HIV-AIDS Mengancam Kalangan Pendidikan

IMG-20250512-WA0007.jpg

Audiensi Dinas Kesehatan dan KPA Provinsi dengan Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail.

Kota Gorontalo, Dinkesprov – Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo, Jeane Istanti Dalie, mengungkapkan risiko penularan HIV-AIDS di kalangan pelajar, mahasiswa, guru, dan dosen. Hal itu diungkapkannya usai melakukan audiensi dengan Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail, Senin (12/05/2025) di Rumah Jabatan Gubernur Gorontalo.

Data akumulasi kasus HIV-AIDS di Provinsi Gorontalo sejak tahun 2001 hingga 2024 yang mencapai 1257 kasus (706 HIV dan 551 AIDS) menjadi dasar kuat bagi kekhawatiran ini, menunjukkan bahwa kelompok tersebut termasuk dalam kategori yang sangat rentan.

Data menunjukkan angka HIV-AIDS di lingkungan pendidikan dimana sebanyak 79 kasus HIV dan 48 kasus AIDS tercatat pada mahasiswa dan siswa, sementara 21 kasus HIV dan 7 kasus AIDS ditemukan di kalangan guru dan dosen. Fakta ini dengan jelas mengindikasikan bahwa ancaman penularan HIV-AIDS tidak mengenal batas usia maupun status pendidikan.

Analisis data berdasarkan kelompok usia memperkuat kekhawatiran tersebut. Kelompok usia 15-24 tahun menjadi yang paling terdampak dengan 236 kasus HIV dan 176 kasus AIDS. Kelompok usia 25-49 tahun juga mencatatkan angka yang signifikan, yaitu 449 kasus HIV dan 351 kasus AIDS. Temuan ini menggarisbawahi betapa pentingnya fokus pencegahan pada generasi muda, termasuk para pelajar dan mahasiswa.

Pola penularan HIV-AIDS di Provinsi Gorontalo didominasi oleh hubungan seksual. Tercatat 234 kasus HIV dan 197 kasus AIDS disebabkan oleh hubungan heteroseksual, serta 348 kasus HIV dan 243 kasus AIDS akibat hubungan sesama jenis (Gay, Waria, Lesbian/GWL). Selain itu, penularan melalui biseksual menyumbang 58 kasus HIV dan 42 kasus AIDS, sementara penggunaan jarum suntik mencatat 8 kasus HIV dan 21 kasus AIDS.

Menyikapi situasi ini, Jeane I. Dalie menekankan urgensi edukasi kesehatan reproduksi dan pencegahan HIV-AIDS di lingkungan pendidikan.

“Kami mendorong sekolah dan perguruan tinggi untuk aktif mensosialisasikan bahaya HIV-AIDS serta menerapkan program kesehatan yang komprehensif termasuk kesehatan reproduksi bagi siswa, mahasiswa, dan tenaga pendidik,” tegasnya.

Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo sendiri telah mengambil langkah-langkah pengendalian, termasuk pemantauan status pengobatan Orang dengan HIV-AIDS (ODHIV). Data terkini menunjukkan bahwa 432 pasien HIV dan 216 pasien AIDS sedang menjalani pengobatan Antiretroviral (ARV). Sayangnya, 129 pasien HIV dan 232 pasien AIDS dilaporkan telah meninggal dunia.

Melihat tren peningkatan kasus di kalangan generasi muda, terutama pelajar dan mahasiswa, Jeane berharap adanya kolaborasi yang lebih kuat antara pemerintah, institusi pendidikan, dan seluruh elemen masyarakat. Upaya ini diharapkan dapat memperkuat program pencegahan serta mengurangi stigma negatif terhadap ODHIV.

“Kesadaran dan dukungan bersama memiliki peran krusial dalam memutus rantai penularan HIV-AIDS di Provinsi Gorontalo,” pungkasnya.

Rilis : MD/ILB
Editor : Nancy Pembengo

Sosial Media Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo :
Channel Youtube
Facebook Page
Facebook
Twitter
Instagram

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

twenty − thirteen =

scroll to top
Bahasa »