Krisis Gizi di Kota Bandar: Membongkar Akar Masalah Wasting pada Balita Gorontalo

WhatsApp-Image-2026-09-14-at-08.29.45.jpeg

Oleh : Saleh Panigoro (Nutrisionis Ahli Muda Dinkes P2KB Provinsi Gorontalo)

Wasting pada balita masih menjadi salah satu persoalan gizi yang perlu mendapat perhatian serius. Kondisi tubuh kurus akibat berat badan yang tidak sebanding dengan tinggi badan ini bukan sekadar persoalan ukuran tubuh, tetapi dapat menjadi cerminan dari ketidakcukupan asupan gizi dan berbagai faktor yang memengaruhi pertumbuhan serta perkembangan anak. Di Kota Gorontalo, persoalan tersebut menjadi semakin penting untuk dikaji karena angka wasting tercatat sebagai yang tertinggi di antara seluruh kabupaten/kota di Provinsi Gorontalo.

Tingginya angka tersebut menimbulkan pertanyaan penting: faktor apa yang sebenarnya paling menentukan seorang balita mengalami wasting? Persoalan gizi anak tidak berdiri sendiri. Kondisi sosial ekonomi keluarga, riwayat penyakit infeksi, praktik pemberian ASI, serta kecukupan asupan energi dan zat gizi makro seperti karbohidrat, protein, dan lemak merupakan sejumlah faktor yang perlu dilihat secara lebih mendalam.

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kajian berjudul “Analisis Determinan Kejadian Wasting di Kota Gorontalo” dilakukan terhadap balita berusia 6–59 bulan. Kajian ini berupaya melihat berbagai faktor yang berkaitan dengan kejadian wasting sekaligus mengidentifikasi faktor yang paling dominan dalam kondisi tersebut.

Hasil kajian menunjukkan bahwa persoalan wasting di Kota Gorontalo tidak semata-mata berkaitan dengan tingkat pendapatan keluarga. Justru, kecukupan asupan zat gizi makro, terutama protein dan karbohidrat, menunjukkan hubungan yang lebih kuat dengan kejadian wasting. Temuan tersebut memberikan perspektif penting bahwa penanganan wasting perlu diarahkan tidak hanya pada persoalan ekonomi, tetapi juga pada kualitas dan kecukupan makanan yang dikonsumsi balita.

Gorontalo, Provinsi dengan Beban Ganda

Persoalan wasting bukan hanya milik Gorontalo. Secara global, data UNICEF mencatat bahwa pada tahun 2019 sekitar 6,9 persen atau 47 juta balita di dunia mengalami wasting, dengan mayoritas — 69 persen — berada di kawasan Asia. Indonesia sendiri, meski prevalensi wasting nasionalnya menurun dari 12,1 persen pada 2013 menjadi 10,2 persen pada 2018 menurut data Riskesdas, masih jauh dari target Kementerian Kesehatan yang mematok angka di bawah 9,5 persen, apalagi standar internasional WHO yang menetapkan batas aman di bawah 5 persen.

Di tingkat provinsi, posisi Gorontalo justru semakin mengkhawatirkan. Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat prevalensi wasting Provinsi Gorontalo mencapai 12,7 persen, naik dua poin dari 10,2 persen pada Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2021 — jauh di atas rata-rata nasional yang berada di kisaran 8,5 persen. Bahkan data SSGI 2024 menunjukkan prevalensi wasting provinsi ini menembus 9,2 persen, tetap melampaui standar nasional sebesar 6,2 persen.

Namun yang paling menonjol adalah distribusinya di tingkat kabupaten/kota. Dari enam kabupaten/kota di Provinsi Gorontalo, Kota Gorontalo menempati posisi teratas dengan prevalensi wasting sebesar 31,2 persen, jauh meninggalkan Kabupaten Gorontalo Utara (25,7 persen), Kabupaten Gorontalo (23,8 persen), Kabupaten Bone Bolango (23,0 persen), serta Pohuwato dan Boalemo yang masing-masing berada di angka 8,0 persen. Dengan jumlah balita di Kota Gorontalo mencapai 11.678 jiwa, angka ini berarti ribuan anak berpotensi mengalami gangguan pertumbuhan yang bisa berdampak jangka panjang terhadap kecerdasan dan produktivitas mereka di masa depan.

Menyingkap Determinan Lewat 228 Responden

Untuk mencari jawaban atas fenomena ini, penelitian dilakukan dengan desain studi potong-lintang (cross-sectional) yang melibatkan 228 balita berusia 6–59 bulan sebagai sampel, diambil dari total populasi 11.678 balita di Kota Gorontalo melalui teknik purposive sampling. Tujuh variabel diuji sebagai kemungkinan determinan: pendapatan keluarga, riwayat penyakit infeksi, riwayat ASI eksklusif, serta asupan energi, karbohidrat, protein, dan lemak.

Dari sisi karakteristik responden, mayoritas ibu balita berada pada kelompok usia 31–35 tahun (33,8 persen), dengan tingkat pendidikan terbanyak adalah lulusan SMA/SMK (59,2 persen) dan sebagian besar berprofesi sebagai ibu rumah tangga (88,2 persen). Sementara itu, ayah balita paling banyak bekerja sebagai buruh (32,0 persen). Balita yang menjadi responden didominasi kelompok usia 1–5 tahun (96,8 persen), dengan proporsi balita perempuan (51,8 persen) sedikit lebih tinggi dibanding laki-laki (48,2 persen).

