Bo Silita To Potubua

WhatsApp-Image-2026-03-30-at-09.36.57.jpg

Oleh: Anang S. Otoluwa

Bersyukur sekali, kemarin, Minggu (29/3), saya bisa menghadiri kuliah Ba’da Subuh, di Hunggaluwa, Limboto. Ustaz Dr. Munkizul Umam Ka’u membahas soal sederhana namun aktual: kenapa Ramadan membuat kita mudah beribadah, dan bagaimana meningkatkannya di bulan Syawal?

Di bulan Ramadan, kata Ustaz, segala sesuatunya didesain Allah sehingga ibadah terasa ringan. Hanya di bulan Ramadan, sholat malam bisa dilaksanakan selepas Isya. Membaca Al-Qur’an diganjar pahala berlipat ganda. Bahkan keinginan berbagi pun muncul tanpa dipaksa. Hati kita, seperti berada pada kondisi siap melaksanakan ibadah.

Tapi setelah Ramadan berlalu, suasana berubah. Rutinitas datang lagi dengan wajah yang sama: pekerjaan, tanggung jawab, agenda yang menumpuk. Di Gorontalo, Syawal bahkan punya “keramaiannya” sendiri. Lebaran ketupat, kunjungan keluarga, dan pesta, membuat dapur tak pernah benar-benar sepi.

Hal-hal di atas seolah-olah menghadirkan suasana kontras dengan Ramadan. Di bulan Syawal, tantangan beribadah terasa semakin meningkat. Di tengah anjuran melaksanakan puasa Syawal, ada lebaran ketupat yang makin hari makin meluas. Disela-sela anjuran berinfak, ada ritual lebaran yang membuat kehabisan “bekal”. Tak heran, saat kuliah ba’da Subuh itu, seorang ibu berpesan kepada panitia pembangunan masjid; “Dipo potagi-tagi masatia”. Seolah-olah kondisi ini menjadi rem untuk berinfak. Ini seperti menjadi paradoks, bukannya Syawal adalah bulan peningkatan ibadah?

Karena itu, Ustaz lalu bercerita tentang sebuah istilah Gorontalo yang mengandung kearifan, yakni bo silita to potubua. Sebuah Istilah yang berangkat dari peristiwa keseharian tapi bermakna dalam.

Ungkapan ini berasal dari cerita di dapur. Tentang seseorang yang sedang memasak, katakanlah opor ayam atau ayam iloni. Saat proses memasak, dia punya niat begitu mulia: “Nanti saya bagi ke tetangga A, saya kirim ke saudara B, dan seterusnya.” Niat itu lahir tanpa beban. Bahkan terasa menyenangkan.

Tapi begitu masakan itu matang, sesuatu berubah. Porsi yang tadi terasa cukup, tiba-tiba terlihat pas-pasan. Ada pikiran tentang keluarga sendiri. Ada rasa “sayang” yang pelan-pelan muncul.
Lalu datang kalimat yang sangat halus: “Sepertinya nanti saja…, lain kali saja… ini belum cukup untuk dibagi.”
Dan selesai. Akhirnya, masakan itu tidak pernah sampai ke tangan orang lain.

Ibadah di bulan Syawal mungkin juga seperti itu.
Kita tetap punya niat baik. Kita ingin sholat di masjid. Ingin lebih rajin membaca Al-Qur’an. Ingin berinfak lebih banyak. Ingin menjaga shalat malam.

Tapi entah kenapa, niat-niat itu sering berhenti di tengah jalan. Tidak benar-benar hilang, tapi juga tidak pernah menjadi nyata.
Bukan karena kita tidak mau. Tapi karena ada sesuatu yang mengendurkan.

Dan yang mengendurkan itu jarang berupa hal besar. Ia justru hal kecil, masuk akal, dan terasa wajar. Ingin sholat di masjid, tapi ada yang mengerem: “Hari ini capek sekali.”
Ingin mengaji, tapi lalu ada yang membisik:
“Besok saja, biar lebih fokus.”
Ingin berinfak, tapi ada yang mencegah:
“Jangan dulu, sekarang lagi banyak kebutuhan.”
Kalimat-kalimat itu tidak salah. Bahkan terdengar bijak. Tapi pelan-pelan, ia mempengaruhi satu hal: menunda kebaikan sampai kebaikan itu kehilangan tenaga.

Kondisi seperti inilah yang membuat kita perlu belajar dari falsafah dapur tadi.
Kalau seseorang benar-benar ingin berbagi makanan, ia tidak perlu menunggu sampai masakan matang. Ia akan menyisihkan dari awal dan “mengamankan” niatnya sebelum diganggu oleh berbagai pertimbangan.

Ibadah juga begitu.
Kalau ingin bersedekah, lakukan saat niat itu muncul, meski sedikit. Jangan menunggu gajian atau ketika sudah banyak uang. Kalau ingin membaca Al-Qur’an, buka saat itu juga, meski hanya satu halaman. Kalau ingin shalat sunnah, berdiri sekarang, sebelum rasa malas punya alasan.
Karena begitu ditunda, niat itu akan berhadapan dengan banyak hal, logika, perasaan, bahkan keinginan-keinginan kecil yang tidak kita sadari.

Inilah tantangan terbesar di bulan Syawal. Bukan karena kita tidak tahu mana yang baik. Tapi karena kita terlalu sering memberi ruang bagi niat baik untuk “dipertimbangkan ulang”.

Padahal, Rasulullah sudah mengingatkan:
“Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang kontinu meskipun sedikit.” (HR. Shahih Bukhari dan Shahih Muslim).
Hadis ini terasa sangat membumi. Ia tidak menuntut kita untuk menjadi seperti di saat Ramadan. Ia hanya meminta satu hal: jangan berhenti.

Mungkin kita tidak bisa lagi membaca satu juz sehari.
Tapi satu halaman masih mungkin. Mungkin kita tidak lagi bersedekah sebesar kemarin. Tapi sedikit, masih bisa.
Mungkin kita tidak sholat malam seperti saat Ramadan. Tapi dua rakaat, masih sempat.

Syawal, pada akhirnya, bukan anti klimaks Ramadan. Tapi tentang pembuktian: apakah yang kita rasakan di Ramadan itu benar-benar hidup dalam diri, atau hanya suasana yang lewat.

Dan setiap kali niat baik itu mulai melemah, kita perlu mengingat cerita dari dapur tadi. Pada opor yang tidak jadi dibagi. Pada ayam iloni yang akhirnya hanya tinggal di meja sendiri.

Saya yakin, kita tidak ingin ibadah kita bernasib sama.
Jangan sampai niat baik itu hanya ada dalam pikiran, tapi tidak pernah sampai menjadi amal.
Jangan sampai bo mo jadi silita to potubua.(*)

Wallahu a’lam bishawab.

Sosial Media Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo :
Channel Youtube
Facebook Page
Facebook
Twitter
Instagram

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

fifteen + 9 =

scroll to top
Bahasa »