Oleh: Anang S. Otoluwa
Sebuah foto 7 tahun lalu, tadi sore muncul di linimasa saya. Dalam foto itu, terlihat kami berada di sebuah mobil loader yang angker. Kami baru saja bertolak pulang dari Dusun Kohoas, sebuah dusun terpencil di Tobelombang, Kecamatan Nuhon, Kabupaten Banggai.
Saya duduk di belakang stir, sementara di bagian bak belakang, sopir saya, Iwan Bama (kaos orange), berdiri berpegangan pada kap mobil.
Sekilas, foto itu memperlihatkan saya seperti sedang menyetir — padahal sesungguhnya, Iwanlah pengemudi sejati yang sehari-hari setia mendampingi perjalanan dinas saya ke daerah-daerah sulit.
Hari itu, ia saya minta beristirahat sejenak, sementara saya mengambil alih kemudi untuk beberapa meter perjalanan di tengah sungai yang cukup dalam.
Pemandangan itu tiba-tiba mengingatkan saya pada kisah terkenal tentang Albert Einstein dan sopirnya. Konon, karena sang sopir selalu menemani Einstein ke berbagai forum ilmiah, ia hafal betul seluruh isi ceramah sang ilmuwan. Hingga pada suatu ketika, Einstein yang kelelahan meminta sang sopir menggantikannya berbicara di depan publik. Segalanya berjalan lancar sampai muncul satu pertanyaan rumit dari hadirin. Tanpa kehilangan akal, si sopir menjawab dengan tenang, “Ah, pertanyaan itu terlalu mudah, biarlah sopir saya yang menjawab,” sambil menunjuk Einstein asli yang duduk di antara para tamu.
Cerita itu, sederhana namun sarat makna. Ia mengajarkan bahwa pengalaman dan kebersamaan bisa menjadi sumber belajar yang luar biasa, bahkan tanpa harus selalu duduk di bangku kuliah. Dalam dunia kerja pelayanan publik — termasuk bidang kesehatan — pelajaran serupa juga berlaku. Kita belajar dari lapangan, dari interaksi dengan masyarakat, dan dari setiap perjalanan yang menantang.
Mengunjungi daerah terpencil seperti Dusun Kohoas selalu memberikan kesan mendalam bagi saya. Jalan berlumpur, jembatan yang rapuh, atau sungai yang harus diseberangi bukanlah hambatan, melainkan bagian dari panggilan tugas yang penuh makna. Memberikan layanan kesehatan kepada mereka yang jarang tersentuh bukan sekadar kewajiban administratif, melainkan wujud nyata dari nilai kemanusiaan dan keadilan sosial.
Sebagai Kepala Dinas Kesehatan, ada kepuasan tersendiri ketika bisa memotivasi staf agar mau dan mampu menjangkau masyarakat yang berada di pinggiran, jauh dari akses layanan. Di sanalah esensi dari pembangunan kesehatan sejati — bukan hanya di ruang ber-AC dengan rapat dan laporan, tetapi di tengah warga desa yang menunggu pertolongan dengan mata penuh harap.
Saya sering berpikir, perjalanan seperti itu bukan hanya tentang membawa obat dan alat kesehatan, melainkan juga membawa semangat dan harapan. Kadang, kehadiran petugas kesehatan lebih berarti daripada sekadar pelayanan medis itu sendiri. Ia memberi pesan bahwa negara hadir, bahwa setiap nyawa — di gunung, lembah, atau pulau terpencil — sama berharganya.
Layaknya kisah Einstein dan sopirnya, pengalaman di lapangan membuat kita saling belajar. Para sopir, bidan desa, perawat, sanitarian, hingga kepala puskesmas — semuanya adalah bagian dari ekosistem pembelajaran yang membentuk kita menjadi pelayan masyarakat yang lebih peka, rendah hati, dan tangguh.
Mungkin, di mata sebagian orang, perjalanan ke dusun terpencil hanyalah tugas rutin. Namun bagi saya, itu adalah laboratorium kehidupan, tempat di mana teori bertemu kenyataan, dan di mana setiap langkah menjadi refleksi tentang arti pelayanan yang sesungguhnya.(*)
Sosial Media Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo :
Channel Youtube
Facebook Page
Facebook
Twitter
Instagram
