Sekolah Sadar Gizi Berbasis Makanan Tradisional

f60c76c7-250b-44a4-88e6-16f7cfdddffc-e1706244746902.jpg

Arifasno Napu, Pengamat Gizi dan Kesehatan. Mengajar Ilmu Gizi, Kesehatan, Olahraga, Budaya di Perguruan Tinggi, Ketua Pergizi Pangan Indonesia Gorontalo, Wakil Ketua Kwarda Gorontalo, Pembina DPD PERSAGI Gorontalo, Ketua Yayasan Makanan dan Minuman Indonesia (YAMMI) Provinsi Gorontalo, Dosen Poltekkes Kemenkes Gorontalo.

Atasi Masalah Gizi dan Kesehatan Secara Terstruktur, Masif dan berkesinambungan
“Salam Gizi”, (jawabannya) “Sehat Melalui Makanan”.

Selamat Hari Gizi Nasional ke-64 25 Januari 2024,

Adalah masalah gizi di Indonesia menjadi wahana berbagai kebijakan negara secara formal sebut saja tentang penanganan stunting yang terstruktur, masif dan berkesinambungan, namun apakah telah mencakup substansi daur kehidupan? Baru membuat tindakan hari ini, bagaimana itu semua dapat berkelanjutan dan berjalan dengan baik, sehingga berapapun sumber daya yang digunakan  masalah gizi tetap akan fluktuatif atau bahkan cenderung meningkat?

Menyimak tabel 1 data hasil SSGI (Survei Status Gizi Indonesia) tahun 2022 jelas terlihat bahwa berbagai permasalahan serius yang harus ditangani dan diantisipasi. Sekalipun angka stunting menurun, namun bukti intervensi dengan kucuran sumber daya yang sangat besar adalah meningkatnya angka underweight yakni dari 17.0% menjadi 17.1% juga wasting dari 7.1% menjadi 7.7%. Angka stunting yang menurun ini dapat bermakna kejadian saat ini, namun bagaimana keadaan di masa remaja dan dewasa nanti?

Semua institusi pemerintah dan didukung institusi swasta bersama-sama telah melaksanakan pencegahan dan penanganan masalah gizi termasuk stunting. Hanya saja dalam menggerakkan dan menggunakan potensi-potensi lokal penting disadarkan kepada masyarakat. Sebagai contoh adalah tentang MP-ASI (Makanan pendamping Air Susu Ibu) yang sangat penting bersumber dari protein hewani karena punya unsur komposisi asam-asam amino esensial yang mudah diserap dan digunakan tubuh sebagai zat pembangun termasuk unsur peningkatan imunitas. Sementara tidak mengabaikan sumber protein nabati juga sangat dibutuhkan tubuh dan melengkapi jumlah kebutuhan protein seperti tempe yang mengandung antioksidan.

Fenomena yang ada dan didukung berbagai riset menyatakan bahwa penggunaan protein hewani bukan hanya pada MP-ASI,  tetapi pada semua siklus kehidupan yang diseimbangkan dengan umur, berat badan, aktivitas, status kesehatan, sosial, budaya, ekonomi dan agama. Bahan untuk pembuatan MP-ASI sebaiknya adalah bahan makanan dari lokal tempat tinggal anak.

Gambar 1 merupakan hasil RISKESDAS 2018 yang menunjukkan bahwa tingginya status gizi pendek yang mencapai 30.8% dari jumlah balita. Tahun 2007, 2013, dan 2018 status gizi sangat pendek menurun sementara status gizi pendek meningkat. Bisa saja terjadi akibat tidak adanya upaya yang berkelanjutan yang berlangsung dengan baik. Dan yang terjadi adalah hanya pengharapan totalitas bantuan dari pemerintah oleh masyarakat?  Terbukti bahwa pengeluaran pemerintah untuk menangani masalah gizi adalah bertambah dan sangat besar sampai triliunan rupiah yang teralokasikan melalui berbagai instansi seperti melalui Lembaga BKKBN sebagai institusi yang diberikan amanah langsung melalui Perpres No 72 tahun 2021 tentang percepatan penurunan stunting, juga dimasukkan dalam anggaran dana desa (ADD), dan institusi terkait lainnya. Intinya untuk melakukan intervensi yang spesifik dan sensitif.

Tabel 2 menunjukkan potret balita berstatuts gizi pendek ada 30.8% dan remaja yang umur 16-18 tahun ada 26.9% adalah bukti bahwa selain banyak balita yang pendek juga banyak remaja yang pendek. Bukankah ini merupakan intervensi yang belum berkesinambungan?

Proporsi status gizi kurus dan gemuk pada pada balita terlihat pada Gambar 2. Ada kecenderungan sama besarnya, artinya bisa saja tidak terintervensi saat kurus, malah banyak yang jatuh dalam kegemukan. Namun tidak terjadi pada anak balita lainnya yang masih diberikan makan berdasarkan kebutuhannya.

Tabel 3. menunjukkan prevalensi Status Gizi Balita dan Penduduk Dewasa (umur >18 Tahun) ternyata menunjukkan adanya permasalahan besar. Saat balita yang sangat kurus dan kurus masing-masing 3.5% dan 6.7%, bila dijumlahkan maka ada 10.2% yang kurus. Angka ini hanya sedikit berbeda dengan dewasa yakni ada 9.3% yang kurus. Menariknya prevalensi balita gemuk hanya ada 8%, sementara pada dewasa terdapat yang kelebihan berat badan ada 35.4% (BB lebih 13.6% dan Obesitas 21.8%).  

Dari hasil Riskesdas 2018 dan SSGI 2022 dapat dikatakan belum menunjukkan potret perubahan, sehingga dibutuhkan langkah-langkah pencegahan dan penanganan baik yang bersifat klinis, non klinis bahkan pandangan dari sisi kesehatan masyarakat.

