Oleh : Aryanto Husain
Jumat, 30 Januari 2026
People tend to feel entitled after achieving something, even when the responsibility just begins.” Daniel Kahneman.
Sore itu, Rumah Dinas Gubernur Gorontalo terlihat ramai namun tertib. Ratusan pejabat baru dan lama kembali dilantik dalam jabatan baru setelah penyesuaian OPD, rumah dimana mereka akan bekerja nanti. Pelantikannya sendiri singkat, padat dan bermakna.
Jabatan adalah amanah, pembuktiannya adalah tanggung jawab. Pelantikan dalam jabatan bukanlah hadiah atas masa lalu, melainkan titipan tanggung jawab untuk masa depan.
Kalimat ini terdengar implisit dalam kata-kata pelantikan oleh Gubernur Gorontalo. Terdengar syahdu di telinga, menembus masuk hingga kedalam sanubari.
Kesetiaan pada sumpah menjadi ujian tersendiri. Sumpah jabatan bekerja lebih kuat di batin daripada di dokumen hukum. Kata Dan Ariely, pakar ekonomi perilaku, manusia cenderung jujur bukan karena takut dihukum, tetapi karena ingin tetap memandang dirinya sebagai orang baik.
Menjadi pejabat yang amanah tidak cukup hanya dengan sumpah yang diucapkan di tengah banyak tatapan mata yang melihat. Amanah justru diuji saat tidak ada yang mengawasi. Setelah rapat selesai atau di ruang-ruang sunyi tempat kita bekerja. Kualitas pejabat terlihat bukan ketika disorot, tetapi saat keputusan diambil dalam sunyi.
Namun, bekerja baik dan tanggung jawab dalam jabatan yang diemban tidak semudah saat mengucapkannya. Seperti kata Daniel Kahneman, status sering membuat manusia terlena dan menurunkan kewaspadaan moral.
Jabatan seringkali justru meningkatkan risiko moral licensing. Merasa sudah berjasa, lalu mengendurkan standar etika, bahkan bisa melupakan tanggung jawab.
Hari pelantikan adalah momen memilih. Menjadi sekadar pejabat, atau menjadi pelayan publik sejati. Pilihan ini akan menjadi identitas kita kedepan, memandu perilaku di masa-masa pengabadian.
Pilihan sekedar menjadi pejabat bisa memerangkap kita dalam moral lincensing. Namun pilihan menjadi pelayan publik mendorong pejabat memiliki simpati, kemampuan merasakan posisi orang lain, terutama masyarakat yang dilayani.
Pilihan ini akan membuat mereka terus berfikir. Bagaimana bisa memberikan pelayanan terbaik? Bagaimana bisa membuat caranya lebih sederhana Pertanyaan-pertanyaan ini bisa mendorong inovasi dalam pelayanan.
Inovasi birokrasi dimulai dari keberanian bertanya, kemudian melakukan perubahan kecil yang bisa menghasilkan dampak besar. Inovasi bukan soal ide besar, tetapi keberanian mengubah kebiasaan kecilnya.
Inovasi bisa sesederhana memperpendek alur layanan, memperjelas informasi, atau memanfaatkan teknologi dengan empati. Semuanya ditujukan untuk meningkatkan pelayanan.
“True happiness arises from being useful to others,” kata Adam Smith. Kebahagiaan sejati seorang pejabat adalah saat dia mampu memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat.
Pelantikan boleh berlangsung singkat dan seremonial. Tapi amanahnya panjang dan menjadi beban moral untuk dipertanggungjawabkan. Di sanalah pejabat diuji. Setia pada sumpah, berani berinovasi, dan rendah hati dalam melayani.
Selamat bertugas bagi para pejabat yang baru dilantik. Semoga amanah!
Sosial Media Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo :
Channel Youtube
Facebook Page
Facebook
Twitter
Instagram
