Cegah Kematian Ibu dan Bayi Dengan Peningkatan Kualitas Pelayanan ANC

WhatsApp-Image-2024-05-22-at-11.30.28.jpeg

Plt Sekretaris Dinas Kesehatan Provinsi Afriyani Katili saat membuka acara Rapat Pembentukan Jejaring Skrining Layak Hamil ANC dan Stunting.

Kota Gorontalo, Dinkesprov – Strategi utama Kementerian Kesehatan Indonesia dalam mencegah kematian ibu dan bayi adalah pelayanan kesehatan primer dan rujukan yang optimal pada masa sebelum hamil, masa kehamilan, masa persalinan dan bayi baru lahir serta masa pasca persalinan.

Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) di Indonesia on track mencapai target RPJMN 2024 yaitu 183 per 100.000 KH dan 16 per 1000 KH, tetapi masih lebih tinggi dibandingkan dengan negara-negara ASEAN.

“Kami berharap di tahun 2030 AKI dan AKB ini bisa sesuai dengan target yang ditetapkan yaitu AKI 70 per 100.000 KH dan AKB 12 per 1000 KH,” kata Plt Sekretaris Dinas Kesehatan Provinsi, Afriyani Katili saat membuka acara Rapat Pembentukan Jejaring Skrining Layak Hamil ANC dan Stunting, Selasa (21/05/2024) di Grand Q Hotel Kota Gorontalo.

Di Provinsi Gorontalo Angka Kematian Ibu dalam tiga tahun ini mengalami penurunan yaitu 273/100.000 KH (2020), 251/100.000 KH (2021), 195/100.000 KH (2022). Berdasarkan target AKI masih tinggi.

Sedangkan Angka Kematian Bayi 11,9/1000 KH (2020), 11/1000 KH (2021), 12/1000 KH (2022), secara angka sudah berada dibawah target RPJMN.

“Penyebab kematian ibu di Gorontalo adalah eklampsia dan kematian bayi adalah BBLR dan Asfiksia, hal ini perlu menjadi perhatian dengan meningkatkan upaya-upaya pencegahan,” ujar Afriyani.

Menurut Afriyani, deteksi dan tatalaksana dini dapat dilakukan melalui ANC yang berkualitas.

“Cakupan ANC yang tinggi harus dibarengi dengan kualitas pemeriksaan secara standar dan kepatuhan,” ucapnya.

Dengan adanya pertemuan ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan pengelola program KIA dan Gizi di Kabupaten/Kota dalam pembentukan jejaring layak hamil, pelayanan ANC berkualitas dan upaya percepatan penurunan stunting.

“Kami mendorong adaya kesepakatan tugas dan fungsi dari pembentukan jejaring layak hamil, dimana 53% antenatal care dilakukan di FKTP Swasta,” tutup Afriyani.

Kegiatan ini diikuti oleh 50 peserta dari BKKBN, BPJS, organisasi profesi kesehatan terkait, Rumah Sakit Umum Daerah, rumah sakit swasta, klinik pratama dan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.

Rilis : MD/ILB
Editor : Nancy Pembengo

Sosial Media Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo :
Channel Youtube
Facebook Page
Facebook
Twitter
Instagram

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

5 × one =

scroll to top
Bahasa »