Kabupaten Boalemo, DinkesP2KB – Mempercepat deteksi penyakit potensial Kejadian Luar Biasa (KLB)/Wabah dan memastikan respons awal berjalan tepat waktu menjadi fokus Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Provinsi Gorontalo melalui program SI SERGAP KLB. Dilaksanakan di Kabupaten Pohuwato pada 3 September 2026 dan Kabupaten Boalemo pada 17 September 2026, kegiatan ini memperkuat kapasitas petugas surveilans puskesmas dan rumah sakit sekaligus mendorong keterlibatan masyarakat dalam mengenali, mencegah, dan melaporkan gejala penyakit yang perlu diwaspadai.
Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kemampuan petugas dalam mendeteksi secara dini, menemukan dengan segera, serta melakukan respons awal terhadap notifikasi penyakit potensial KLB/Wabah maupun notifikasi KLB/Wabah. Dengan demikian, penanganan dapat dilakukan secara cepat, tepat, dan terkoordinasi.
SI SERGAP KLB dirancang sebagai bentuk penyebarluasan informasi dari kegiatan Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) penyakit potensial KLB/Wabah. Melalui pendekatan ini, hasil kewaspadaan dini tidak hanya menjadi informasi bagi petugas kesehatan, tetapi juga dikomunikasikan kepada masyarakat agar dapat berperan aktif dalam mengenali dan melaporkan gejala atau sindrom penyakit yang perlu diwaspadai.
“Kabar Sergap”, Jembatan Informasi antara Petugas dan Masyarakat
Salah satu inovasi dalam SI SERGAP KLB adalah pengembangan infografis “Kabar Sergap” sebagai media komunikasi dan umpan balik (feedback) kepada masyarakat terhadap informasi kewaspadaan dini penyakit potensial KLB/Wabah.
Infografis ini memuat informasi mengenai penyakit atau sindrom yang ditemukan dan perlu diwaspadai, tanda dan gejala yang dapat dikenali masyarakat, langkah-langkah pencegahan, serta nomor hotline yang dapat dihubungi untuk melaporkan kejadian atau memperoleh informasi lebih lanjut.
Melalui “Kabar Sergap”, masyarakat didorong untuk tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga menjadi bagian dari sistem kewaspadaan dini dengan melaporkan apabila menemukan gejala atau kejadian yang mencurigakan di lingkungan sekitarnya.
Informasi tersebut disusun secara rutin setiap minggu oleh fasilitas pelayanan kesehatan, baik puskesmas maupun dinas kesehatan, kemudian disebarluaskan melalui berbagai kanal media sosial, seperti WhatsApp Group, WhatsApp Story, TikTok, dan Facebook.
Dalam proses pembuatannya, infografis “Kabar Sergap” memanfaatkan perkembangan teknologi Artificial Intelligence (AI) untuk mendukung penyajian informasi kesehatan yang menarik, komunikatif, dan mudah dipahami masyarakat. Ketepatan substansi informasi kesehatan tetap menjadi perhatian dalam penyusunan materi edukasi.
Epidemiolog Ahli Muda, Lani Qodriani, menjelaskan bahwa penyebarluasan informasi melalui “Kabar Sergap” menjadi bagian penting dalam memperkuat keterlibatan masyarakat pada sistem kewaspadaan dini penyakit potensial KLB/Wabah.
“Melalui Kabar Sergap, masyarakat diharapkan semakin mengenali tanda dan gejala penyakit yang perlu diwaspadai, memahami langkah-langkah pencegahannya, serta mengetahui kapan dan ke mana harus melaporkan kejadian yang mencurigakan. Keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dalam mempercepat deteksi dan pelaporan penyakit potensial KLB/Wabah,” ujar Lani.
Dengan penyebaran informasi secara rutin dan berkelanjutan, masyarakat diharapkan semakin mengenali tanda dan gejala penyakit potensial KLB/Wabah, memahami cara pencegahannya, serta mengetahui kapan dan ke mana harus melaporkan kejadian yang perlu diwaspadai.