Hari ini, masyrakat tidak dibelajarkan lagi tentang makanan yang baik itu bagaimana. Makanan yang baik dimaksudkan meliputi alami, beragam, bergizi, berimbang, aman dan menyehatkan. Dan tidak lupa pula bagi yang muslim harus dibelajarkan tentang makanan yang halal yang tidak lepas dari kategori makanan yang baik tersebut. Oleh karena itu data-data yang dipaparkan sebelumnya dapat menggambarkan bahwa intervensi gizi yang diberikan hanyalah dipahami oleh orang dewasa termasuk orang tua dari anak saja atau bahkan hanya para tenaga kesehatan.

Ketika anak sejak dini sudah diajarkan tentang makanan yang halal (muslim) dan baik, tentunya dapat memberikan dampak pemahaman awal dan kuat terhadap manusia Indonesia, lihat gambar 3. Setelah anak tersebut menginjak usia sekolah dasar, maka anak tersebut menemukan lagi pembelajaran gizi. Saat di SD sudah mulai dipraktikkan pengolahan makanan sesuai dengan tujuan pembelajaran yang diberikan. Demikian pula saat anak tersebut misalnya saat di bangku SMP (sekolah menengah  pertama) sudah banyak dihadapkan pada permasalahan dirinya dan tidak lepas dari kebutuhan gizi. Aktivitas semakin meningkat seiring dengan masa akil baliq untuk laki-laki dan wanita. Si wanita akan mengalami menstruasi, makanay penting membutuhkan makanan yang seimbang agar tidak terjadi kekurangan gizi seperti anemia yang akan membuat masalah pada dirinya saat itu bahkan sesudahnya.

Jadi dari PAUD, SD, SMP ataupun yang setara sudah memperoleh pelajaran tentang gizi apalagi yang berbasis makanan khas daerahnya masing-masing. Ini selain meningkatkan pengetahuan, keterampilan juga dapat memberikan kecintaan terhadap daerah yang telah memiliki makanan khas daerah.

Selanjutnya di saat menginjak bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) atau Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) atau yang setara telah diberikan lagi pembelajaran tentang makanan namun sudah dapat berpraktik pembuatannya seperti tentang pemberian makanan untuk balita, makanan untuk usia subur, ibu hamil dan ibu menyusui, pemberian makanan untuk mencegah anemia, dan lainnya. Ini tentunya menjadi modal penting dalam upaya yang berkesinambungan untuk pencegahan dan penangnan masalah gizi dan kesehatan. Namun ada juga yang melanjutkan ke perguruan tinggi, tentunya sudah lebih tinggi lagi pemahamannya tentang makanan dan gizi. Kedepan bila dia mengambil jurusan gizi, maka dia dapat menjadi guru atau pendidik di lingkungan sekolah bahkan secara informal dalam keluarganya atau di lingkungan kerjanya.

Di saat menikah dan telah memahami gizi apalagi telah belajar tentang makanan yang terkait dengan siklus hidup, maka akan lahir kesinambungan penanganan masalah gizi di tingkat rumah tangga yang dapat menjadi satu siklus. Apa sesungguhnya yang harus dikonsumsi saat hamil, melahirkan atau menyusui, membuat MP-ASI, bagaimana makanan anak selanjutnya? Demikian pula waktu anak menjadi balita yang akan dimasukkan ke PAUD, masuk SD, SMP, SMA/SMK sampai seterusnya ke perguruan tinggi. Di sinilah letak terjadinya kesinambungan pencegahan dan penanganan masalah gizi secara masif yakni karena kedua orang tuanya faham tentang makanan yang harus dikonsumsi. Tentu, pembelajaran akan berlangsung secara informal. Pembelajaran untuk keluarga tersebut diantaranya dengan membuat makanan yang sesuai kebutuhan anaknya dan pasti diterima oleh anaknya. Sebagai akibatnya bahwa makanan yang disediakan di rumah karena di sekolah dibelajarkan juga tentang makanan yang halal (muslim) dan baik.

Bila telah dilakukan transformasi pengetahuan gizi dan kesehatan di sekolah yang didasari dari berbagai penelitian maka menjadi keunggulan sekolah tersebut dan menjadi keunggulan secara nasional dalam mempersiapkan generasi emas. Unggulnya dalan hal apa? Tentunya karena pengetahuan sudah ditingkatkan, adanya praktik pengolahan makanan yang sehat berbasis makanan tradisional maka keunggulannya dalam upaya bersama untuk pencegahan dan penanganan masalah gizi secara terstruktur, masif dan berkesinambungan.

Proses pembelajaran gizi dan kesehatan di sekolah sampai perguruan tinggi dapat menciptakan lingkungan yang sadar gizi, perilaku sadar gizi yang teraktualisasi pada setiap diri siswa/mahasiswa. Implikasi sederhananya di sekolah atau di kampus-kampus adalah selain proses pembelajaran dilaksanakan juga telah tersedianya jajanan yang halal (muslim) dan baik di kantin sekolah?

Apakah sekolah di Indonesia sekarang ini sudah sadar gizi? Olehnya, negara harus hadir dalam kebijakannya yang terstruktur, masif dan berkesinambungan untuk melindungi segenap bangsa Indonesia guna memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa melalui Sekolah Sadar Gizi Berbasis Makanan Tradisional. Semoga tulisan ini bermanfaat, bersama berkarya sebagai ibadah, Aamiin.

“Salam Gizi”, (jawabannya) “Sehat Melalui Makanan”.

Sosial Media Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo :
Channel Youtube
Facebook Page
Facebook
Twitter
Instagram

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

4 + 8 =

scroll to top
Bahasa »