KLB Campak di Dudepo Kepulauan, Dinkes P2KB Gorontalo Gerak Cepat Laksanakan ORI

WhatsApp-Image-2026-07-22-at-09.13.52.jpeg

Pelaksanaan Outbreak Response Immunization (ORI) di Desa Dudepo Kepulauan, Kecamatan Anggrek, Kabupaten Gorontalo Utara.

Kabupaten Gorontalo Utara, DinkesP2KB – Tim Gerak Cepat (TGC) Dinas Kesehatan PPKB Provinsi Gorontalo bersama TGC Dinas Kesehatan Kabupaten Gorontalo Utara bergerak cepat merespons Kejadian Luar Biasa (KLB) Campak di Desa Dudepo Kepulauan, Kecamatan Anggrek, Kabupaten Gorontalo Utara. Pelayanan kesehatan yang dilaksanakan pada Selasa (21/7/2026) tersebut merupakan implementasi Standar Pelayanan Minimal (SPM) Bidang Kesehatan, yang mewajibkan pemerintah memberikan pelayanan dasar secara cepat dan komprehensif dalam situasi KLB/Wabah penyakit atau masalah kesehatan masyarakat.

Respon cepat dilakukan setelah hasil pemeriksaan laboratorium Balai Besar Laboratorium Kesehatan (BBLK) Surabaya mengonfirmasi lima sampel positif campak. Dari jumlah tersebut, empat kasus berasal dari wilayah kerja Puskesmas Ilangata, tepatnya di Desa Dudepo. Temuan ini memenuhi kriteria Kejadian Luar Biasa sehingga mengharuskan dilaksanakannya penanggulangan segera sesuai pedoman Kementerian Kesehatan.

Tim Gerak Cepat (TGC) Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Provinsi Gorontalo bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Gorontalo Utara langsung diterjunkan untuk melaksanakan serangkaian kegiatan penanggulangan KLB. Langkah yang dilakukan meliputi kajian epidemiologi untuk menetapkan wilayah dan kelompok sasaran, survei cepat di masyarakat, koordinasi lintas program dan lintas sektor dan pelaksanaan Outbreak Response Immunization (ORI) serta edukasi melalui penyuluhan tentang hidup sehat dan pentingnya imunisasi. Seluruh rangkaian respons tersebut dilaksanakan sesuai standar operasional prosedur (SOP) dan petunjuk teknis, yang mengamanatkan agar respons KLB dilakukan paling lambat tujuh hari setelah suatu wilayah dinyatakan memenuhi kriteria KLB.

Upaya penanggulangan melibatkan berbagai unsur, mulai dari Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo, Dinas Kesehatan Kabupaten Gorontalo Utara, Puskesmas Ilangata, pemerintah kecamatan, pemerintah desa, hingga tokoh masyarakat setempat. Kolaborasi lintas sektor menjadi salah satu faktor penting dalam memastikan seluruh sasaran dapat dijangkau dengan cepat, terutama di wilayah kepulauan yang memiliki tantangan geografis.

Perjalanan menuju Desa Dudepo menjadi tantangan tersendiri bagi petugas kesehatan. Untuk mencapai desa tersebut, rombongan harus menyeberangi laut menggunakan perahu selama kurang lebih 20 menit. Meski berada di wilayah kepulauan dengan akses yang relatif terbatas, semangat petugas tidak surut dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Kondisi ini sekaligus menggambarkan komitmen pemerintah untuk menghadirkan pelayanan kesehatan yang setara, termasuk bagi masyarakat di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T).

Pelaksanaan ORI di Desa Dudepo mendapat sambutan yang sangat positif dari masyarakat. Sejak hari pertama, warga datang dengan antusias membawa anak-anak mereka untuk mendapatkan imunisasi tambahan campak tanpa memandang status imunisasi Measles Rubella (MR) sebelumnya. Tingginya partisipasi masyarakat menjadi modal penting dalam upaya memutus rantai penularan penyakit. Hingga awal pelaksanaan, petugas tidak menemukan adanya penolakan terhadap imunisasi, menunjukkan kepercayaan masyarakat sudah mulai terbuka terhadap program imunisasi pemerintah.

Respon cepat Petugas Kesehatan dalam penanggulangan KLB ini menjadi bukti dedikasi yang nyata dalam menjalankan program Pemerintah terutama pemerintah Provinsi Gorontalo. Dalam pelaksanaan SCK juga ditemukan kasus tanbahan yang dicurigai Campak dengan gejala khasnya. Sehingga kemudian dilakukan tatalaksana kasus salah satunya dengan pemberuan vitamin A sesuai dosis.

Menurut Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes P2KB Provinsi Gorontalo Erni Nuraini Mansur, program ORI dijadwalkan berlangsung selama dua pekan dengan target cakupan lebih dari 95 persen pada seluruh kelompok sasaran.

“Target tersebut merupakan syarat penting untuk membentuk herd immunity atau kekebalan kelompok sehingga penularan virus campak dapat dihentikan dan risiko munculnya kasus baru dapat ditekan semaksimal mungkin” terang Erni.

Disamping itu, Kepala Dinkes P2KB Provinsi Gorontalo, Anang S. Otoluwa, memberikan perhatian penuh terhadap penanganan KLB Campak di Desa Dudepo. Menurutnya, setiap warga negara berhak memperoleh pelayanan kesehatan yang berkualitas tanpa membedakan lokasi tempat tinggalnya. Oleh karena itu, daerah kepulauan dan wilayah 3T menjadi perhatian khusus pemerintah agar tidak terjadi kesenjangan akses pelayanan kesehatan, termasuk dalam penanggulangan kejadian luar biasa.

Penanganan KLB Campak di Desa Dudepo menunjukkan bahwa keberhasilan pengendalian penyakit menular tidak semata-mata ditentukan oleh kesiapan tenaga kesehatan, tetapi juga memerlukan kolaborasi lintas sektor serta keterlibatan aktif masyarakat dalam setiap upaya penanggulangan.

“Dengan respons yang cepat, pelayanan yang sesuai standar, dan dukungan masyarakat yang tinggi, pemerintah optimistis penyebaran campak di wilayah tersebut dapat segera dikendalikan sehingga masyarakat kembali terlindungi dari ancaman penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi” ujar Anang.

Rilis : Arman/Lani
Editor : MD/ILB

Sosial Media Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo :
Channel Youtube
Facebook Page
Facebook
Twitter
Instagram

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

eleven + 12 =

scroll to top
Bahasa »