mengandalkan pengalaman, nyali, dan juga keberanian adalah sistem yang tidak terdapat dalam sistem elektronik. Sistem ini dilaksanakan pula dalam sistem intelegen guna mencegah terjadinya sadapan sehingga dibuat dalam sistem manual bahkan hanya ditulis langsung dengan tangan. Itulah pramuka, yang mengedepankan nasionalisme melalui proses pendidikannya, namun apakah dukungan dari berbagai pihak masih seperti dulu semangatnya? Wah… teringat lagi disaat mau melaksanakan penjelajahan sebagai syarat untuk mencapai tingkat yang lebih tinggi dalam gerakan pramuka misalnya dari tingkat penegak bantara menjadi penegak laksana, dan purna Pandega, juga penjelajahan yang dilaksanakan khusus untuk meningkatkan kemampuan mentalitas, spritual, bahkan kemampuan pengabdian atau bersosialisasi. Semuanya teraktualisasi dalam proses penjelajahan tersebut bahkan sampai memasak dan makan saja menjadi standarisasi keberhasilan penjelajahan.

    Kemampuan memasak setiap peserta yang mendapat tugas jaga tidak lepas dari proses kegiatan yang menarik. Jika nasi matang dengan baik yang dibarengi tersedianya lauk pauk, sayuran dan buah-buahan dari alam sekitarnya adalah menjadi penilaian yang bermakna. Makanan ini menjadi santapan yang lezat untuk semua anggota pramuka. Peristiwa tersebut tentunya akan mendarah daging sehingga sulit untuk dilupakan begitu saja kecuali sudah berstatus pikun. Proses pembinaan pramuka seperti ini yang masih dirindukan oleh semua peserta didik. Mengedepankan kebersamaan, kesahajaan, penghematan tanpa utang, keberanian, pengorbanan. Akibatnya keakraban demi  keakraban akan terjalin dengan baik, bahkan terjadi kesinambungannya yang tentu diharapkan oleh Gerakan Pramuka dalam melahirkan kader Pramuka yang pancasialis dan nasionalis. Bukan karena sebuah kepercayaan yang tak berteknis dan menjadi dasar dalam mengambil keputusan atau tindakan lainnya, tetapi naluri pengambilan keputusan merupakan tindakan yang bernilai tinggi dengan segala rasionalitasnya.

    Uraian sebelumnya telah mencitrakan begitu besar keterkaitan antara makanan, Pramuka dan Revolusi Mental. Pramuka, cinta alam dan selalu berkasih sayang antara sesama manusia. Bagaimana bahan makanan tetap lestari maka hutan tetap hutan fungsinya, sawah tetap sawah fungsinya, kebun tetap kebun fungsinya. Namun alih fungsinya membuat bangsa Indonesia dapat menjadi bangsa yang tidak mampu menghasilkan bahan makanannya sendiri. Ini dibuktikan dengan sistem yang mendorong, memaksa, bahkan bisa saja membuat tidak ada pilihan lagi yang pada satu ketika semua anak bangsa terjajah bahkan bisa menjadi pengemis yang terdidik akibat makanan yang terimport? Pramuka yang diharapkan menjadi pelopor sistem revolusi mental yang pancasialis dan nasionalis semuanya akan tinggal kenangan saja, karena memang tujuannya adalah revolusi mental untuk mencintai bukan produk lokal? Sementara dengan cinta dan menggunakan produk-produk lokal yang berasal dari bahan lokal bukan import mendorong terjadinya peningkatan sistem perekonomian yang meningkatkan ekonomi masyarakat. Peran-peran ini bila telah terstruktur, sistematis,  dan masif tentu sangat membantu dalam upaya peningkatkan kualitas mental bangsa Indonesia, termasuk mengatasi masalah gizi dan kesehatan yang tercermin pada keadaan status perekonomian masyarakat atau status kemiskinan yang meningkat.

Olehnya, sebuah ungkapan yang visioner Presiden pertama bangsa Indonesia Soekarno, menggambarkan kreatifitas yang pancasialis dan nasionalis serta bangga menggenggam dengan tangan sendiri dan berdiri pada kaki sendiri sehingga Pramuka menjadi organisasi yang terhormat dan berkarakter Indonesia. Adapun ungkapannya yakni “Berusahalah sehebat-hebatnya untuk mengembangkan dan meluaskan gerakan kita. Sampai pada suatu ketika setiap anak dan pemuda serta pemudi kita, baik mahasiswa yang di kota maupun yang menggembala kerbau di desa, dengan rasa bangga dan terhormat dapat menyatakan ‘Aku Pramuka Indonesia”. Semoga Tulisan ini bermanfaat, bersama kita berkarya sebagai ibadah. Selamat HUT Pramuka Indonesia.

Tulisan ini dimuat dalam media lainnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

five + 12 =

scroll to top
X