Duo Sherly. Menawan Saat Dipandang, Menarik Saat Berinteraksi

IMG-20260623-WA0005.jpg

Dr. Aryanto Husain
Selasa, 23 Juni 2026

Selamat datang di Gorontalo ibu Sherly Tjoanda, di kampungnya Sherly, sang hiupaus. Dua nama ini sedang viral. Sherly yang pertama hadir sebagai wanita cantik, Kepala Daerah terkaya saat ini, Gubernur Maluku Utara. Satunya lagi dalam bentuk hewan air yang besar tapi jinak, yakni hiu paus yang ada di destinasi wisata Botubarani, Gorontalo. Keduanya dipenuhi simbol dan makna, menjadi jembatan penghubung realitas yang berbeda.

Meskipun demikian Dua Sherly ini menawarkan refleksi menarik tentang daya tarik, kepercayaan, dan interaksi.

Tentang daya tarik, Sherly Sang Gubernur tampil memesona di panggung politik dengan gaya kepemimpinan yang charming, ramah, humble namun elegan. Dirinya tidak hanya berpidato di atas panggung elit secara mengesankan, namun masuk sampai kerumah reot, berdialog dengan hatinya pada seorang nenek buta.

Di sisi lain, Sherly si hiu paus mencuri perhatian wisatawan dengan gerak lambannya yang anggun di perairan tropis Teluk Tomini.

Dalam ekonomi perilaku, ini disebut sebagai “halo effect”—di mana persepsi positif pada satu aspek (penampilan, keanggunan, citra) memengaruhi penilaian kita terhadap kualitas lainnya (kompetensi, keramahan, keterhubungan). Dua Sherly ini seolah memanfaatkan daya tarik awal sebagai pemicu perhatian dan pemicu emosi positif, yang dalam konteks kepemimpinan dan pariwisata, adalah modal awal yang sangat kuat.

Seperti kata para pengamat ekonomi perilaku, kesan pertama sangat memengaruhi penilaian kita terhadap sesuatu (teori framing). Meskipun demikian, kecantikan visual tentu bukan segalanya. Nilai tertinggi muncul dalam interaksi. Gubernur Sherly menunjukkan pendekatan kolaboratif, merangkul banyak pihak, aktif mendengar warga miskin, dan mampu membangun koneksi emosional. Dengan suara renyahnya, ia menjadi contoh pemimpin yang tak hanya memikat dalam pidato, tapi juga menggerakkan dalam emosi keterikatan mereka yang mendengarkan.

Begitu halnya dengan Sherly, si hiu paus. Keunikan destinasi Botubarani bukan hanya karena kemunculan hiu paus, tapi karena pengalaman mendekatinya. Ia jinak, bersahabat, dan “seolah mau diajak berkomunikasi” melalui arus laut dan isyarat ketukan Pokdarwis yang menawarkan udang kecil sebagai makanan. Si Sherly dari Botubarani ini seperti sedang menunjukan konsep “experiential utility” dalam ekonomi perilaku, dimana individu cenderung lebih menghargai pengalaman nyata dan keterlibatan emosional ketimbang hanya tontonan pasif. Wisatawan semakin tertarik karena merasa kedekatan emosi yang kuat dengan hewam pemakan plankton ini

Ketertarikan kita pada dua Sherly ini juga mengungkap fenomena bounded rationality, dimana orang membuat keputusan atas dasar intuisi, kesan, dan pengalaman emosionalnya saja tanpa perlu mempertimbangkan hal lainnya. Publik mungkin jatuh hati dan respek pada Gubernur Sherly karena gaya komunikasinya yang hangat. Sebaliknya, wisatawan bisa saja memutuskan ke Gorontalo hanya karena melihat video Sherly yang menarik di tayangan videotron Kemenpar atau reels lucu si hiu paus yang tampak bersahabat di video TikTok.

Orang tidak akan lagi memedulikan kelemahan yang mungkin dimiliki sang Gubernur atau kekurangan sarpras pendukung di destinasi Botubarani. Semua itu sirna karena kesan pertama.

Membuat daya tarik bisa jadi mudah. Kata orang, kesan pertama begitu menggoda. Namun mempertahankannya tidak mudah. Diperlukan konsistensi, komitmen dan keterlibatan emosi dan perasaan.

Gubernur Sherly dan Sherly, sang hiu paus bisa menjadi simbol keanggunan pemimpin dan ikon pariwisata yang bisa membangun loyalitas dan mendorong lonjakan kunjungan wisatawan jika interaksinya terus dirawat, tetap konsistensi, memegang komitmen dan selalu melibatkan emosi dan perasaan dalam setiap interaksi.

Kunci daya tariknya bukan hanya di panggung pertama, melainkan dalam hubungan jangka panjang yang dibangun dari kepercayaan dan keterlibatan emosional. Di sinilah dua Sherly ini menjadi pelajaran menarik. Satu di panggung politik, satunya di laut biru yang jernih. Mereka memiliki dua dunia berbeda, namun hadir dengan satu pesan yang sama, orang jatuh hati bukan hanya karena apa yang mereka lihat, tetapi karena apa yang mereka rasakan saat terlibat di dalamnya.

Dalam narasi dua Sherly ini, kita bisa mengambil pembelajaran bahwa keindahan bukan hanya apa yang tampak, tapi juga apa yang kita rasakan. Entah itu pemimpin yang peduli atau hiu paus yang bersahabat, interaksi yang hangat dan bermakna adalah kunci untuk menarik dan mempertahankan perhatian publik. Dalam dunia yang makin berisik dan kompetitif, keunikan dan koneksi emosional ini adalah investasi perilaku yang paling berharga.#

Sosial Media Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo :
Channel Youtube
Facebook Page
Facebook
Twitter
Instagram

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

eighteen − nine =

scroll to top
Bahasa »