Kematian Ibu dan Stunting Jadi Fokus Evaluasi Kesehatan Masyarakat Gorontalo

IMG-20261005-WA0007.jpg

Rapat Evaluasi Bidang Kesehatan Masyarakat terkait program stunting dan kesehatan ibu.

Kota Gorontalo, DinkesP2KB – Penguatan kesehatan ibu dan percepatan penurunan stunting menjadi dua agenda penting dalam evaluasi pembangunan kesehatan masyarakat di Provinsi Gorontalo. Evaluasi menunjukkan bahwa pencegahan kematian ibu membutuhkan penguatan deteksi dini dan sistem rujukan, sementara penanganan stunting memerlukan intervensi berkelanjutan sejak tingkat keluarga, Posyandu, hingga fasilitas pelayanan kesehatan.

Kedua isu tersebut dibahas dalam Rapat Evaluasi Bidang Kesehatan Masyarakat yang membahas Stunting dan Kesehatan Ibu, Senin (5/10/2026), di Aula Kantor Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Provinsi Gorontalo.

Dalam evaluasi kesehatan ibu, tercatat 32 kasus kematian ibu. Sebanyak 21 kasus atau 65,6 persen merupakan penyebab obstetrik langsung, terutama hipertensi dalam kehamilan dan perdarahan obstetrik. Selain itu, terdapat tiga kasus atau 9,4 persen yang meninggal dalam proses rujukan atau Death on Arrival (DOA).

Hipertensi dalam kehamilan menjadi penyebab terbesar dengan 13 kasus atau 40,6 persen, terdiri atas delapan kasus eklamsia dan impending eklamsia serta lima kasus preeklamsia berat (PEB).

Sementara itu, perdarahan obstetrik menyumbang delapan kasus atau 25 persen. Kondisi yang ditemukan antara lain perdarahan postpartum atau nifas, atonia uteri, inversio uteri, dan solusio plasenta. Komplikasi yang menonjol adalah syok hipovolemik berat setelah persalinan.

Kepala Dinkes P2KB Provinsi Gorontalo Anang S. Otoluwa mengatakan evaluasi tersebut harus diterjemahkan menjadi langkah konkret untuk memperkuat kesinambungan pelayanan sejak kehamilan hingga persalinan.

“Kita harus memastikan risiko ditemukan lebih awal, ditangani lebih cepat, dan dirujuk dengan tepat. Penguatan ANC, skrining hipertensi sejak kunjungan pertama, kesiapan obat, serta sistem rujukan kegawatdaruratan merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam upaya menyelamatkan ibu,” ujar Anang.

Menurutnya, penguatan pelayanan kesehatan ibu juga perlu berjalan beriringan dengan upaya pencegahan masalah gizi dan stunting. Kesehatan ibu selama kehamilan, status gizi, kualitas pelayanan antenatal, serta pemantauan pertumbuhan anak merupakan rangkaian intervensi yang saling berkaitan dalam membangun kesehatan sejak awal kehidupan.

Evaluasi juga menemukan 10 kasus atau 31,25 persen kematian ibu dengan penyakit penyerta atau komorbiditas. Di antaranya empat kasus infeksi paru/TB, tiga kasus HEG berat, dua kasus infeksi sistemik atau SIRS, serta penyakit kronis seperti hipertiroid dan CKD.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes P2KB Provinsi Gorontalo Syafiin S. Napu mengatakan pendekatan pelayanan perlu semakin terintegrasi, terutama bagi ibu hamil yang memiliki penyakit penyerta sekaligus membutuhkan pemantauan kehamilan dan status gizi.

“Kesehatan ibu dan anak harus kita lihat sebagai satu kesinambungan pelayanan. Ibu hamil dengan komorbid membutuhkan penanganan terpadu, sementara pada sisi lain pertumbuhan dan perkembangan anak harus dipantau secara konsisten agar risiko gangguan gizi dapat ditemukan sedini mungkin,” kata Syafiin.

Dalam evaluasi stunting, pembahasan juga menyoroti pelaksanaan intervensi dan pemantauan program berbasis data. Data evaluasi bersumber dari Sigizi Kesga per 5 Oktober 2026. Salah satu praktik yang ditampilkan adalah Moosehati Terpadu di Desa Huangobotu, Kecamatan Kabila Bone, Kabupaten Bone Bolango, sebagai bagian dari kegiatan intervensi di tingkat masyarakat.

Pendekatan tersebut menempatkan masyarakat dan layanan dasar sebagai bagian penting dalam menemukan masalah gizi lebih awal. Pemantauan pertumbuhan anak, identifikasi risiko, pemberian intervensi sesuai kebutuhan, serta keterhubungan dengan fasilitas kesehatan menjadi bagian dari upaya memastikan anak tidak terlambat mendapatkan penanganan.

Evaluasi stunting juga menjadi momentum untuk memastikan program tidak hanya berorientasi pada angka prevalensi, tetapi pada kemampuan sistem kesehatan menemukan dan menangani anak berisiko secara lebih cepat. Karena itu, penguatan Posyandu, Puskesmas, kader, keluarga, serta koordinasi lintas sektor tetap menjadi bagian penting dari strategi penanganan.

Dari sisi kewilayahan, kematian ibu masih menunjukkan variasi antardaerah. Kabupaten Gorontalo mencatat 12 kasus atau 37,5 persen, disusul Bone Bolango enam kasus (18,8 persen), Gorontalo Utara empat kasus (12,5 persen), Boalemo empat kasus (12,5 persen), Kota Gorontalo tiga kasus (9,4 persen), dan Pohuwato tiga kasus (9,4 persen).

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa intervensi kesehatan masyarakat perlu disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan masing-masing wilayah. Penguatan pelayanan ANC, deteksi risiko, penanganan komorbid, kesiapan fasilitas kesehatan, hingga sistem rujukan perlu berjalan bersama dengan intervensi pencegahan dan penanganan masalah gizi pada ibu dan anak.

Sejumlah langkah strategis menjadi perhatian dalam evaluasi, mulai dari memperkuat skrining hipertensi sejak ANC pertama, meningkatkan kemampuan deteksi PEB dan eklamsia, memperkuat pelayanan bagi ibu dengan komorbid, memastikan kesiapan rujukan kegawatdaruratan, hingga memperkuat pemantauan pertumbuhan dan intervensi gizi pada anak.

Bagi Dinkes P2KB Provinsi Gorontalo, keberhasilan program kesehatan masyarakat pada akhirnya ditentukan oleh kemampuan seluruh mata rantai pelayanan bekerja secara terintegrasi. Keluarga, kader, bidan, tenaga kesehatan, Posyandu, Puskesmas, rumah sakit, pemerintah kabupaten/kota, hingga pemerintah provinsi memiliki peran dalam memastikan risiko kesehatan ditemukan sebelum berkembang menjadi masalah yang lebih berat.

Deteksi lebih awal, intervensi lebih cepat, dan pelayanan yang terintegrasi menjadi kunci untuk melindungi ibu sekaligus memastikan anak Gorontalo tumbuh sehat.

Rilis : ILB
Editor : MD

Sosial Media Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo :
Channel Youtube
Facebook Page
Facebook
Twitter
Instagram

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

8 − six =

scroll to top