Indonesia Hebat: Ilmiahkan Kompetensi Supranatural

WhatsApp-Image-2021-12-20-at-14.02.54-e1639980577841.jpeg

Dr. Arifasno Napu, SSiT, MKes, Pengamat Gizi dan Kesehatan. Mengajar Ilmu Gizi, Kesehatan, Olahraga, Budaya di Perguruan Tinggi, Anggota Pengurus ISNA (Indonesia Sport Nutritionist Association), Ketua Pergizi Pangan Indonesia Gorontalo, Wakil Ketua Kwarda Gorontalo, Pembina DPD PERSAGI Gtlo, Dosen Poltekkes.

Dalam kehidupan ini bahwa “anda mempunyai ilmu termasuk ilmu kesehatan, saya juga punya ilmu, namun orang lain dan masyarakat yang ada di sana mempunyai ilmu yang berbeda dan bahkan lebih banyak serta lebih luas”. Bilakah dilestarikan, dikembangkan, bahkan diilmiahkan kompetensi supranatural sebagai kekayaan berbagai keilmuan bangsa Indonesia?

Teringat hampir 15 tahun yang lalu ketika mengunjungi sebuah desa diujung Timur Gorontalo yang bernama Desa Pinogu Kecamatan Suwawa Kabupaten Bone Bolango Provinsi Gorontalo yang luas datarannya ±361,4 km2  dengan suhu alam yang dingin menyejukkan yang suasananya seperti di sekitar daerah menuju Puncak Bogor Jawa Barat. Penduduk saat itu baru sekitar 1600-an jiwa. Alhamdulillah, penulis sudah 8 kali ke desa tersebut tetapi saat ini telah menjadi satu kecamatan Pinogu dengan 5 (lima) desa yakni Bangio, Dataran Hijau, Pinogu (ibukota kecamatan), Pinogu Permai dan Tilonggibila.

Saat itu, tidak ada alat transportasi yang bisa digunakan sehingga harus ditempuh dengan berjalan kaki. Yah, waktu tempuhnya untuk penduduk asli hanya sekitar 12-13 jam. Sementara bila bukan penduduk di sana bisa lebih dari 13 jam. Pengalaman saat itu, perjalanan dapat ditempuh sekitar 15 jam dengan peserta yang ikut memang terlatih dan biasa melaksanakan penjelajahan. Tetapi jika yang ikut menjelajah pesertanya banyak dan kurang berpengalaman, maka waktu tempuh menjadi bertambah bisa lebih dari 20 jam (star berjalan jam 05.30 pagi sampai besoknya jam 03.00).

Sangat menyenangkan karena selama perjalanan diiringi, dihiasi, bahkan ditemani oleh berbagai keadaan. Teman yang lelah, kehausan, urat-urat yang kejang (istilah daerah kena tikus-tikus), dan semua keaslian jati diri bisa dilahirkan dengan lugu dalam perjalanan ini seperti mau menang sendiri atau egois, tidak berbagi (ada makanan/minuman hanya disembunyikan), bahkan ada yang merasa dirinya sangat kuat sehingga teman-teman lain ditinggalkannya.

Perjalanan ini melewati Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (Hutan Wilayah Gorontalo-Sulawesi Utara) yang memang masih asri di depan dan belakang, di kiri dan kanan yang terlihat hanya pepohonan namun disayangkan sudah ada juga pohon-pohon yang ditebang. Ada suara anjing mengonggong, tetapi tidak bisa kita lihat dimana anjing itu berada sementara suaranya sangat dekat. Ada suara seorang ibu yang sedang menidurkan anak kecil tetapi tidak terlihat rumah atau gubuk mereka, sementara terdengar jelas dan sangat dekat diri ini dengan mereka. Ada suara bayi dan anak menangis tetapi tidak terlihat di mana mereka berada. Ada suara musik yang menandakan bahwa disekitar hutan ada rumah dengan suara soud sistem yang cukup bagus, tetapi tidak terlihat di mana asal suara tersebut. Selain tidak lepas dari suara yang sumbernya tidak kelihatan, sementara hiburan indah juga berasal dari suara burung khas hutan tersebut, teriakan monyet di depan dan seakan-akan mau menyerang atau menerkam para penjelajah, namun dengan cepat dibuatkan api sehingga mereka takut dan lari meninggalkan penjelajah. Demikian pula ada suara yang membuat bulu kuduk berdiri, termasuk suara-suara burung rangkok, jangkrik, suara hembusan angin pada pohon, suara gemercik air dan suara indah serta suara seram lainnya.

Menarik juga hisapan lintah darat yang besarnya hanya seperempat panjang dan besar batang korek api, namun setelah menghisap darah dan kekenyangan hingga jatuh sendiri besarnya bisa 2-5 kali dari besar semula. Dan tempat hisapannya ini mengeluarkan darah terus sekalipun tidak banyak (unsur antikoagulasi). Pokoknya, banyak kekaguman, keanehan, keindahan, yang harus dinikmati secara natural maupun supranatural agar bisa mencapai tujuan.