Penguatan Respons Awal untuk Mencegah KLB dan Perluasan Kejadian
Selain mendorong keterlibatan masyarakat dalam deteksi dini, kegiatan SI SERGAP KLB juga menekankan pentingnya peningkatan kapasitas petugas surveilans dalam pelaksanaan respons awal dengan pendekatan 7-1-7, yaitu tujuh hari untuk deteksi, satu hari untuk notifikasi, dan tujuh hari untuk respons, terhadap notifikasi penyakit potensial KLB/Wabah maupun notifikasi KLB/Wabah.
Respons awal merupakan bagian penting dalam upaya memberikan pelayanan kepada masyarakat, mengendalikan faktor risiko, serta mencegah terjadinya KLB atau perluasan kejadian ke wilayah lain.
Dalam pelaksanaannya, penguatan respons awal selama tujuh hari mencakup tujuh komponen utama. Pertama, mobilisasi Tim Gerak Cepat (TGC) untuk melakukan penilaian dan tindak lanjut awal terhadap notifikasi. Kedua, penyelidikan epidemiologi (PE) untuk mengidentifikasi karakteristik kasus, faktor risiko, sumber penularan, dan potensi penyebaran. Ketiga, tatalaksana kasus guna memastikan masyarakat memperoleh pelayanan kesehatan sesuai kebutuhan dan standar yang berlaku.
Keempat, dukungan laboratorium untuk pemeriksaan spesimen dan konfirmasi diagnosis. Kelima, pengendalian faktor risiko melalui tindakan yang sesuai dengan karakteristik penyakit dan kondisi di lapangan. Keenam, komunikasi risiko untuk menyampaikan informasi yang akurat, jelas, dan mudah dipahami masyarakat. Ketujuh, koordinasi lintas sektor dan lintas program (LS/LP) untuk memastikan penanggulangan berjalan terpadu dan efektif.
Penguatan ketujuh komponen tersebut diharapkan dapat meningkatkan kesiapsiagaan petugas dalam merespons notifikasi secara tepat waktu dan sesuai dengan tingkat risiko, sekaligus memperkuat koordinasi antarfasilitas pelayanan kesehatan dan pemangku kepentingan terkait.
Lani Qodriani menambahkan bahwa kecepatan deteksi harus diikuti dengan notifikasi dan respons yang tepat waktu agar potensi penularan dapat dikendalikan sejak awal.
“Respons yang cepat, tepat, dan terkoordinasi sangat penting untuk memastikan setiap notifikasi ditindaklanjuti sesuai tingkat risiko. Penguatan kapasitas petugas surveilans, dukungan laboratorium, penyelidikan epidemiologi, komunikasi risiko, serta koordinasi lintas sektor menjadi bagian penting dalam mencegah terjadinya KLB atau meluasnya kejadian ke wilayah lain,” ungkapnya.
Perluasan SI SERGAP KLB ke Empat Kabupaten/Kota Lainnya
Pelaksanaan peningkatan kapasitas di Kabupaten Pohuwato dan Kabupaten Boalemo menjadi langkah awal dalam pengembangan SI SERGAP KLB di Provinsi Gorontalo.
Ke depan, kegiatan ini diharapkan dapat berlanjut di empat kabupaten/kota lainnya, sehingga penguatan kewaspadaan dini, penyebarluasan informasi melalui “Kabar Sergap”, serta peningkatan kapasitas respons awal dapat menjangkau seluruh wilayah Provinsi Gorontalo.
Melalui SI SERGAP KLB, Dinkes P2KB Provinsi Gorontalo mendorong terbangunnya sistem surveilans yang semakin responsif, partisipatif, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi informasi.
Kolaborasi antara petugas surveilans puskesmas, rumah sakit, dinas kesehatan, dan masyarakat diharapkan mampu mempercepat penemuan serta pelaporan penyakit potensial KLB/Wabah, meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pencegahan penyakit, dan memperkuat upaya pengendalian KLB/Wabah sejak dini.
SI SERGAP KLB – Kabar Sergap: Kenali gejalanya, cegah penularannya, segera laporkan. Bersama kita tingkatkan kewaspadaan dan cegah KLB/Wabah sejak dini.
Rilis : ILB
Editor : MD
Sosial Media Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo :
Channel Youtube
Facebook Page
Facebook
Twitter
Instagram
