Triple Ayu

WhatsApp-Image-2026-04-28-at-08.07.37.jpeg

Penghargaan kepada tiga petugas SMILE dari Kabupaten Boalemo.

Oleh: Anang S. Otoluwa

Sudah lumrah bagi saya menjumpai orang bernama Ayu, sekaligus berparas ayu. Tapi bertemu dengan 3 orang Ayu yang kinerjanya juga ‘ayu’, baru ini saya alami. Karena itu, saya menyebutnya: Triple Ayu.

Entah kebetulan atau tidak, semua itu saya temukan dalam pertemuan evaluasi sistem perbekalan kesehatan di Grand Q Hotel, Senin (27/4). Forum yang biasanya dipenuhi angka, laporan, dan catatan koreksi itu tiba-tiba menghadirkan cerita tentang ketekunan yang jarang disorot.

Ayu pertama adalah Sri Rahayu Tatulus, petugas Instalasi Farmasi Dinas Kesehatan Boalemo.
Namanya disebut oleh Pak Gelar (Ketua Timker Farmalkes), sebagai yang terbaik se-Gorontalo dalam hal pencatatan dan pelaporan pada Sistem Monitoring Imunisasi dan Logistik secara Elektronik (SMILE). Pada pertemuan itu, dia diberi kesempatan memaparkan praktek baiknya.

Saat memberikan sambutan, saya minta dia berdiri. Saya ingin tahu, apa kehebatannya. Dari Pak Gelar saya dapat info, kalau Ayu disiplinnya minta ampun. Dia tidak pernah menunda laporannya. Setiap transaksi, langsung diinput. Setiap pergerakan, langsung dicatat. Tidak ada data yang menginap. Hari ini terjadi, hari ini selesai.

Dari kebiasaan sederhana itu, lahir ketertiban. Dan dari ketertiban, lahir kepastian, bahwa obat dan vaksin tidak pernah kosong. Mereka juga proaktif untuk melapor, walau belum diminta dari Provinsi.

Lebih dari itu, Sri Rahayu tidak berhenti di ruang kerjanya sendiri. Ia menghidupkan sistem, mendorong rumah sakit dan puskesmas untuk ikut tertib. Ia tidak hanya menjaga stok, tapi menjaga ekosistem. Sehingga ketika ada evaluasi dari Kemenkes maupun UNDP, tidak ada catatan koreksi buat mereka. Ayu, membuat harum nama Boalemo dan Provinsi Gorontalo setiap kali evaluasi.

Saya kagum mendengar cara kerjanya itu. Karenanya, saya minta dia menyebut siapa yang banyak membantu dia sehingga berkinerja ‘ayu’ seperti ini.

Yang dia sebut duluan ternyata petugas farmasi dari puskesmas Botumoito. Yang bikin saya kaget, namanya ternyata juga Ayu. Lengkapnya, Ayu Wardani Djafar. Dan sebagaimana Ayu pertama, tidak ada cerita yang rumit dari puskesmasnya. Ia hanya konsisten menginput tanpa disuruh. Ia mengecek setiap hari. Menjaga agar tidak ada selisih. Memperbaiki sebelum masalah membesar.

Ayu ketiga, adalah Wahyun Saktiani Hasan, dari Rumah Sakit Clara Gobel. Namanya disebut untuk kategori yang sama: terbaik dari Rumah Sakit. Ia pun tidak banyak cerita, kecuali disiplin menginput. Tapi di situlah letak kehebatannya. Di tengah keterbatasan, ia memilih disiplin. Di tengah kesibukan, ia memilih menuntaskan. Mereka tidak slow respon meski libur, kalau ada notifikasi di SMILE.

Tiga orang Ayu ini mendadak bikin gempar acara hari itu. Mereka tersebar di tiga tempat, tapi bisa dalam satu irama yang sama.

Kepada Pak Gelar, saya minta memberi mereka hadiah. Saya senang mendengar ada staf yang diam-diam bekerja, tapi menghasilkan prestasi seperti ini. Sudah bosan saya mendengar komplain: pasien disuruh cari sendiri obat di luar, dengan alasan obat di RS kosong. Atau keluarga pasien yang hampir tiap hari mengambil obat di puskesmas dengan alasan stok obat terbatas.

Alhamdulillah, malamnya saya menerima foto yang jadi penghias tulisan ini. “Pesan Pak Kadis kami sudah laksanakan”, kata Pak Gelar.

Sampai tulisan ini dibuat, saya belum tahu apa hadiahnya. Tidak ada juga komplain dari triple Ayu ini. Padahal kepada mereka saya berpesan, akan menambah hadiahnya, jika itu mereka anggap masih kurang. Karenanya, saya buat tulisan ini sebagai hadiah tambahan.(*)

Sosial Media Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo :
Channel Youtube
Facebook Page
Facebook
Twitter
Instagram

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

nineteen − fifteen =

scroll to top
Bahasa »