Kejadian Supranatural

Suatu pengalaman yang unik tentang riwayat alergi pada seorang penjelajah. Saat itu sudah sekitar sepertiga perjalanan dilalui, kita duduk santai di tepian sungai sambil ada yang memasak, meregangkan ototnya dengan mandi di sungai. Ada yang minum kopi dengan kenikamatan terasa sangat dan setelah makan siang, sebentar lagi akan berangkat melanjutkan perjalanan. Penulis selaku pimpinan dan penanggung jawab perjalanan menanyakan siapa-siapa yang belum makan? Dijawablah oleh peserta penjelajah yang merupakan anggota Pramuka Peduli Gorontalo dan juga tim kesehatan Dinkes Provinsi Gorontalo bahwa ada satu orang yang belum makan yang kita sebut saja namanya Rahmat. Penulis katakan suruh menghadap dan ditanya kenapa tidak makan. Dia menjawab bahwa dia tidak bisa makan karena alergi dengan mie dan ikan kaleng. Alerginya dalam bentuk bengkak-bengkak atau bentol-bentol sekujur tubuh, demikian penjelasannya. Karena penulis selaku pemimpin dan penanggung jawab perjalanan dan jarak tempuh baru sekitar sepertiga perjalanan, maka penulis katakan bahwa kau harus makan sekalipun hanya lima sendok makan.

Karena dia patuh pada perintah, dimakanlah mie dan ikan kaleng yang telah dimasak tersebut. Hanya selang sekitar sepuluh menit tubuhnya menjadi bentol-bentol dan menjalar kearah wajah yang sudah memerah. Dia menghadap ke penulis, dan benar-benar membuat kaget yang terjadi pada tubuhnya. Dia tidak diminumkan obat, hanya saja dia minta sudah mau melanjutkan perjalanan dan berjalan bersama-sama dengan seorang bapak yang berasal dari Pinogu. Sang bapak ini bertanya, apa yang terjadi pada dirimu nak? Rahmat menjawab dengan penuh kekesalan bahwa “tubuhnya terasa gatal sekali dan sudah penuh dengan bentol-bentol karena makan mie dan ikan kaleng yang sebelumnya sudah dikatakannya bahwa dia tidak bisa makan makanan tersebut”.

Belum lama melanjutkan perjalanan, Rahmat dengan penuh kesal kepada penulis tentang riwayat dirinya bahwa dia tidak boleh makan mie dan ikan kaleng yang bisa menyebabkan alergi. Sang bapak ini hanya memberikan senyum kepada Rahmat, dan tiba-tiba dia mengeluarkan golok dari sarungnya. Dengan tenang sang bapak menebang sebatang daun pohon enau (Pohon Bohito) yang buahnya dibuat kolang kaling dan dikenal sebagai buah yang sangat gatal. Kemudian dipukul-pukulkanlah dengan lembut pada sekujur tubuhnya Rahmat seraya membaca mantra-mantra yang tidak terdengar namun telihat dari gerakan bibirnya sang bapak yang penuh dengan ketenangan.

Setelah dipukul-pukulkannya dengan lembut daun pohon enau ini pada tubuhnya Rahmat, maka seketika rasa gatal dan bentol-bentol pada tubuhnya ini sudah mulai menurun. Tidak lama kemudian hilang rasa gatalnya dan bentol-bentolnya pun mulai tidak berbekas. Maka terjadilah dialog antara Rahmat dan Sang Bapak ini. Diliputi dengan rasa heran seribu bahasa, tiba-tiba sang bapak berkata… Nak, tubuhmu jadi gatal-gatal dan bentol-bentol ini bukan karena makan mie dan ikan kaleng sebagaimana yang nak sampaikan ke bapak. Rahmat penuh keheranan, tapi saya kan ada riwayat alergi, jawab Rahmat. Sang bapak ini menjelaskan bahwa tubuhmu terjadi seperti itu karena tadi waktu kau mandi di sungai bapak memperhatikan dan melihat bahwa adik sedang duduk dengan orang lain yang tidak bisa dilihat oleh kalian.

Secara riwayat, Rahmat mempunyai riwayat alergi mengkonsumsi mie dan ikan kaleng. Ketika dikonsumsinya maka ada bukti bahwa terjadi alergi pada tubuhnya dalam bentuk gatal-gatal dan bentol-bentol. Tetapi dengan tindakan kompetensi kearifan lokal tersebut alerginya hilang dan tidak berbekas dibingkai dengan argumentasi yang tidak rasional dari bapak tersebut. Bahkan sebagai tenaga kesehatan hal-hal demikian bukan dihargai sebagai ilmu yang dimiliki atau dilebihkan oleh Tuhan Yang Maha Esa kepada seseorang tetapi langsung divonis bahwa itu hanyalah sugesti belaka?

Lestarikan, Kembangkan, dan Ilmiahkan Supranatural?

Menurut penulis, ini baru sekelumit supranatural yang ada di alam Gorontalo, sementara di alam Indonesia kompetensinya berjumlah sangat banyak tetapi apakah dilestarikan dan dikembangkan? Bisa saja diilmiahkan dalam bentuk penelitian, misalnya apakah ada pengaruh daun enau ini terhadap alergi makanan pada tubuh manusia??? Oleh karena itu, dapatlah disepakati dalam kehidupan ini bahwa “anda mempunyai ilmu termasuk ilmu kesehatan, saya juga punya ilmu, namun orang lain dan masyarakat yang ada di sana mempunyai ilmu yang berbeda dan bahkan lebih banyak serta lebih luas”. Bilakah dilestarikan, dikembangkan, bahkan diilmiahkan kompetensi supranatural sebagai kekayaan berbagai keilmuan bangsa Indonesia? Semoga tulisan ini bermanfaat, bersama berkarya sebagai ibadah dalam kebaikan dan kebenaran yang rasional serta ilmiah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

3 × 4 =

scroll to top