Oleh : Arman Saidi – Epidemiolog Kesehatan Ahli Pertama
Salam Sehat dari Sabua, Selasa/28 Juli 2026- Ramainya pemberitaan tentang privilege pegawai SPPG dan Kopdes di media sosial, serta penangkapan koruptor yang ugal-ugalan menilap uang negara yang ramai diberitakan. Ada kegigihan dan dedikasi tanpa batas Tenaga Kesehatan dan Guru yang berjuang menembus ombak dan sulitnya akses menuju pulau di Desa Dudepo Kepulauan Kabupaten Gorontalo Utara. Narasi ini kami buat berdasarkan fakta di lapangan ketika mendampingi petugas kesehatan Puskesmas Ilangata pada pelayanan KLB Campak melalui pemberian imunisasi tambahan atau yang dikenal dengan Outbreak Respons Immunization (ORI). Hal ini bukan tanpa alasan, bahwa KLB Campak secara pasti (berdasarkan konfirmasi hasil laboratorium) terjadi karena rendahnya capaian imunisasi rutin pada satu komunitas. Kenapa hanya Imunisasi? Tentu ini bukan faktor tunggal, ada banyak variabel confounding yang menyertainya dan ini perlu intervensi serius dan berkelanjutan.
Ketika kami menyebutkan “imunisasi”, mungkin banyak yang akan skeptis atau apatis terhadap prgoram ini. Jangankan oleh masyarakat awam, secara politis pun program ini kurang populer, barang kali tidak ada satu politikus menganggap ini sebagai isu sentral dalam meningkatkan elektabitas mereka pada masing-masing konstituensinya. Padahal, program ini sudah lama ada di republik ini, bahkan sebelum isu stunting digembar-gemborkan yang kemudian menjadikan hampir seluruh sektor ikut mengangkat isu stunting ini dalam perencanaan penganggaranya. Lalu imunisasi? entahlah, barangkali hanya lipservice semata lalu menganggap ini semata urusan petugas kesehata.
Wajarlah jika KLB Campak di Desa Dudepo terjaring hingga 4 (empat) orang (itu yang didapat), belum lagi kontak erat lain yang belum terjangkau oleh petugas. Sepintas penyakit campak terlihat biasa dan akan sembuh dengan sendirinya. Namun fakta di balik itu, masalah yang ditimbulkannya memiliki dampak yang besar untuk kesehatan masyarakat terutama mereka yang menjadi kelompok rentan, apa lagi ditambah dengan rubella. Perhitungan secara epidemiologi menunjukkan laju penularannya untuk satu kasus dapat menularkan hingga 18 orang. Masalah kebutaan dan kecacatan kongenital (untuk rubella) jika menjangkiti ibu hami hingga kematian merupakan dampak buruknya. Sehingga untuk pencegahan dan penanggulangannya melalui pemberian imunisasi Campak Rubela (Measles-Rubella).
Hal ini juga yang kemudian mengantarkan kami menapaki pulau tayomo (sebutan dalam bahas Gorontalo untuk bulu babi)-penamaan ini oleh penulis pribadi karena melihat dari atas perahu banyak tayomo di sekitar pulau Dudepo. Namun ini bukan momok menakutkan dan jadi alasan yang dapat mengendorkan niat kami memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat Dudepo.

Pulau Dudepo di Kabupaten Gorontalo Utara menjadi salah satu potret kecil tentang bagaimana negara sesungguhnya hadir. Untuk mencapai pulau itu, tenaga kesehatan harus menyeberangi laut dengan perahu kecil, menghadapi ombak, panas matahari, serta keterbatasan sarana keselamatan. Guru-guru melakukan perjalanan yang sama hampir setiap hari demi memastikan anak-anak tetap memperoleh hak atas pendidikan. Mereka datang bukan karena tempat itu mudah dijangkau, melainkan karena masyarakat di sana memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pelayanan dasar dan wajib.
Perjalanan ke Dudepo bukanlah perjalanan wisata. Ia adalah perjalanan kemanusiaan. Kedatangan tim kesehatan ke pulau tersebut dipicu oleh Kejadian Luar Biasa (KLB) Campak yang telah dikonfirmasi melalui pemeriksaan laboratorium. KLB bukan sekadar munculnya beberapa kasus penyakit. Ia merupakan peringatan bahwa masih ada celah dalam sistem pelayanan kesehatan, mulai dari rendahnya cakupan imunisasi, keterbatasan akses pelayanan, hingga perlunya penguatan edukasi masyarakat. Setiap kasus campak bukan hanya angka dalam laporan epidemiologi, tetapi juga seorang anak yang masa depannya dapat terancam oleh penyakit yang sebenarnya dapat dicegah.
Karena itulah, pelayanan Outbreak Response Immunization (ORI) menjadi begitu penting. Imunisasi tambahan bukan sekadar menyuntikkan vaksin, melainkan membangun perlindungan bersama agar rantai penularan dapat diputus. Di balik satu dosis vaksin yang diberikan, tersimpan harapan agar tidak ada lagi anak yang kehilangan kesempatan tumbuh sehat hanya karena terlambat memperoleh perlindungan.
Yang paling mengesankan selama pelayanan bukanlah sulitnya perjalanan menuju pulau. Justru yang membekas adalah sambutan hangat masyarakat. Orang tua mendampingi anak-anak mereka, guru membantu mengumpulkan siswa, aparat desa mengoordinasikan warga, sementara kader kesehatan menjadi jembatan komunikasi antara masyarakat dan petugas. Ketika diberikan penjelasan mengenai manfaat imunisasi, banyak orang tua yang awalnya belum memahami akhirnya menerima dengan penuh kesadaran.
