Sosialisasi GP2SP Didorong Wujudkan Lingkungan Kerja Sehat dan Ramah Perempuan

IMG-20251031-WA0013.jpg

Sosialisasi Gerakan Pekerja Perempuan Sehat Produktif (GP2SP) dilaksanakan secara daring.

Kota Gorontalo, Dinkesprov – Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo, Anang S. Otoluwa, membuka secara resmi kegiatan Sosialisasi Implementasi Gerakan Pekerja Perempuan Sehat Produktif (GP2SP) tingkat Provinsi Gorontalo yang dilaksanakan secara daring melalui aplikasi Zoom Meeting.

Kegiatan ini menghadirkan narasumber dari Direktorat Promosi Kesehatan dan Kesehatan Komunitas Kementerian Kesehatan RI serta Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo, dengan peserta yang berasal dari berbagai instansi lintas sektor seperti Dinas Kesehatan, Dinas Tenaga Kerja, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Bappeda Provinsi dan Kabupaten/Kota, BPJS Ketenagakerjaan, BPJS Kesehatan, Badan Koordinasi Organisasi Perempuan, APINDO, serta 14 Puskesmas terpilih di wilayah Provinsi Gorontalo.

Dalam sambutannya, Anang S. Otoluwa menekankan bahwa kesehatan pekerja perempuan merupakan salah satu aspek penting dalam pembangunan sumber daya manusia. Ia menyebut perempuan bukan hanya berperan sebagai tulang punggung ekonomi di tempat kerja, tetapi juga sebagai penggerak utama kesejahteraan keluarga dan masyarakat.

Menurutnya, Gerakan Pekerja Perempuan Sehat Produktif atau GP2SP adalah langkah strategis untuk meningkatkan kesadaran, pencegahan, dan penanganan masalah kesehatan yang dihadapi oleh pekerja perempuan di tempat kerja, dengan melibatkan peran aktif semua pihak, baik pemerintah, dunia usaha, lembaga kesehatan, maupun serikat pekerja, untuk menciptakan lingkungan kerja yang sehat, aman dan ramah perempuan.

Ia menjelaskan bahwa GP2SP tidak hanya berfokus pada kesehatan fisik, tetapi juga mencakup kesehatan reproduksi, gizi, kesehatan mental, serta keseimbangan antara pekerjaan dan keluarga.

“Hal ini penting karena banyak perempuan pekerja yang menghadapi beban ganda antara tanggung jawab profesional di tempat kerja dan tanggung jawab domestik di rumah” jelasnya.

Anang juga memaparkan sejumlah data nasional yang menjadi dasar pentingnya pelaksanaan gerakan ini. Berdasarkan Riskesdas 2023 dan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) 2024, tercatat bahwa sekitar 38 persen tenaga kerja di Indonesia adalah perempuan, dengan lebih dari 60 persen di antaranya bekerja di sektor informal yang masih memiliki tingkat perlindungan kesehatan dan keselamatan kerja rendah.

Selain itu, prevalensi anemia pada perempuan usia produktif mencapai 31,9 persen, sementara sekitar 25 persen pekerja perempuan mengalami kelebihan berat badan atau obesitas. Tidak hanya itu, dalam dua tahun terakhir, stres kerja dan gangguan kesehatan mental ringan dilaporkan meningkat sebesar 15 persen, terutama di kalangan pekerja perempuan sektor jasa dan manufaktur.

“Angka-angka ini menunjukkan bahwa masih banyak hal yang perlu kita benahi bersama. Kesehatan perempuan pekerja bukan sekadar isu individu, tetapi menjadi indikator penting keberhasilan pembangunan kesehatan daerah dan bangsa,” ujar Anang.

Ia menegaskan bahwa Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo memiliki peran strategis dalam memperkuat pelaksanaan GP2SP di daerah, antara lain dengan meningkatkan akses layanan kesehatan kerja, termasuk pemeriksaan kesehatan berkala bagi pekerja perempuan, mengintegrasikan program GP2SP dengan Posbindu PTM untuk mendukung deteksi dini penyakit tidak menular seperti hipertensi dan diabetes, serta meningkatkan literasi kesehatan reproduksi dan mental bagi perempuan pekerja melalui kolaborasi bersama organisasi perempuan, profesi kesehatan, dan lembaga pendidikan.

Anang juga menekankan pentingnya sinergi lintas sektor antara pemerintah daerah, dunia usaha, BPJS, organisasi masyarakat, dan serikat pekerja perempuan agar pelaksanaan GP2SP berjalan efektif dan berkelanjutan. Menurutnya, keberhasilan gerakan ini tidak akan tercapai jika hanya dijalankan oleh satu sektor saja, melainkan harus didukung dengan kolaborasi yang kuat antar semua pemangku kepentingan.

Ia juga menyoroti pentingnya perubahan budaya kerja yang lebih peduli terhadap keseimbangan hidup perempuan pekerja, seperti penerapan jam kerja fleksibel bagi ibu hamil dan menyusui, penyediaan ruang laktasi dan fasilitas kesehatan di tempat kerja, pelaksanaan kegiatan olahraga bersama, edukasi gizi dan kesehatan reproduksi, serta dukungan perusahaan terhadap keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.

“Perempuan yang sehat adalah pondasi keluarga yang sehat, dan keluarga yang sehat adalah fondasi masyarakat yang kuat. Maka menjaga kesehatan perempuan usia produktif adalah investasi terbaik bagi masa depan bangsa,” tutur Anang.

Melalui kegiatan ini, Anang berharap seluruh peserta dapat memahami pentingnya GP2SP sebagai bagian dari pembangunan kesehatan kerja, menerapkan prinsipnya di lingkungan masing-masing, serta menjadi agen perubahan dalam menciptakan tempat kerja yang lebih sehat, aman, dan ramah bagi perempuan demi mewujudkan pekerja perempuan yang sehat, produktif dan berdaya saing tinggi.

Rilis : MD/ILB
Editor : Nancy Pembengo

Sosial Media Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo :
Channel Youtube
Facebook Page
Facebook
Twitter
Instagram

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

five + eighteen =

scroll to top
Bahasa »