Refleksi Tahun Ketiga

IMG-20260317-WA0020.jpg

(Tulisan spesial buat teman-teman)

Oleh: Anang S. Otoluwa

Hari ini, 17 Maret, genap tiga tahun saya bertugas di Gorontalo sebagai Kepala Dinas Kesehatan Provinsi. Teman-teman mungkin sudah lupa. Tapi saya, masih ingat betul hari pelantikan itu. Teman-teman menyambut antusias dan nampak cerah ceria. Bahkan RS Ainun menyambut saya dengan bunga yang jadi pemanis tulisan ini.

Hari ini, tanpa terasa, saya sudah harus berefleksi tahun ketiga. Ya, tiga tahun. Waktu yang tidak pendek, tetapi juga tidak cukup panjang untuk menyelesaikan semua persoalan kesehatan di bumi Serambi Madinah ini.

Ada hal-hal yang ketika saya lihat kembali, menghadirkan rasa syukur. Misalnya, di tahun pertama, kita dihadiahi Wapres dana insentif daerah (DID) untuk kinerja penurunan stunting. Tahun kedua, capaian penimbangan serentak balita kita menjadi yang pertama mencapai 100% di Indonesia. Kemudian, di tahun ketiga, capaian Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang menjadi yang tertinggi se Indonesia.

Semua capaian itu tidak datang begitu saja. Itu adalah hasil dari kerja keras yang mungkin tidak selalu terlihat. Kerja yang dilakukan dengan sungguh-sungguh, bahkan ketika tidak ada yang mengapresiasi secara langsung.

Begitu juga dengan capaian pengendalian hipertensi dan diabetes melitus. Capaian kita tinggi sendiri, jauh meninggalkan provinsi lain. Kita tahu, ini bukan pekerjaan yang sederhana. Dibutuhkan ketekunan, sistem yang rapi, dan kesabaran yang panjang. Dan kita telah membuktikan bahwa itu bisa dilakukan.

Tetapi di sisi lain, ada bagian-bagian yang belum selesai.
Penemuan kasus TB kita belum mencapai target. Kasus Campak yang meningkat, dan ini terkait dengan capaian imunisasi dasar. Angka kematian ibu, tahun ini kembali menunjukkan kenaikan yang mengkhawatirkan.

Setiap kali saya membaca angka-angka itu, rasanya seperti diingatkan kembali bahwa masih ada yang perlu kita perbaiki. Ini tidak bisa ditunda.
Karena di balik angka itu, ada kehidupan yang tidak sempat kita selamatkan. Ada kematian yang tidak bisa kita cegah.

Karena itu, di momen refleksi 3 tahun ini, saya bertanya pada diri sendiri dan juga kepada kita semua: apakah kita sudah bekerja dengan kemampuan terbaik kita?

Pertanyaan itu yang kemudian mendorong saya untuk mulai mengajak, bahkan menuntut, seluruh jajaran untuk bekerja dengan kemampuan penuh. Tidak setengah-setengah. Tidak sekadar menggugurkan kewajiban.

Saya senang menyebut ini sebagai membangun “DNA juara”.

Bagi saya, DNA juara bukan soal menjadi nomor satu di atas kertas. Ia adalah cara berpikir dan cara bekerja. Tentang bagaimana kita tidak cepat puas, bagaimana kita berani memperbaiki diri, dan bagaimana kita tetap bertanggung jawab bahkan ketika tidak ada yang melihat.

DNA juara berarti setiap program tidak hanya dijalankan, tetapi dipastikan berdampak. Termasuk untuk setiap perjalanan dinas, saya berharap agar ada output yang bisa diukur.

Demikian juga untuk setiap masalah. Ia tidak boleh hanya dicatat, dibahas di rapat, tetapi benar-benar dicari solusinya. Dan setiap kegagalan tidak ditutup-tutupi, tetapi dijadikan bahan untuk belajar dan bangkit lebih kuat.

Saya percaya, jika semangat ini benar-benar hidup di dalam organisasi kita, maka perubahan itu bukan sesuatu yang mustahil.

Waktu saya mungkin tidak panjang lagi di posisi ini. Tahun depan, saya tidak lagi punya kesempatan untuk berdiri di titik yang sama dan melakukan refleksi seperti hari ini.

Karena itu, yang ingin saya pastikan bukanlah bahwa semua masalah selesai hari ini, tetapi bahwa arah perbaikannya sudah jelas. Bahwa fondasinya sudah kita letakkan. Dan yang paling penting, bahwa semangat untuk terus memperbaiki itu sudah tumbuh di dalam diri kita semua.

Alhamdulillah, semangat itu mulai menunjukkan hasil. Penyebaran berita Godigi misalnya, kita selalu 100%. Demikian pula pengumpulan infak GIC. Itu adalah contoh kecil yang menunjukkan DNA Juara.

Kalaupun ada yang belum maksimal, tidak apa-apa. Kita mungkin tidak akan selalu melihat hasil dari apa yang kita mulai. Tetapi pekerjaan ini bukan tentang siapa yang menyelesaikan, melainkan tentang siapa yang memastikan bahwa perubahan itu terus berjalan.

Saya melihat harapan itu ada pada kita. Di setiap staf yang bekerja diam-diam tetapi konsisten. Di setiap tenaga kesehatan yang tetap melayani meskipun dalam keterbatasan anggaran. Dan di setiap orang yang masih percaya bahwa apa yang kita kerjakan ini adalah bagian dari menjaga kehidupan.

Mari kita lanjutkan pengabdian ini dengan cara yang berbeda. Bukan dengan cara-cara lama. Bekerja lebih sungguh-sungguh. Lebih berani mengambil tanggung jawab. Lebih peduli terhadap hasil, bukan hanya proses.

Jika hari ini kita menanam dengan baik, maka suatu saat nanti—meskipun mungkin bukan kita yang memanen—Gorontalo akan merasakan hasilnya.

Dan ketika sukses itu tiba, kita akan bangga bahwa kita pernah menjadi bagian dari perubahan itu.

Selamat berlibur teman2 semua. Ingat pesan Gubernur di apel tadi, hp kita harus tetap siaga. Karena disana ada berita yang harus dishare, ada infak yang harus dikumpulkan, dan yang paling penting, ada kebutuhan masyarakat kepada kita yang tidak bisa diliburkan.(*)

Sosial Media Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo :
Channel Youtube
Facebook Page
Facebook
Twitter
Instagram

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 × two =

scroll to top
Bahasa »