Momen seperti inilah yang mengingatkan bahwa keberhasilan pelayanan kesehatan tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan vaksin, tetapi juga oleh kepercayaan masyarakat. Kepercayaan itu dibangun melalui kehadiran, dialog, dan ketulusan.
Namun di balik keberhasilan tersebut, masih tersimpan tantangan besar. Wilayah kepulauan membutuhkan biaya operasional yang lebih tinggi, logistik yang lebih kompleks, transportasi yang bergantung pada cuaca, serta risiko perjalanan yang jauh lebih besar dibandingkan pelayanan di wilayah daratan. Tidak sedikit tenaga kesehatan dan guru yang harus mengeluarkan pengorbanan pribadi agar pelayanan tetap berjalan. Mereka memahami bahwa profesinya bukan sekadar pekerjaan, melainkan amanah yang harus ditunaikan.
Ironisnya, dedikasi seperti ini sering kali luput dari perhatian. Publik lebih mudah melihat gedung baru, jalan yang diresmikan, atau proyek pembangunan lainnya dibandingkan perjalanan sunyi para tenaga kesehatan dan guru yang setiap hari mempertaruhkan keselamatan demi menjalankan tugas. Padahal, keberadaan mereka adalah fondasi yang menjaga kualitas hidup masyarakat Indonesia hingga ke pulau-pulau terluar.
Pelayanan dasar tidak mengenal tanggal merah. Demikian pula virus yang menyerang anak-anak tidak berdasarkan jam kerja. Penyakit tidak pernah memilih datang hanya ketika cuaca bersahabat atau ketika cuacanya sedang mengganas. Oleh sebab itu, pengabdian mereka pun tidak mengenal batas geografis dan administrasi. Ketika masyarakat membutuhkan, mereka harus hadir.
Pulau Dudepo mengajarkan satu pelajaran penting bahwa indikator keberhasilan pembangunan bukan hanya ditentukan oleh tingginya bangunan yang berdiri di kota-kota besar, tetapi juga oleh kemampuan negara menghadirkan pelayanan hingga ke rumah-rumah sederhana di wilayah yang paling sulit dijangkau. Setiap perjalanan tenaga kesehatan dan guru menuju daerah terpencil sesungguhnya adalah perjalanan menghadirkan negara kepada rakyatnya.
Karena itu, dukungan terhadap mereka tidak boleh berhenti pada ucapan terima kasih. Mereka membutuhkan sistem yang berpihak, pembiayaan operasional yang memadai, sarana keselamatan yang layak, dukungan lintas sektor, serta kebijakan yang memahami realitas lapangan. Pengabdian memang tidak dapat diukur hanya dengan angka dalam laporan administrasi, tetapi negara berkewajiban memastikan bahwa mereka yang melayani masyarakat memperoleh perlindungan dan penghargaan yang pantas.
Suatu ketika, ada salah seorang warga kemudian nyeletuk, menawarkan agar kami mau berkunjung lagi kesini dilain kesempatan. “InshaAllah tanggal 17 Agustus ini, pas hari komerdekan RI somo ada olo listrik di Dudepo, pak” ungkapnya. Kemudian disambung oleh kepala dusun, “Sesuai janji li ibu Idah Syaidah Rusli Habibi, ti ibu Wagub, per 17 Agustus 2026 Dudepo akan diterangi oleh listrik PLN” pungkasnya sambil tersenyum bahagia. Dikatakannya bahwa pemasangan instalasi bawah laut serta gardu yang sudah dibangun di Dusun Makasar merupakan progres nyata bahwa Dudepo akan ada jaringan Listrik oleh PLN dalam waktu dekat. Penuh haru dan bahagia, belum sempat kami bersyukur akan suguhan makanan untuk kami, ditambah dengan undangan yang tulus dari warga agar kami bisa berkunjung lagi. Sempat mata berkaca-kaca bahagia menyaksikan keramahan dan ketulusan warga Dudepo, tapi ternyata mata yang berkaca itu sedikit kecipratan kuah dabu-dabu, hahahaha.
Pada akhirnya, kisah dari Dudepo bukan hanya tentang imunisasi campak. Bukan pula sekadar tentang perjalanan melintasi laut. Kisah ini adalah tentang orang-orang biasa yang menjalankan tugas dengan cara yang luar biasa. Mereka mungkin tidak pernah menjadi berita utama, tetapi melalui tangan merekalah anak-anak tetap sehat, sekolah tetap hidup, dan harapan tetap tumbuh di pulau-pulau yang jauh dari keramaian.
Sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Al-Ma’idah ayat 32, “Barang siapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan seluruh manusia.” Ayat ini menjadi pengingat bahwa setiap langkah menuju tempat pengabdian, setiap ombak yang diterjang, setiap tetes keringat yang jatuh, serta setiap anak yang berhasil terlindungi melalui pelayanan kesehatan dan pendidikan bukanlah pengorbanan yang sia-sia. Di sanalah makna pengabdian menemukan kemuliaannya.
Terima kasih kepada seluruh tenaga kesehatan, guru, kader, aparat desa, para nelayan, dan semua pihak yang terus menjaga pelayanan dasar hingga ke pelosok negeri. Mungkin pengabdian mereka tidak selalu mendapat tepuk tangan, tetapi Indonesia berdiri lebih kuat karena dedikasi mereka.
Editor : MD
Sosial Media Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo :
Channel Youtube
Facebook Page
Facebook
Twitter
Instagram
