Program MBG Tunjukkan Dampak Positif, Dinkes P2KB Provinsi Gorontalo Catat Penurunan Gizi Kurang

IMG-20260120-WA0011.jpg

Rapat Evaluasi Status Gizi Balita dan Anak Sekolah Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Tahun 2025.

Kota Gorontalo, Dinkesprov – Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Provinsi Gorontalo, Anang S. Otoluwa, memimpin langsung Rapat Evaluasi Status Gizi Balita dan Anak Sekolah Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Tahun 2025, yang dilaksanakan di Aula Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo, Selasa (20/01/2026). Kegiatan ini dihadiri oleh Kepala Seksi Gizi Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) beserta staf terkait.

Rapat evaluasi ini membahas hasil pemantauan status gizi balita dan anak sekolah yang bersumber dari laporan elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGBM), dengan tarikan data per 23 Januari 2026. Berdasarkan data tersebut, status gizi balita dikelompokkan ke dalam empat kategori, yaitu stunting, wasting, underweight dan overweight, yang masih ditemukan di seluruh Kabupaten/Kota di Provinsi Gorontalo dengan variasi jumlah dan proporsi kasus.

Dalam arahannya, Anang menegaskan, bahwa data yang bersumber dari laporan e-PPGBM menjadi instrumen penting dalam pengambilan keputusan.

“Data e-PPGBM menjadi fondasi utama dalam perencanaan dan evaluasi program gizi. Dengan data yang valid, intervensi melalui Program MBG dapat disusun lebih tepat sasaran sesuai permasalahan di masing-masing wilayah,” ujar Anang.

Selain balita, rapat juga mengevaluasi status gizi anak sekolah penerima Program MBG. Dari total 557 sekolah penerima MBG di Provinsi Gorontalo, pemantauan status gizi telah dilakukan pada 23 sekolah atau sekitar 4,1 persen. Penilaian status gizi anak sekolah menggunakan indikator Indeks Massa Tubuh menurut Umur (IMT/U) sesuai standar WHO 2007.

Hasil evaluasi di Kota Gorontalo menunjukkan sebanyak 2.148 siswa telah dilakukan pengukuran. Terjadi penurunan signifikan kasus gizi kurang, di mana kategori sangat kurus menurun dari 6,6 persen menjadi 2,5 persen, sementara kategori kurus menurun dari 8,6 persen menjadi 7,7 persen. Pada saat yang sama, proporsi siswa dengan status gizi normal meningkat dari 58,4 persen menjadi 63,5 persen, yang menunjukkan dampak positif Program MBG terhadap perbaikan status gizi anak sekolah.

Pemantauan awal di empat kabupaten juga menunjukkan variasi permasalahan gizi. Persentase sangat kurus tertinggi tercatat di Kabupaten Gorontalo sebesar 3,5 persen, sementara persentase kurus tertinggi berada di Kabupaten Pohuwato sebesar 9,1 persen. Untuk kategori gizi lebih, persentase gemuk tertinggi ditemukan di Kabupaten Gorontalo sebesar 12,3 persen, sedangkan obesitas paling menonjol di Kabupaten Gorontalo Utara sebesar 28,2 persen. Meski demikian, di seluruh kabupaten, status gizi normal masih menjadi kategori dominan.

Menanggapi temuan tersebut, Anang menekankan perlunya keseimbangan intervensi gizi.

“Program MBG terbukti menurunkan gizi kurang dan meningkatkan proporsi gizi normal. Namun, meningkatnya gizi lebih dan obesitas di beberapa daerah harus segera diantisipasi melalui edukasi gizi seimbang, peningkatan aktivitas fisik anak, serta pemantauan yang berkelanjutan,” tegasnya.

Melalui rapat evaluasi ini, Dinkes P2KB Provinsi Gorontalo berkomitmen untuk memperkuat intervensi gizi spesifik, mengintegrasikan Program MBG dengan layanan kesehatan ibu dan anak, serta meningkatkan sistem monitoring, evaluasi, dan pelaporan berbasis e-PPGBM guna mewujudkan perbaikan status gizi balita dan anak sekolah secara berkelanjutan di Provinsi Gorontalo.

Rilis : MD/ILB
Editor : Nancy Pembengo

Sosial Media Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo :
Channel Youtube
Facebook Page
Facebook
Twitter
Instagram

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

twenty − nine =

scroll to top
Bahasa »