Kota Gorontalo, DinkesP2KB — Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Provinsi Gorontalo melalui Tim Kerja (Timker) Kefarmasian dan Alat Kesehatan (Alkes) memperkuat tata kelola obat gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) di tingkat puskesmas melalui kegiatan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Pengelolaan Obat Gizi dan KIA pada pekan keempat Juli 2026.
Kegiatan tersebut dilakukan untuk memastikan ketersediaan, mutu, keamanan, serta distribusi obat dan logistik kesehatan pendukung program gizi dan KIA dapat berjalan tepat sasaran hingga ke fasilitas pelayanan kesehatan dasar.
Kepala Bidang Pelayanan dan Sumber Daya Kesehatan Andriyanto Abdussamad, dalam keterangannya, Rabu (29/07/2026) mengatakan Monev menjadi bagian dari penguatan pengawasan terhadap sediaan farmasi dan perbekalan kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan dasar.
Pemantauan mencakup manajemen rantai pasok (supply chain), mulai dari perencanaan kebutuhan, penyimpanan sesuai standar operasional prosedur (SOP), hingga pencatatan dan pelaporan. Obat dan logistik yang menjadi perhatian antara lain Tablet Tambah Darah (TTD), vitamin A, obat penunjang persalinan, serta suplemen gizi bagi ibu hamil, ibu menyusui, remaja putri, dan balita.
Dalam pelaksanaan Monev di sejumlah puskesmas di wilayah kabupaten dan kota, Timker Kefarmasian dan Alkes menyoroti tiga aspek utama yaitu pertama, pencegahan kekosongan stok dan kedaluwarsa melalui pengelolaan persediaan yang tepat, termasuk penerapan prinsip FEFO (First Expired, First Out) agar obat dengan masa kedaluwarsa lebih dekat digunakan terlebih dahulu. Kedua, kesesuaian standar penyimpanan, termasuk pemeriksaan kondisi sarana penyimpanan dan suhu ruang, untuk menjaga mutu, keamanan, serta efektivitas obat dan suplemen gizi dan ketiga, integrasi data pengelolaan logistik, dengan mendorong pencatatan dan pelaporan yang lebih terpadu antara petugas farmasi dengan pengelola program Gizi dan KIA di puskesmas.
Andriyanto menegaskan, pengelolaan obat dan logistik gizi-KIA yang tepat memiliki keterkaitan langsung dengan keberhasilan intervensi kesehatan prioritas, termasuk pencegahan anemia, penanganan masalah gizi, pencegahan stunting, serta peningkatan kesehatan ibu dan anak.
“Melalui monev ini, kami memastikan agar perencanaan yang sudah disusun menghasilkan pengelolaan obat yang baik, sehingga sediaan yang sudah ada dapat digunakan sesuai sasaran yang ada diwilayah puskesmas” katanya.
Menurutnya, ketersediaan logistik yang memadai harus diikuti dengan distribusi dan pengelolaan yang berkualitas agar kebutuhan sasaran program dapat terpenuhi secara berkelanjutan.
“Tidak boleh ada Puskesmas yang mengalami kekosongan logistik maupun kendala kualitas distribusi demi meningkatkan kesehatan ibu hamil, ibu pasca persalinan, remaja putri ibu dan balita di Gorontalo” pungkas Andriyanto.
Hasil Monev yang dihimpun hingga akhir Juli 2026 selanjutnya akan menjadi dasar bagi Dinkes P2KB Provinsi Gorontalo dalam menyusun peta rekomendasi dan melakukan pembinaan secara berkala kepada puskesmas.
Langkah tersebut diharapkan dapat mengidentifikasi dan menangani lebih dini berbagai potensi kendala dalam pengelolaan maupun distribusi logistik kefarmasian. Dengan demikian, ketersediaan obat dan logistik gizi-KIA dapat terjaga sehingga pelayanan kesehatan dasar bagi masyarakat Gorontalo berlangsung secara optimal, aman, dan merata.
Rilis : ILB
Editor : MD
Sosial Media Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo :
Channel Youtube
Facebook Page
Facebook
Twitter
Instagram
