Ketika Buruknya Pelayanan Kesehatan Lebih Viral dari Program Kesehatan Itu Sendiri

IMG-20250512-WA0002.jpg

Oleh : Arman Saidi, SKM (Epidemiolog Kesehatan)

Salam Sehat dari Sabua, 11 Mei 2025- Sore itu badan saya sedang pegal, mungkin karena dua hari lalu terlalu full aktivitas. Dimana saya ikut bersama tim ekspedisi ke salah satu Pulau di Gorontalo dalam memenuhi undangan oleh salah satu Puskesmas di daerah Kepulauan. Sehingganya seharian ini saya hanya rebahan memulihkan kondisi tubuh sambil asik skrol medsos.

Tiba-tiba saja nongol salah seorang yang dengan gagah berani bak pejuang kemanusiaan sedang memaparkan kebobrokan pelayanan kesehatan di salah satu Fasilitas Pelayanan Kesehatan tingkat pertama. Saya pun terprovokasi seperti terhipnotis oleh video itu, bahwa apa yang diperlihatkan memang kenyataan yang pernah saya alami. Seperti orang awam saya lantas ingin ikut memaki dalam kolom komentar atas buruknya pelayanan kesehatan yang ada selama ini.

Namun, hal itu saya urungkan karena mengingat saya sendiri dan istri saya juga seorang tenaga kesehatan (perawat) dan pernah bertugas di Puskesmas dan Rumah Sakit Swasta. Dengan segala dedikasi dan risiko kerjanya saya pahami bahkan berbanding terbalik dengan apa yang didapat. Walau sebenarnya dalam prinsip utama tenaga kesehatan seharusnya bukan soal take and give, seperti mantan yang selalu kita prioritaskan namun lebih memilih yang lain dan berpaling kelain hati. Hihihihi…

Lantas seperti apa pemberitaan yang ada ? bahwa Gorontalo kembali geger, bukan karena konser K-pop atau diskon besar-besaran di Mart merah dan mart biru yang itu, tapi karena satu hal yang selalu bikin rakyat kebat-kebit : pelayanan Puskesmas. Ya, salah satu Puskesmas di Gorontalo jadi sorotan setelah seorang warga meluapkan kekesalannya di media sosial hingga diberitakan di televisi nasional. Tidak tanggung-tanggung, sebagai bentuk protes susulan, warga tersebut menggelar aksi tidur di emperan jalan saat Car Free Day—yang artinya dia tidur di tempat orang lain lagi lari pagi. Ironis ? Jelas. Lucu ? Sedikit. Tapi serius ? Sangat.
Aksi ini sebagai simbol bahwa “yang tidur seharusnya pasien, bukan petugas Puskesmas”. Bayangkan, ambulans datang bawa pasien, tapi petugasnya tidur lelap. Entah itu tidur siang, tidur ayam, atau tidur memalukan—yang pasti bukan tidur profesional.

Padahal, hampir seluruh Puskesmas khususnya di Gorontalo ini sudah terakreditasi bahkan ada yang sampai predikat Paripurna. Lengkap dengan piagam di dinding dan kumpulan foto selfie saat visitasi. Ada standar pelayanan, SOP, dan bahkan banner motivasi yang berbunyi “Kami Melayani dengan Hati”—tapi sayangnya, yang dilayani justru kadang malah emosi dan bikin sakit hati.

Yang pro terhadap protes ini bilang, “Sudah saatnya pelayanan dibenahi ! Ini soal nyawa !” Tapi yang kontra berkata, “Tenaga kesehatan juga manusia, bisa lelah, bisa capek, gaji tak seberapa, disuruh kerja 24 jam, kadang dibayar dengan senyuman dan nasi kotak sisa acara.”

Kondisi tenaga kesehatan di lapangan memang tidak selalu semanis brosur promosi BPJS. Mereka kadang bekerja di tengah keterbatasan, dalam tekanan birokrasi, dengan insentif yang lebih cocok disebut “sedekah ikhlas bulanan”. Namun di sisi lain, pelayanan publik harus tetap profesional, sebab nyawa orang bukan materi praktik.

Saya teringat dulu waktu mengabdi di salah satu Puskesmas di Kabupaten Bolaang Mongondow – Sulawesi Utara, celoteh Kepala Puskesmas saya yang sampai sekarang bikin saya senyam-senyum sendiri selain memang karena tingkah unik dan jenakanya beliau. Dalam diskusi kami yang garing beliau bertutur dengan dialeg Manado “Skolah biar pun mo tutup satu tahun barangkali belum ada yang mo bodok, mar coba tu Puskesmas pi tutup biar cuma satu jam, ngoni hitung jo brapa yang mo mampos ?”. Bahwa begitu vitalnya pelayanan kesehatan sampai-sampai bisa dikatakan mewakili peran tuhan (ini definisi pribadi).

Tapi… masyarakat juga kadang lucu. Saat nakes sedang sayang-sayangnya, eh malah di cuekin dan tak dianggap. Giliran sedang terpuruk kemudian di sambut dengan kurang ramah malah seperti mantan yang nuntut balikan tapi kita lagi move on ke gebetan baru. Terus dibilang kita yang bangsat dan suka PHP. Yah, dilematis juga sih..

Banyak program kesehatan yang diluncurkan pemerintah dengan harapan mampu untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Program imunisasi, misalnya. Begitu banyak penolakan seakan vaksin itu racikan warung. Vaksin dan Imunisasi adalah konspirasi. Ada lagi golongan yang merasa paling dekat dengan pencipta dengan sorban (seperti Walid) koar-koar haram tanpa tabayun dan ilmu, hanya karena taklid butanya. Eh, ketika ingin menunaikan ibadah haji atau umroh, mau tak mau tetap harus divaksin. Ini bukan ingin mendiskreditkan sabagian kelompok dengan pemahaman agama tertentu. Tapi tingkah ngeyel yang menafikkan mudorat dibanding maslahat umat ini yang bikin gusar.

