Rindu Kampung (2)

IMG-20260601-WA0002.jpg

Oleh: Anang S. Otoluwa

Sore menjelang Idul Adha 1447 H, lima desa di Kecamatan Biau, Gorontalo Utara dilanda banjir. Air menjebol tanggul di sekitar pemukiman KAT Desa Didingga, menerjang, dan merendam rumah-rumah warga. Banjir memporak-porandakan persiapan hari raya yang seharusnya penuh suka cita.

Di saat sebagian orang bersiap menyambut takbir dan berkumpul bersama keluarga, Bupati Thariq Modanggu, memilih bermalam di lokasi banjir. Padahal, sebagai Bupati, agenda lebaran haji itu sudah disiapkan dengan rapi.

Keesokan harinya, setelah menunaikan salat Id di Biau, beliau tidak berlama-lama menikmati suasana hari raya. Beliau langsung turun lapangan untuk memastikan penanganan dampak banjir berjalan cepat, dan masyarakat memperoleh bantuan yang mereka butuhkan.

Siangnya, saat saya bertemu beliau di SPPG Biau, Bupati bercerita tentang keputusannya itu. Beliau menjelaskan, jika malam itu dia pulang ke Kwandang, maka koordinasi penanganan tidak bisa cepat. Sebab, ke Kwandang itu butuh waktu perjalanan 2 jam. Bisa dibayangkan, jam berapa pelayanan dapur umum bisa dimulai, jika tidak diatur sejak tadi malam.

“Ini bagian dari rindu kampung juga, Pak Kadis.” kata beliau memperkuat argumennya.

Kalimat terakhir itu terus terngiang dalam pikiran saya. Bupati seolah menegaskan, bahwa apa yang dia lakukan saat ini, adalah implementasi Rindu Kampung seperti yang baru saja dilaksanakan di Ponelo Kepulauan dua hari sebelumnya (baca tulisan Rindu Kampung 1).

Sambil memantau pengepakan makan siang untuk warga, Bupati lalu bercerita tentang sejarah lahirnya program Motabi Kambungu (Rindu Kampung) itu.

Kisahnya ternyata berawal dari sebuah persoalan yang sangat praktis. Pada masa awal menjabat sebagai Bupati, ada masalah pertanahan di kawasan transmigrasi.
Setelah ditelusuri, penyelesaiannya harus melibatkan empat organisasi perangkat daerah (OPD). Ini berpotensi lama, bahkan bisa jadi urusannya tidak tuntas.

Saat itu beliau berpikir, mengapa masyarakat yang harus bolak-balik mendatangi empat kantor berbeda untuk mengurus satu masalah? Agar lebih cepat terpecahkan, bukankah lebih baik empat OPD itulah yang datang menemui masyarakat?

Dari pemikiran sederhana itu lahir sebuah gagasan besar. Jika empat OPD bisa turun bersama, mengapa tidak seluruh OPD yang memiliki program di desa ikut hadir? Mengapa pelayanan tidak dibawa langsung ke kampung-kampung?

Awalnya, Bupati sempat terpikir memberi nama program itu “Keroyok Kampung”. Maksudnya baik, yaitu mengerahkan seluruh kekuatan pemerintah untuk membantu desa secara bersama-sama. Namun ada sesuatu yang terasa kurang sreg. Kata “keroyok” memiliki kesan yang keras dan kurang mencerminkan semangat yang ingin dibangun.

Hingga suatu hari, menjelang menunaikan salat (motabiya) di masjid, muncul ide cemerlang. Motabiya, atau “motabi de Eya”, juga bermakna rindu kepada Tuhan. Kata Motabi atau Rindu ini terasa lebih menyentuh hati.

Saat sholat, kata Motabi itu terus terbayang dalam pikirannya. “Jujur Pak dokter, saat itu sholat saya jadi kurang khusuk”, katanya sambil tersenyum.

Motabi, dalam bahasa Gorontalo, berarti kerinduan yang mendalam. Beliau kemudian menghubungkannya dengan makna spiritual. Jika ibadah adalah ekspresi kerinduan manusia kepada Tuhan, maka mengapa pemerintah tidak mengekspresikan kerinduan kepada kampungnya sendiri?

Maka lahirlah nama Motabi Kambungu—Rindu Kampung.
Nama yang sederhana, tetapi menyimpan filosofi yang besar. Sebab sesungguhnya membangun kampung tidak cukup hanya dengan anggaran, program, dan target kinerja. Kampung dibangun oleh rasa memiliki. Kampung dibangun oleh kerinduan untuk selalu kembali, mendengar, dan membersamai masyarakatnya.

Mungkin karena itulah Motabi Kambungu tidak pernah sekadar menjadi agenda pelayanan publik. Ia tumbuh menjadi cara pandang dalam memimpin. Sebuah keyakinan bahwa pemerintah harus hadir sedekat mungkin dengan rakyatnya.

Saya kemudian memahami mengapa pada malam banjir itu Bupati memilih bermalam di Biau. Bukan karena tidak ada tempat yang lebih nyaman untuk beristirahat. Bukan pula karena ingin dilihat atau dipuji. Tetapi karena ketika masyarakat sedang menghadapi kesulitan, kerinduan untuk bersama mereka menjadi lebih kuat daripada keinginan untuk berada di tempat yang nyaman.

Di situlah saya memahami bahwa Motabi Kambungu bukan sekadar nama program.
Ia adalah filosofi kepemimpinan. Sebuah kerinduan yang diterjemahkan menjadi tindakan. Kerinduan yang membuat seorang pemimpin rela menempuh perjalanan jauh untuk mendatangi rakyatnya. Kerinduan yang membuat pemerintah tidak menunggu masyarakat datang ke kantor, tetapi justru membawa pelayanan ke halaman rumah warga.

Kerinduan itu pula yang membuat seorang pemimpin memilih bermalam di tengah banjir, agar ketika pagi tiba, masyarakat tidak merasa menghadapi musibah sendirian.

Di zaman ketika banyak hal dapat dilakukan dari balik meja dan layar, kehadiran menjadi sesuatu yang semakin berharga. Sebab bagi masyarakat kampung, bantuan memang penting. Namun sering kali yang lebih menenangkan adalah mengetahui bahwa ada pemimpin yang hadir, mendengar, dan merasakan apa yang mereka rasakan.

Barangkali itulah makna terdalam dari rindu kampung. Bukan sekadar kembali ke kampung halaman. Tetapi memastikan bahwa kampung selalu memiliki tempat di hati, dalam pikiran, dan dalam setiap keputusan yang diambil oleh pemimpinnya.(*)

Sosial Media Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo :
Channel Youtube
Facebook Page
Facebook
Twitter
Instagram

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

five × 5 =

scroll to top
Bahasa »