Made Saritani

IMG-20260521-WA0009.jpg

Oleh: Anang S. Otoluwa

NAMA aslinya Made Kuat. Tapi bagi banyak orang, terutama di lingkungan kesehatan, dia lebih dikenal sebagai Made Saritani. Di kontak hp saya, namanya juga begitu: Made Saritani.

Saya memang sengaja menyematkan nama Saritani di belakang namanya. Sebab menurut saya, tidak banyak orang yang mampu membuat nama sebuah tempat ikut terkenal karena pengabdiannya. Di antara yang sedikit itu, Pak Made salah satunya.

Sudah beberapa kali saya menyaksikan sendiri bagaimana kepala puskesmas yang bertugas di tempat terpencil itu membawa nama Saritani dikenal secara nasional.

Pertama, saat launching buku Pedoman Kerja Puskemas Integrasi Layanan Primer (ILP) oleh Kementerian Kesehatan, tahun 2024. Waktu itu, Puskesmas Saritani menjadi Terbaik 1 kategori puskesmas sangat terpencil dalam layanan ILP. Saya hadir mendampingi Pak Made menerima penghargaan yang diserahkan langsung oleh Pak Budi Gunadi Sadikin itu. Saat itu, saya betul-betul bangga, ternyata puskesmas yang jalannya saja masih berlumpur ketika hujan, bisa melahirkan prestasi tingkat nasional.

Kedua, saat kegiatan pelatihan kepemimpinan (PIM 2) tingkat nasional yang digelar Bapelkes Cilandak dan Kemenkes. Dari sekian banyak puskesmas, penyelenggara memilih Puskesmas Saritani sebagai lokasi pembelajaran lapangan.
Iseng saya bertanya: “Kenapa pilih Saritani?”

Jawaban panitia sederhana. Karena puskesmas Saritani dianggap mampu menghadirkan pelayanan kesehatan ke semua warga meskipun berada di wilayah terpencil.
Mereka melihatnya dari berbagai laporan dan capaian di aplikasi pelayanan kesehatan.
“Prestasi Puskesmas Saritani sudah lama dalam pantauan radar kami”, kata panitia.

Ketiga, hari ini, saya kembali dibuat bangga oleh Pak Made. Dia diundang menjadi pembicara pada kegiatan yang dilaksanakan Asosiasi Klinik Sulawesi Tengah, 21-22 Mei di Palu. Saya lihat daftar pembicaranya, banyak nama hebat disana. Bahkan Gubernur setempat dijadwalkan membuka acara.

Saya lalu bertanya-tanya. Apa sebenarnya yang membuat Pak Made berbeda? Apakah karena namanya “Kuat”, sehingga mentalnya ikut kuat? Atau karena terlalu lama hidup di daerah terpencil, sehingga dia menjadi kreatif?

Bagi yang belum pernah ke Saritani, mungkin perlu sesekali mencoba perjalanan ke sana. Dari ibu kota kecamatan, jaraknya masih cukup jauh. Jalannya sebagian masih tanah liat. Ada jembatan yang kalau hujan deras, tidak bisa dilewati karena tenggelam di bawah air. Karenanya anda harus waspada jika kehujanan saat di puskesmas, bisa-bisa anda tidak bisa pulang.

Dan yang paling terkenal adalah sebuah tanjakan bernama “Bukit Penyesalan”. Konon, orang yang sudah sampai di bukit itu akan mulai menyesal. Jalan menuju bukit dan penurunannya rusak parah. Mau lanjut rasanya berat, mau kembali juga terasa tanggung. Akhirnya mereka “dipaksa” meneruskan perjalanan sambil menyesali keputusannya pergi ke Saritani.

Tapi cerita tentang sulitnya Saritani tidak pernah berhasil mengalahkan semangat Pak Made. Sudah bertahun-tahun dia mengabdi di sana. Hebatnya, saya belum pernah sekalipun mendengar dia meminta pindah. Jangankan minta pindah, mengeluh kepada saya saja hampir tidak pernah.

Padahal, jika dia mau, banyak yang bisa dikeluhkan. Jaringan internet terbatas. Tenaga kesehatan kurang. Akses sulit. Tapi Pak Made memilih mencari jalan keluar dibanding memperpanjang daftar keluhan.

Saat puskesmas lain sibuk mengeluhkan internet lambat, dia mencari solusi dengan memasang Starlink. Ketika dokter kosong, dia tidak sibuk menyalahkan keadaan. Dengan dana kapitasi yang terbatas, dia berusaha mengontrak dokter sendiri agar pelayanan tetap maksimal.

Kiprah Pak Made di atas mengajari saya satu hal. Ternyata, yang membuat sebuah puskesmas maju bukan semata-mata gedungnya, bukan juga letaknya. Tetapi semangat orang yang memimpinnya.

Kadang kita terlalu cepat menyerah pada keadaan. Baru jalan yang sedikit rusak sudah merasa paling susah. Baru sinyal hilang beberapa jam sudah merasa tidak bisa bekerja. Baru tenaga kurang sedikit sudah merasa pelayanan mustahil dijalankan.
Padahal di luar sana, ada orang-orang seperti Pak Made yang bekerja dalam keterbatasan tanpa kehilangan semangat.

Atau, mungkin justru keterbatasan itu yang membuat Pak Made bertambah semangat?

Pak Made pernah cerita kepada saya, sejak kecil, hidupnya memang penuh perjuangan. Saat tamat SMP, untuk membantu ekonomi keluarga, dia melamar menjadi sopir kepada dr. Ilahude (Kepala Dinas Kesehatan saat itu). Tapi karena umurnya belum cukup 17 tahun, dia tidak diterima sebagai sopir.

Tapi, penolakan itu mengantarkan dia bersentuhan dengan dunia kesehatan. Tidak jadi sopir, dia malah disekolahkan di SPK oleh dr. Ilahude. Dia pun tinggal bersama dr. Ilahude.

Sayang, baru 2 tahun, dr. Ilahude harus pindah ke Surabaya. Sekali lagi, Pak Made beruntung. Ada ibu Ida Oli’i yang menampungnya, hingga dia bisa menyelesaikan SPK.

Karena merasa hidupnya banyak terbantu, Pak Made berusaha mengabdikan dirinya sekuat tenaga, agar kemudahan yang dia terima itu, terbalaskan dengan kerajinannya. “Pendeknya apa saja yang disuruh, saya kerjakan dengan baik”, kisah Pak Made.

Mungkin hidup keras itulah yang membentuk mentalnya. Karena orang yang terlalu sering dimudahkan, biasanya gampang menyerah. Sedangkan orang yang sejak awal terbiasa sulit, seringkali tumbuh menjadi pribadi yang tahan banting.

Dari Pak Made saya juga belajar, pengabdian tidak harus selalu dimulai dari tempat yang sempurna. Prestasi juga tidak harus menunggu fasilitas lengkap. Kadang yang dibutuhkan hanya satu hal: kemauan untuk tetap bekerja maksimal dalam keadaan apa pun.

Dan saya kira, daerah ini membutuhkan lebih banyak kepala puskesmas seperti Made Saritani. Orang-orang yang tidak sibuk mencari justifikasi, tetapi sibuk mencari solusi. Bahkan prestasi.(*)

Sosial Media Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo :
Channel Youtube
Facebook Page
Facebook
Twitter
Instagram

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

20 − 16 =

scroll to top
Bahasa »