Oleh: Anang S. Otoluwa
Edukasi gizi oleh polisi.
Kalimat itu, jujur saja, terdengar agak janggal. Soalnya polisi lebih identik dengan ketertiban dan keamanan. Bukan dengan timbangan berat badan atau soal makanan.
Tapi di SMAN 1 Gorontalo, yang janggal justru menjadi masuk akal. Bahkan terasa wajar. Sekolah SMA tertua di Gorontalo ini punya satu inovasi sederhana, tapi berdampak besar: PINTAR: Partisipasi Orang Tua Mengajar. Melalui inovasi ini, orang tua siswa, apa pun profesinya, diberi ruang untuk masuk kelas, berdiri di depan papan tulis, dan berbagi pengetahuan.
Materinya bebas. Tidak harus mata pelajaran inti. Yang penting bermakna. Maka ketika 27 Januari kemarin, bertepatan dengan peluncuran Pekan Edukasi Gizi Sekolah dalam rangka Hari Gizi Nasional ke 66, topik yang diangkat pun soal gizi.
Hari itu, 36 orang tua tampil sebagai edukator gizi. Bukan semuanya tenaga kesehatan. Ada yang petani, pekerja swasta, ibu rumah tangga, dan ya, ada polisi.
Wakil Gubernur Gorontalo, Ibu Idah Syahidah, tampak sangat tertarik dengan inovasi ini. Usai pencanangan, beliau tidak langsung lanjut ke agenda lain. Kepala sekolah, Ibu Ani, diajaknya berkeliling kelas, memantau langsung proses belajar. Beliau ingin menyaksikan serunya kelas yang diajar para guru dadakan itu.
Menariknya, perhatian beliau justru tertuju pada kelas-kelas yang diajar orang tua non-ASN dan non-tenaga kesehatan. Termasuk kelas yang hari itu diasuh oleh seorang lelaki berambut cepak, berseragam polisi, dan mengajar soal gizi.
Kami pun ikut masuk. Duduk di bangku siswa. Belajar bak murid SMA.
Pak Polisi tidak mengajar dengan gaya ceramah. Ia mengajak siswa praktek menghitung Indeks Massa Tubuh (IMT), bagaimana menggunakan rumus,
bagaimana membaca hasilnya,
dan bagaimana interprtasinya. Apakah tubuh siswa tergolong kurang gizi, normal, atau berlebih.
Seorang siswa dijadikan contoh. Tinggi dan berat badannya ditanya. Lalu hasilnya dihitung bersama. Dengan bahasa sederhana dan tanpa menghakimi, sang polisi, eh.. sang guru, memberi nasihat sesuai hasil perhitungan.
Tidak ada kesan menggurui. Tidak ada jarak.Yang terlihat adalah kepedulian.
Mengajarkan IMT, mengajarkan soal pilihan makanan, mengajak membiasakan menimbang berat badan, mungkin terdengar sepele. Tapi hari itu, kegiatan PINTAR menjangkau sekitar 1.400 siswa. Seribu empat ratus remaja pulang dengan pengetahuan baru tentang gizi. Sesuatu yang perlu mendapat apresiasi.
Lebih dari itu, mereka belajar satu hal penting:
bahwa siapa pun bisa menjadi pendidik, ketika diberi ruang, kepercayaan, dan kesempatan.
Di sela-sela pengamatan, Ibu Wagub turut bertanya kepada para guru. Bukan tentang materi gizi, tapi tentang perasaan. Di suatu kelas:
“Pak Guru, bisa bertanya? Yang mana anak bapak? tanya ibu Wagub.
Pak Guru menunjuk seorang siswa berambut panjang yang terlihat tersipu malu. Kepada siswa ibu Wagub mendekat, lalu bertanya:
“Bagaimana rasanya diajar ortu sendiri?”
Putri itu malu-malu menjawab: “Senang”.
“Tidak was-was? Takut orang tuanya tidak bisa mengajar dengan baik?” sambung bu Wagub.
Jawaban siswi itu tegas:”Tidak”.
Jawaban itu mungkin terdengar seadanya. Tapi sesungguhnya sangat berarti.
Ia menunjukkan kepercayaan, kedekatan, dan rasa aman, tiga hal yang sering kali hilang dari ruang-ruang belajar formal.
Apa yang terjadi di SMAN 1 Gorontalo memberi pesan kuat:
Pertama, edukasi tidak harus selalu datang dari guru profesional.
Kedua, orang tua bukan sekadar penonton pendidikan anak, tapi bisa menjadi aktor utama.
Ketiga, anak-anak lebih siap daripada yang sering kita bayangkan, mereka tidak meragukan orang tuanya, justru mempercayainya.
Inovasi PINTAR bukan soal kurikulum baru atau anggaran besar. Ini soal keberanian membuka pintu sekolah, dan kerendahan hati untuk berbagi peran.
Ketika polisi bisa mengajarkan gizi,
ketika orang tua bisa berdiri di depan kelas,
ketika siswa belajar dengan rasa bangga,
di situlah pendidikan menjadi hidup.
Dan barangkali, di situlah sekolah-sekolah lain bisa mulai bertanya:
“Kalau SMAN 1 Gorontalo bisa, kenapa kami tidak?”(*)
Sosial Media Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo :
Channel Youtube
Facebook Page
Facebook
Twitter
Instagram