Dari total 228 balita yang diteliti, tercatat 45 anak atau 19,7 persen mengalami wasting, sementara 183 anak lainnya (80,3 persen) berstatus gizi normal. Angka ini menjadi dasar bagi analisis lebih lanjut untuk menemukan faktor-faktor yang benar-benar berhubungan secara statistik dengan kondisi tersebut.
Pendapatan Bukan Segalanya

Salah satu temuan yang menarik dari penelitian ini adalah tidak ditemukannya hubungan yang signifikan antara pendapatan keluarga dengan kejadian wasting, dengan nilai p sebesar 1,000 jauh di atas ambang batas signifikansi 0,05. Dari 203 responden berpendapatan rendah (di bawah Rp3.025.100), sebanyak 163 anak justru berstatus gizi normal, sementara 40 anak mengalami wasting. Sebaliknya, dari 25 responden berpendapatan tinggi, lima anak di antaranya tetap mengalami wasting.

Temuan ini menegaskan bahwa kemiskinan finansial saja tidak otomatis menyebabkan anak kekurangan gizi, begitu pula sebaliknya, kecukupan pendapatan tidak serta-merta menjamin anak terbebas dari wasting. Pengetahuan gizi orang tua dan pola pengasuhan tampaknya berperan jauh lebih besar daripada sekadar besaran penghasilan keluarga.

Pola serupa juga ditemukan pada dua variabel lain. Riwayat penyakit infeksi seperti diare dan ISPA tidak menunjukkan hubungan signifikan dengan kejadian wasting (nilai p 0,980), meski 9,2 persen responden tercatat pernah mengalami diare. Riwayat pemberian ASI eksklusif pun demikian; meski 50,9 persen balita mendapat ASI eksklusif dan sisanya tidak, hasil uji statistik menunjukkan nilai p sebesar 0,895, jauh dari signifikan.
Karbohidrat, Protein, dan Lemak: Tiga Aktor Utama

Justru pada asupan zat gizi makro, penelitian ini menemukan pola yang jauh lebih tegas. Keempat komponen asupan makan yaitu energi, karbohidrat, protein, dan lemak seluruhnya menunjukkan hubungan yang signifikan secara statistik dengan kejadian wasting, dengan nilai p masing-masing di bawah 0,05.

Pada asupan energi, dari 100 balita dengan asupan energi kurang, sebanyak 32 persen mengalami wasting, dibandingkan hanya 10,2 persen pada kelompok balita dengan asupan energi cukup. Pola yang lebih tajam terlihat pada asupan karbohidrat: balita dengan asupan karbohidrat kurang memiliki angka wasting mencapai 35,3 persen, jauh di atas kelompok berasupan cukup yang hanya 7,1 persen.

Kesenjangan paling mencolok justru terlihat pada asupan protein. Di antara 92 balita dengan asupan protein kurang, hampir separuhnya, 43,5 persen mengalami wasting. Bandingkan dengan kelompok balita berasupan protein cukup, yang angka wastingnya hanya 3,7 persen. Sementara pada asupan lemak, balita dengan asupan kurang mencatat prevalensi wasting 30,3 persen, berbanding 5,2 persen pada kelompok dengan asupan cukup.

Protein: Faktor Paling Dominan

Ketika seluruh variabel diuji secara bersamaan melalui analisis regresi logistik ganda, hasilnya semakin mempertegas peran krusial asupan gizi makro. Setelah proses seleksi bertahap, model akhir menyisakan dua variabel yang paling konsisten berhubungan dengan kejadian wasting: asupan karbohidrat dan asupan protein.

Di antara keduanya, asupan protein tampil sebagai faktor paling dominan, dengan balita yang kekurangan asupan protein berisiko hampir sembilan kali lebih besar mengalami wasting dibandingkan balita dengan asupan protein cukup. Asupan karbohidrat menyusul di posisi kedua, dengan balita berasupan kurang berisiko sekitar empat kali lipat lebih tinggi mengalami wasting dibanding rekan sebayanya yang asupannya tercukupi.

Temuan ini sejalan dengan pemahaman gizi klinis bahwa protein berperan vital dalam pembentukan dan perbaikan jaringan tubuh anak yang sedang tumbuh pesat. Kekurangan protein dalam jangka panjang dapat mengganggu proses pertumbuhan sel dan jaringan, sehingga anak tampak kurus meski secara kasat mata mendapat cukup makanan.

Menuju Solusi: Bukan Sekadar Soal Kemiskinan

Kesimpulan dari penelitian ini memberikan arah kebijakan yang cukup jelas: penanganan wasting di Kota Gorontalo tidak bisa hanya mengandalkan pendekatan ekonomi semata, melainkan harus menyasar langsung pada pemenuhan kualitas dan kuantitas asupan gizi anak, khususnya protein, karbohidrat, dan lemak.

Peneliti merekomendasikan agar orang tua lebih memperhatikan pola makan balita dengan memastikan keseimbangan asupan karbohidrat, protein, dan lemak, serta melengkapi imunisasi dasar dan pemberian ASI eksklusif. Bagi puskesmas dan dinas kesehatan setempat, penelitian ini menyarankan penguatan edukasi gizi, pemantauan tumbuh kembang balita secara berkala, serta pemerataan program pemberian makanan tambahan. Sementara untuk penelitian selanjutnya, disarankan memperluas cakupan wilayah dan sampel, serta memasukkan variabel lain seperti pola asuh, sanitasi lingkungan, dan akses layanan kesehatan yang belum tersentuh dalam kajian ini.

Di tengah upaya nasional menekan angka wasting hingga di bawah 5 persen sesuai target global 2025, temuan dari Kota Gorontalo ini menjadi pengingat bahwa solusi gizi anak tidak melulu soal seberapa banyak uang yang dimiliki sebuah keluarga, melainkan soal seberapa tepat makanan yang sampai ke piring anak setiap harinya.*

Sosial Media Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo :
Channel Youtube
Facebook Page
Facebook
Twitter
Instagram

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

five × 3 =

scroll to top