Sehat Itu Murah

IMG-20200129-WA0028.jpg

Dr. Arifasno Napu, SSiT, M. Kes. Pemerhati masalah Gizi, Kesehatan dan Sosial. Mengajar Ilmu Gizi, Kesehatan, Olahraga, Budaya di Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta Lainnya, Anggota Pengurus ISNA (Indonesia Sport Nutritionist Association), Ketua Perhimpunan Pakar Gizi dan Pangan Provinsi Gorontalo.

Selamat Hari Gizi 25 Januari 2020

Aku Cinta Sehat, Karena Sehat Itu Murah. Kalimat ini pasti akan bertolak belakang dengan kalimat yang umum diketahui ataupun yang sering didengar yakni bahwa sehat itu mahal. Namun pernyataan mahal ini ketika ditanyakan mengapa sehat itu mahal, maka lebih dari 80% (kalangan mahasiswa, tenaga kesehatan, guru-guru, para birokrat, masyarakat umum) memberikan alasan bahwa kalau kita sakit maka akan mengeluarkan biaya untuk jasa tenaga kesehatan, obat, biaya perawatan di Rumah sakit, biaya orang yang menunggu, dan biaya-biaya lainnya, (Napu, 2014). Pertanyaan selanjutnya yang disampaikan adalah kalau begitu mana yang murah, “sehat atau sakit”? Biasanya pertanyaan ini tidak dijawab malah audiens yang ditanyakan banyak yang menjadi tertawa-tawa atau senyum-senyum, bahkan kebingungan untuk menjawabnya.

Sesungguhnya, pada saat sehat apa saja yang dibeli sehingga harus banyak pernyataan yang mengatakan bahwa sehat itu mahal? Namun pada saat sakit, cukup banyak kebutuhan yang harus dibeli, dan jika tidak punya uang sementara dibutuhkan biaya yang sangat besar maka dilakukan peminjaman atau penjualan aset-aset yang dimiliki seperti perhiasan, kendaraan, tanah, rumah dan lain sebagainya. Kejadian ini akan memberikan hasil yakni orang sakit dinyatakan sembuh atau sembuh tetapi harus terus berobat, atau juga tidak sembuh bahkan sampai berakhirnya ikhtiar tersebut yakni kematian. Apakah ini masuk dalam politik industri kesehatan yang sengaja ditanamkan dalam pikiran kita sejak kecil bahwa sehat itu mahal? Pernyataan ini juga masih ditemukan berlanjut sampai di bangku perguruan tinggi yang tetap ditanamkan dalam pikiran mahasiswa bahwa sehat itu mahal sehingga harus disosialisasikan terus ke masyarakat.

Penulis sering diminta memberikan kuliah umum di beberapa universitas, dan begitu banyak hal yang menarik disampaikan oleh para mahasiswa dan inti pertanyaannya adalah mengapa orang sakit bertambah banyak sementara: Sekolah dan fakultas bidang Kesehatan menjamur; Tenaga kesehatan (dokter umum, dokter gigi, dokter ahli, perawat, bidan, gizi, apoteker, kesling, laboran, epidemiolog, dsb) bertambah banyak; Puskesmas yang terakreditasi, pustu, polindes, poskesdes, rumah tunggu bertambah banyak; Rumah sakit bertambah banyak juga yang terakreditasi; Alat-alat kesehatan yang canggih bertambah banyak juga yang terstandarisasi; Penemuan obat baru bertambah banyak; Apotek bertambah banyak; Terjadi penambahan sumber daya termasuk dana dari APBN, APBD, bantuan pihak swasta atau pihak asing lainnya.

Selanjutnya yang lebih menarik lagi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Bidang Kesehatan (BPJS Kesehatan) dari tahun ke tahun mengalami defisit dan bahkan harus ditalangin dananya melalui dana pemerintah langsung juga yang ironis karena masih tidak cukup maka harus ditambah dari cukai rokok. Artinya, begitu besar dana yang telah dikeluarkan untuk sakit, namun mengapa orang sakit bertambah banyak terus baik berpenyakit infeksi/menular maupun berpenyakit degeneratif/ tidak menular?

Sejak tahun 1990-an (awal penulis bekerja sebagai tenaga kesehatan), dan sampai hari ini ternyata jumlah orang sakit terus bertambah bahkan secara prosentasenya bertambah, seperti sekarang ini bahwa jumlah orang sakit itu diperkirakan kurang lebih 30% dari jumlah penduduk, sementara untuk tahun-tahun sebelumnya diperkirakan hanya dibawah 15% dari jumlah penduduk? Tidak lain jawaban dari tenaga kesehatan adalah karena beberapa faktor meliputi akses pelayanan kesehatan yang kurang, tenaga yang kurang, fasilitas kesehatan yang kurang, juga pembiayaan yang masih terbatas. Sehingga yang sangat miris adalah ketika ditemukan peningkatan kasus penyakit misalnya tahun yang lalu ditemukan 1100 kasus, dan tahun ini ditemukan 1700 kasus maka selalu dinyatakan bahwa program tersebut adalah bagus, berarti tenaga kesehatannya mengelola program dengan baik dan bahkan diberikan penghargaan. Yang lebih miris lagi jika tidak teralokasikan dana, maka kemungkinan besar kasus tersebut tahun ini akan turun malah kurang dari seribu, selanjutnya ketika tahun depannya tersedia dana yang memadai maka penemuan kasus akan lebih banyak lagi. Ketika ditemukan kasusnya bertambah banyak maka selalu dikatakan bahwa ini adalah hal yang bagus untuk program itu.

