Buka Puasa Gratis di Hisana

IMG-20260219-WA0010.jpg

Oleh: Anang S. Otoluwa

SENIN kemarin (16/2) saya masih berpuasa sunnah. Dan karena sebentar lagi memasuki bulan puasa, pagi itu saya mengajak si bungsu (Barzan) lari/ berjalan. Rencana sejauh 10 K. Niatnya menguji diri, apakah tubuh ini masih cukup kuat beraktivitas saat berpuasa. Semacam pemanasan menjelang latihan panjang bernama Ramadan.

Di kawasan Kalimadu, langkah kami berhenti. Barzan meminta sarapan. Mungkin karena sudah cukup jauh berjalan. Mungkin pula tergoda melihat banyak yang makan di sepanjang jalan. Dan seperti anak-anak pada umumnya, pilihannya jatuh pada makanan kesukaannya: HISANA.

Saat hendak membayar, mata saya tertumbuk pada pengumuman yang cukup mencolok: Buka Puasa Gratis di Hari Senin-Kamis.

Saya bertanya kepada kasir untuk memastikan. Apakah iklan itu benar? Jawabannya: benar. Apakah ada syarat dan ketentuan? Jawabannya: tidak ada. Bagaimana membuktikan bahwa yang datang benar-benar berpuasa? Jawabannya: tidak perlu bukti apa-apa. Apakah ini gratis di semua gerai HISANA? Jawabannya: ya, Hisana mana saja.

Jawaban kasir itu membuat saya penasaran. Di tengah kehidupan yang penuh kecurigaan, masih adakah orang yang memilih percaya begitu saja? Di musim efisiensi seperti sekarang ini, masihkah ada tempat untuk yang gratis?

Karenanya, sore harinya saya kembali ke tempat itu. Saya masih ditemani Barzan, karena dia juga ingin pembuktian. Masih 15 menit ke waktu berbuka, kami sudah di depan kasir.

Saya hanya menyampaikan bahwa saya berpuasa, dan langsung dilayani. Tanpa pertanyaan. Tanpa keraguan. Tanpa syarat lain, selain makan di tempat.

Barzan heran. Bagaimana mungkin makanan yang biasanya harus dia bayar itu bisa diberikan cuma-cuma?
Pertanyaan lebih jauh juga muncul di benak saya. Apa motivasi di balik iklan ini? Promosi? Dakwah? Atau sekadar strategi menarik pelanggan?

Namun, semakin saya pikirkan, semakin terasa bahwa ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar strategi bisnis.

Belakangan ini, kita memang semakin sering melihat orang berbuat baik tanpa syarat. Ada yang suka memberi makan kucing jalanan. Ada yang membayari kopi untuk orang yang antri di belakangnya (pay it forward). Ada yang membagikan makanan tanpa nama (Jum’at Berkah). Ada yang membantu tanpa ingin diketahui. Ada yang gemar berinfak Subuh setiap hari. Bahkan, ada yang suka memberi hadiah Umroh.

Menariknya, mereka tidak menunggu imbalan. Bahkan sering kali tidak mengharapkan ucapan terima kasih.
Mengapa?

Karena semakin banyak orang menyadari satu hal penting: berbuat baik ternyata bukan hanya berdampak kepada orang lain, tetapi juga memberi keuntungan buat diri sendiri. Seperti janji Allah dalam QS, Al- Isra ayat 7: in ahsantum ahsantum li anfusikum. Jika kamu berbuat baik, (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri.

Dalam bukunya, The Five Side Effects of Kindness, David Hamilton menjelaskan ini dengan bukti sains. Berbuat kebaikan memiliki “efek samping” yang justru positif bagi pelakunya. Ketika seseorang berbuat baik, otak melepaskan hormon dopamin, serotonin, dan endorfin yang membuat kita bahagia, menurunkan stres (kortisol), memperkuat hubungan sosial, bahkan berdampak pada kesehatan jantung (nitrit oksid) dan sistem imun.

Berbuat baik, secara biologis, membuat manusia merasa lebih baik. Artinya, ketika seseorang memberi, sebenarnya ia juga sedang menerima.
Inilah yang menarik.
Kebaikan tidak lagi dipahami sebagai pengorbanan sepihak. Ia menjadi kesadaran baru bahwa membantu orang lain adalah cara manusia merawat dirinya sendiri. Ada rasa tenang yang muncul. Ada rasa puas yang terasa. Ada kebahagiaan yang tidak bisa dibeli.

Yang belum banyak orang tahu, kebaikan Hisana itu tak berhenti sekadar memberi makanan gratis. Tetapi menciptakan ruang agar kebaikan terus berputar. Orang yang menerima kebaikan hari ini, suatu saat terdorong melakukan hal yang sama kepada orang lain.

Dalam ilmu Saraf, dikenal istilah mirror neurons (cermin neuron). Ketika melihat orang berbuat baik, otak kita ikut aktif, mendorong kita untuk melakukan kebaikan yang sama.

Ya, kebaikan itu memang menular. Dan ketika kesadaran itu menular ke banyak orang, dunia ini pelan-pelan berubah menjadi tempat yang sejuk, damai, dan penuh keberkahan.(*)

Sosial Media Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo :
Channel Youtube
Facebook Page
Facebook
Twitter
Instagram

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

17 + 10 =

scroll to top
Bahasa »