Kunjungan Presiden dan Karir ASN

IMG-20260512-WA0012.jpg

Oleh: Anang S. Otoluwa

WAJAH Gubernur malam itu terlihat sumringah. Beliau tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya. Presiden Prabowo Subianto baru meninggalkan Gorontalo sekitar jam 4.00 sore, malamnya kami langsung diundang rapat evaluasi.

Pada pengantar rapat, Gubernur menyebut tiga hal yang membuat penyambutan ini dianggap sukses.
Pertama, semua dikerjakan dalam waktu yang sangat mepet. Itu pun diwarnai situasi yang serba on-off. Tanggal 6 Mei sudah ada surat pembatalan. Tapi tanggal 7 malam, tiba-tiba muncul kabar bahwa Presiden tetap jadi datang. Praktis, seluruh persiapan harus bergerak cepat dalam waktu yang sangat terbatas.

Kedua, Presiden terlihat happy. Kedatangannya disambut masyarakat dengan hangat. Tidak ada jarak. Antusiasme warga terasa tulus. Dan suasana seperti itu tentu memberi kesan baik bagi tamu negara.

Ketiga, ini yang paling penting, kunjungan Presiden ternyata memicu perhatian besar dari pemerintah pusat. Menteri Kelautan dan Perikanan disebut akan mengucurkan dana sekitar 1,24 triliun rupiah untuk pengembangan 62 Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) di Gorontalo, seperti yang baru diresmikan di Leato.

Kesuksesan itulah yang ingin disampaikan Gubernur kepada para pimpinan OPD malam itu. Beliau meminta agar momentum ini tidak berhenti pada seremoni penyambutan saja. Peluang besar ini harus segera ditindaklanjuti agar semangat membangun KNMP tetap menyala.
“Tempalah besi di saat masih panas,” kata Gubernur menyemangati kami.

Namun selain pesan di atas, ada hal lain yang menurut saya jauh lebih menarik. Pada bagian akhir rapat, Gubernur ingin berterima kasih kepada aparatnya. Beliau sadar, bekerja di waktu mepet, di bawah tekanan, sambil berkoordinasi dengan berbagai pihak seperti protokol istana dan paspampres, bukan pekerjaan biasa. Butuh energi, konsentrasi, dan kekompakan yang tidak sederhana. Apalagi hasilnya memuaskan.

Karena itu, beliau tidak ingin kerja keras tersebut hanya dihargai dengan ucapan terima kasih.
Kepada Pak Budi Sidiki (Kepala BPSDM), beliau meminta agar prestasi ini diberi penghargaan dan dituangkan dalam manajemen talenta ASN. Kinerja seperti ini, menurut beliau, layak mendapatkan poin atau angka kredit yang bisa mendukung pengembangan karir ASN.
***
Esoknya, saat saya berlari pagi, saya bertemu Pak Budi. Sambil berlari kecil kami melanjutkan diskusi soal ide Gubernur tadi malam. Pak Budi setuju. Menurut beliau, event seperti kunjungan Presiden adalah pengalaman kerja yang sangat bernilai, karena melibatkan koordinasi lintas sektor hingga level nasional. ASN bukan hanya diuji kemampuan administratifnya, tetapi juga kemampuan komunikasi, kepemimpinan, pengambilan keputusan cepat, hingga ketahanan bekerja di bawah tekanan.

Saya lalu mengusulkan, penghargaan seperti ini jangan hanya diberikan pada momen seperti ini. Ketua-ketua tim kerja di masing-masing OPD juga layak mendapat apresiasi, jika mereka mencapai indikator kinerja yang telah diperjanjikan.

Penghargaan yang bisa dikonversi sebagai angka kredit itu bahkan bisa diperluas kepada ASN yang aktif melakukan kegiatan sukarela (volunteer). Misalnya, ASN yang rutin mendonorkan darah, membantu kegiatan sosial, menjadi sukarelawan kebencanaan, sampai yang mau menjadi “pacer” pada event lari maraton.

Di negara-negara maju, aktivitas voluntary seperti ini sudah mendapat perhatian serius. Sertifikat sebagai sukarelawan bahkan bisa menjadi nilai tambah saat melamar pekerjaan. Karena aktivitas seperti itu menunjukkan karakter penting: disiplin, empati, kemampuan bekerja sama, dan kepedulian sosial.

Dan bukankah inti dari ASN memang pelayanan?

Saya pikir, mungkin inilah salah satu masalah besar birokrasi kita selama ini. Terlalu banyak kerja besar yang selesai hanya dengan ucapan “terima kasih”. Padahal, di balik suksesnya sebuah agenda pemerintahan, ada ASN yang rela pulang larut malam, meninggalkan keluarga, standby tanpa kepastian jadwal, bahkan menjadi sasaran komplain dari banyak pihak demi memastikan semuanya berjalan baik.

Sayangnya, semua itu sering kali hilang begitu acara selesai.Tidak tercatat. Tidak terdokumentasi. Dan tidak berdampak apa-apa bagi perjalanan karir ASN.

Karena itu, ide Gubernur malam itu terasa penting. Beliau tidak hanya melihat suksesnya acara. Beliau melihat orang-orang di balik layar.

Ini yang dibutuhkan birokrasi modern.
ASN sejatinya bukan sekadar mesin administrasi. Mereka manusia yang bekerja dengan pikiran, tenaga, loyalitas, bahkan perasaan. Ketika kerja keras dihargai secara nyata, maka yang tumbuh bukan hanya semangat bekerja, tetapi juga rasa memiliki terhadap daerah yang dibangun bersama.

Manajemen talenta seharusnya tidak hanya diisi angka formal seperti masa kerja atau sertifikat diklat. ASN yang terbukti mampu menyelesaikan persoalan, bekerja lintas sektor, mengelola tekanan, dan menghadirkan solusi nyata, semestinya memiliki nilai lebih.

Dunia birokrasi ke depan membutuhkan ASN seperti itu. Bukan hanya ASN yang pandai membuat laporan, tetapi ASN yang mampu menuntaskan pekerjaan.

Sering kali, bibit ASN hebat justru muncul dari situasi-situasi seperti kunjungan Presiden kemarin. Ada orang-orang yang biasanya tidak terlalu terlihat, tiba-tiba tampil mengambil peran. Ada yang sigap mengatur lapangan. Ada yang tenang menghadapi protokol pusat. Ada yang mampu menyatukan banyak pihak dalam waktu singkat.

Mereka mungkin tidak tampil di podium. Tidak masuk kamera. Tidak viral di media sosial.
Tetapi negara berjalan karena orang-orang seperti itu.

Mungkin itu sebabnya wajah Gubernur malam itu terlihat cerah ceria. Bukan semata karena kunjungan Presiden berjalan sukses.
Tetapi karena beliau melihat, di balik segala keterbatasan, ternyata daerah ini memiliki banyak ASN yang mampu bekerja besar untuk bangsanya.(*)

Sosial Media Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo :
Channel Youtube
Facebook Page
Facebook
Twitter
Instagram

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

one × 2 =

scroll to top
Bahasa »