Uraian sebelumnya menandakan bahwa dari dulu sampai saat ini pelayanan kesehatan di Indonesia yang diberikan kepada masyarakat belum menjadi sebuah keadilan. Ini dapat ditandai dengan peran pemerintah bahkan institusi atau individu dalam kesehatan hanyalah menjawab pertanyaan bagaimana orang sakit bisa sehat. Apa buktinya? Hanya memprioritaskan tempat pelayanan kesehatan untuk orang sakit, dananya, fasilitas sarana dan prasaranya, beserta tenaga ahlinya guna menyembuhkan orang sakit termasuk menyediakan sistemnya. Proses ini menjadi unsur pendapatan yang seksi apalagi untuk industri kesehatan swasta. Apakah ini juga yang menciptakan bahwa saat ini menuntut ilmu kesehatan itu menjadi sangat mahal apalagi di perguruan tinggi swasta, sehingga siapa saja yang berdana mendapat prioritas sekalipun ada keterbatasannya?

Selanjutnya, yang belum menjadi prioritas baik dari tempat pelayanannya, dana, sarana dan prasarana, tenaga ahli, maupun sistemnya adalah menjawab pertanyaan bagaimana orang sehat tetap sehat? Contoh: ilmu kesehatan hanya ada pada orang kesehatan, bagaimana ilmu tersebut dapat sampai di setiap individu atau masyarakat dalam rangka upaya promosi atau peningkatan pengetahuan juga untuk pencegahan terjadinya berbagai penyakit? Inilah penjabaran peran yang belum terjadi dengan baik. Buktinya bahwa hari ini di puskesmas, pustu, bahkan pada UKBM (upaya kesehatan berbasis masyarakat) lainnya malah mengedepankan atau hanya menjalankan proses-proses kuratif? Apakah sistem ini yang telah membuat masyarakat senang mengkonsumsi obat tanpa aturan yang legal, bahkan menganggap obat yang diberikan di puskesmas hanya obat yang kualitasnya rendah? Olehnya, dalam sistem akreditasi saat ini, apapun tingkat akredikasi puskesmas misalnya ada yang sudah sampai di atas paripurna tetapi angka kesakitan di wilayah puskesmas ini tidak menurun malah meningkat (penyakit-penyakit menular dan penyakit tidak menular termasuk meningkatnya penyakit-penyakit emerging atau reemerging), maka apalah manfaatnya akreditasi puskesmas tersebut?

Hari ini, sangat banyak pencetus terjadinya berbagai penyakit yang belum tertata dengan baik, sehingga penting pembelajaran kesehatan melalui semua unsur yakni secara formal, non formal dan informal. Meningkatkan fokus penanganan tentang bagaimana orang sehat tetap sehat dengan diberikan tempat pelayanan, tenaga ahli, sarana dan prasarana, serta sistem yang menunjang, sama halnya dengan fokus perhatian pada penanganan orang sakit untuk bisa sehat. Jika nanti sakit baru dilayani, maka inilah permasalahan mendasarnya yang akan tetap meningkatkan jumlah orang sakit dan sampai berapa pun besar biayanya pasti tetap tidak akan cukup. Sangat dibutuhkan promosi-promosi yang terstruktur dan berkesinambungan tentang upaya-upaya pencegahan penyakit seperti olahraga, makanan dan minuman, perilaku hidup, pembuatan jamban, pembangunan rumah sehat, pembangunan lapangan/tempat olahraga di tiap desa/kelurahan atau kecamatan, pembangunan tempat wisata juga kerja sama sistem pembangunan lainnya termasuk mengembangkan potensi lokal berupa kearifan lokal yang diilmiahkan dalam proses pembelajaran gizi dan kesehatan secara formal, non formal dan informal untuk pencegahan dan pengobatan penyakit. Dengan jumlah orang sakit terus berkurang dan orang sehat bertambah banyak, maka biaya untuk orang sakit menjadi menurun dan dapat digunakan untuk biaya orang sehat lainnya yang tentunya murah. Aku benci sakit karena sakit itu mahal. Ayoo, berani berbuat baik untuk Indonesia. Semoga tulisan ini bermanfaat, Bersama Berkarya Sebagai Ibadah, Aamiin.

Tulisan ini telah dimuat pada media lainnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

7 + 6 =

scroll to top