Respons Peningkatan AKI-AKB, Gorontalo Canangkan Gerakan 100 Hari Penyelamatan Ibu Hamil

IMG-20260417-WA0007.jpg

Pencanangan Gerakan 100 Hari Penyelamatan Ibu Hamil.

Kota Gorontalo, DinkesP2KB — Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Provinsi Gorontalo resmi mencanangkan Gerakan 100 Hari Penyelamatan Ibu Hamil sebagai langkah percepatan penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB), Jumat (17/04/2026). Kegiatan yang berlangsung di Aula Kantor Dinkes P2KB Provinsi Gorontalo ini dilaksanakan secara daring dan luring, dirangkaikan dengan pertemuan diseminasi lintas program dan lintas sektor.

Pencanangan dilakukan langsung oleh Kepala Dinkes P2KB Provinsi Gorontalo, Anang S. Otoluwa, didampingi Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, Syafiin S. Napu. Program ini menjadi bagian dari strategi intensifikasi promosi kesehatan serta penguatan intervensi berbasis komunitas guna meningkatkan keselamatan ibu hamil dan anak balita.

Saat diwawancarai media, Anang menegaskan bahwa kondisi terkini menunjukkan adanya peningkatan kasus kematian ibu dan bayi di Provinsi Gorontalo, sehingga diperlukan langkah cepat, terukur, dan melibatkan seluruh elemen.

“Saat ini di provinsi Gorontalo terjadi peningkatan kematian ibu dan kematian bayi, jadi ada gerakan selama 100 hari ini akan diisi dengan promosi baik oleh teman teman di provinsi, Kabupaten sampai di tingkat desa. Agar betul-betul menyentuh seluruh ibu hamil dan anak balita di provinsi Gorontalo ini kesadaran untuk menjaga kesehatan, meningkatkan kemandirian menjaga kesehatan agar mereka bisa selamat dalam proses kehamilan dan persalinan” kata Anang.

Gerakan ini dirancang sebagai upaya masif yang mengedepankan pendekatan promotif dan preventif, sejalan dengan kebijakan nasional Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dalam menurunkan AKI dan AKB. Berdasarkan data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) serta laporan rutin kesehatan, penyebab utama kematian ibu masih didominasi oleh perdarahan, hipertensi dalam kehamilan, dan infeksi, sementara kematian bayi banyak dipengaruhi oleh prematuritas, asfiksia, serta komplikasi neonatal.

Melalui Gerakan 100 Hari, intervensi difokuskan pada peningkatan cakupan pelayanan kesehatan ibu dan anak, termasuk pemeriksaan kehamilan (antenatal care/ANC) yang berkualitas, persalinan oleh tenaga kesehatan terlatih di fasilitas pelayanan kesehatan, serta pemantauan kesehatan bayi baru lahir. Selain itu, edukasi kepada keluarga dan masyarakat juga diperkuat, terutama terkait tanda bahaya kehamilan dan pentingnya rujukan tepat waktu.

Anang menekankan bahwa keberhasilan program ini sangat bergantung pada kolaborasi lintas sektor dan konsistensi implementasi di seluruh tingkatan wilayah.

“Kita sudah koordinasi dengan pemerintah di Kabupaten/kota melalui Dinas Kesehatan. Demikian juga di kecamatan kami harap akan diteruskan oleh teman-teman di Kabupaten kota. Lalu melalui diseminasi hari ini juga, itu akan menyentuh institusi layanan kesehatan seperti rumah sakit dan puskesmas, baik pemerintah maupun swasta, klinik agar semua masyarakat betul betul bergerak bersama sama” ujarnya.

Kegiatan diseminasi ini turut menghadirkan narasumber Rumah Sakit Rumah sakit Ibu dan Anak Nun Surabaya Danu Mariyoto Teguh, Ketua Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) Provinsi Gorontalo Maimun Ihsan dan Ketua Persatuan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) Wilayah Gorontalo Serly Daud.

Peserta kegiatan berasal dari berbagai unsur, mulai dari Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, rumah sakit, BPJS Kesehatan, Baznas dan petugas promosi kesehatan dan bidan puskesmas di seluruh Provinsi Gorontalo. Keterlibatan multipihak ini diharapkan mampu mempercepat implementasi program secara menyeluruh hingga ke tingkat desa.

Melalui Gerakan 100 Hari Penyelamatan Ibu Hamil, Pemerintah Provinsi Gorontalo dibawah kepemimpinan Gubernur Gusnar Ismail dan Wakil Gubernur Idah Syahidah Rusli Habibie menegaskan komitmennya dalam menekan angka kematian ibu dan bayi secara signifikan, sekaligus meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat secara berkelanjutan. Program ini diharapkan menjadi momentum penguatan sistem kesehatan daerah yang lebih responsif, inklusif, dan berorientasi pada keselamatan ibu dan anak.

Rilis : ILB
Foto/Videografer : Aripin/ILB
Video Editor : Reza
Editor : MD

Sosial Media Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo :
Channel Youtube
Facebook Page
Facebook
Twitter
Instagram

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

15 + eleven =

scroll to top
Bahasa »