Cek kesehatan gratis juga malah dianggap jebakan marketing. Giliran sakit malah koar-koar pemerintah tidak memenuhi kewajiban warga negaranya. Padahal sudah dikasih yang gratis untuk mendeteksi potensi atau risiko penyakit agar dapat dicegah sedini mungkin. Kemudian ada Program PHBS yang diteriakkan di tiap rumah tangga, sekolah, fasilitas publik, tempat ibadah, tapi masih ada yang cuci piring pakai pasir. Eh, salah. Harusnya Cuci tangan pakai sabun dong. Yah, walaupun memang masih banyak juga nakes yang masih merokok. Masih ada Kepala Dinas Kesehatan dan Kepala Puskesmas yang ruangannya bau asap rokok. Ini kembali lagi pada keteladanan, bahwa jadi nakes itu berat tidak hanya mengedukasi secara verbal tapi juga mengatraksikan lewat sikap sehari-hari. Supaya apa ? masyarakat bisa yakin dengan apa yang dinasehatkan.

Ada juga Program Stop BABS, hampir kita dapati spanduknya di tiap halaman Puskesmas dan Kantor Desa/Kelurahan “Jangan Berak sembarang” (sarkas). Tapi got-got, semak belukar di bawah pohon kelapa tetap semerbak aroma khas “berkarakter” itu. Ini kemudian berkaitan dengan intervensi sensitif pada Stunting. Stunting dibahas panjang lebar, tapi kenyataanya seperti tadi. Jamban banyak dibangun, tapi banyak juga yang tidak dipakai. Interveinsi spesifik, jangan ditanya. Susu sesaset tak terbeli, tapi Garam se-Gudang terbeli.

Akhirnya ? Puskesmas jadi ramai bukan saat promosi kesehatan, tapi saat warga sudah tergeletak. Mencegah lebih baik dari mengobati, tapi datang ke Puskesmas cuma kalau sudah tidak bisa jalan. Padahal yang paling murah dan paling tidak menyakitkan itu ya : pencegahan. Jadi kalau ini bolehkah tenaga kesehatan protes dan marah-marah ke masyarakatnya sambil merekam video dan mengupload ke media sosial. Seorang jurim memarahi ibu bayi dan balita yang menolak anaknya untuk diimunisasi. “Co lia ti ibu pe anak pe mata so merah, depe kulit so muncul ruam-ruam merah disertai demam, itu karena apa ? di umur sembilan bulan ti ade tidak dikasih imunisasi Campak, alasan ti payitua tidak mo kase, soalnya nanti kalau malam ti ade mo panas, akhirnya ti payitua tida mo dapa ba toto” (maaf agak sarkas), barang kali begitu bahasa ibu bidannya. Hihihi

Semua pihak punya PR. Tenaga kesehatan harus profesional walau lelah mendera. Tapi yah, agak lain memang rakyat kita, artis syuting sinetron nangis di depan kamera. Nakes nangis diam-diam di pojokan UGD karena pasien ngamuk. Bedanya artis dengan nakes itu kalau artis viral makin tenar, tapi kalau nakes viral bakal naas. Seperti permberitaan saat ini. Barangkali yang memviralkan juga seorang artis yang sedang membangun personal branding. Hihihihi..

Masyarakat Gorontalo itu ramah dan penuh kebijaksanaan. Slogannya saja “Adat bersendikan syariat, syariat bersendikan kitabullah”. Tak ada dalam adat Gorontalo itu membuat gaduh kemaslahatan umat. “Opiyohe lo bahasa wau opiyohe loloiya”, demikian ungkapan yang pernah diwejangkan bapu (kakek dalam bahasa Gorontalo) ke saya saat hendak mengadu tentang sebuah masalah.

Sudah seharusnya pemerintah harus menjamin sistem yang adil, efisien, dan manusiawi, sebagaimana yang digagas tentang transformasi kesehatan di dalamnya ada pilar transformasi layanan kesehatan. Dan masyarakat ? Jangan hanya protes saat sakit, tapi juga aktif saat sehat. Memang budaya saat ini mengalami pergeseran apa lagi dengan adanya media sosial. Kalau tidak viral tidak di layani. Bukan hanya di sektor kesehatan, tapi hampir semua sektor.

Namun apakah semua harus diviralkan, bahkan aktifitas di kasur pun tidak lepas dari media sosial. Lantas dimana budaya kita sebagai orang Gorontalo “Mo bilohe”. Kalau dulu penghakiman masyarakat kepada orang yang suka memviralkan itu adalah “mo surikia atau juga mo bijana” (semoga tidak salah). Semua harus introspeksi. Seperti kata Buya Hamka : “Jika anda sedang benar jangan terlalu berani, bila anda sedang takut jangan terlalu takut. Karena keseimbangan sikap adalah penentu ketepatan perjalanan kesuksesan anda.”

Jadi, mari jangan cuma tidur di emperan jalan atau Puskesmas, tapi bangunlah kesadaran bersama. Karena sehat itu bukan hanya urusan tenaga kesehatan, tapi juga warga, sistem, dan hati nurani. “Gerak Bersama, Sehat Bersama” adalah tema yang diusung pada Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-60 tahun 2024 lalu. Kalau boleh usul, tahun ini temanya “Viralkan Hidup Sehat”. Wassalam..

Sosial Media Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo :
Channel Youtube
Facebook Page
Facebook
Twitter
Instagram

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

18 − four =

scroll to top
Bahasa »