Kota Gorontalo, DinkesP2KB – Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Provinsi Gorontalo memperkuat upaya deteksi dini penyakit gigi dan mulut melalui pelatihan bagi tenaga kesehatan puskesmas. Kegiatan ini diharapkan meningkatkan kemampuan tenaga kesehatan dalam melakukan pemeriksaan, mengenali masalah kesehatan sejak dini, serta memberikan edukasi dan tindak lanjut pelayanan kepada masyarakat.
Kepala Dinkes P2KB Provinsi Gorontalo, Anang S. Otoluwa, membuka pelatihan tersebut di Hotel Aston, Kota Gorontalo, Jumat (16/10/2026).
Anang mengatakan, hasil Cek Kesehatan Gratis (CKG) di Provinsi Gorontalo menunjukkan bahwa masalah kesehatan gigi dan mulut menempati urutan kedua setelah hipertensi. Kondisi tersebut menjadi perhatian penting dalam memperkuat pelayanan kesehatan promotif dan preventif, terutama di fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama.
“Yang paling penting adalah setelah pelatihan ini para peserta bisa meningkatkan pemeriksaan gigi dan mulut di lapangan juga memberikan edukasi pada masyarakat karena gigi dan mulut merupakan masalah terbesar kedua di provinsi Gorontalo setelah hipertensi hasil CKG yang menunjukkan data seperti itu” kata Anang.

Berdasarkan data CKG Provinsi Gorontalo per 16 Oktober 2026, masalah kesehatan gigi dan mulut masih menjadi tantangan pada kelompok dewasa maupun anak-anak. Pada kelompok usia 18 tahun ke atas, tercatat 71.830 orang atau 24,65 persen mengalami karies gigi dari 291.443 orang yang diperiksa. Sementara itu, 49.820 orang atau 18,65 persen mengalami kehilangan atau pencabutan gigi.
Pada kelompok usia 25 tahun ke atas, sebanyak 7.528 orang atau 4,96 persen mengalami gigi goyang, sedangkan 5.320 orang atau 3,5 persen teridentifikasi memiliki pocket periodontal, yaitu terbentuknya kantong abnormal di antara gigi dan gusi yang dapat menjadi tanda penyakit periodontal.
Masalah kesehatan gigi juga ditemukan pada kelompok anak. Dari 111.300 peserta yang menjadi sasaran, sebanyak 87.679 anak atau 78,78 persen telah menjalani skrining. Dari jumlah anak yang diskrining tersebut, 36.698 anak atau 41,85 persen mengalami karies gigi, sedangkan 50.981 anak atau 58,15 persen tidak mengalami karies.
Dari 36.698 anak yang mengalami karies, sebanyak 30.350 anak atau 82,7 persen memiliki 1–3 gigi karies. Sementara itu, 6.348 anak atau 17,3 persen memiliki lebih dari tiga gigi karies. Data ini menunjukkan pentingnya pemeriksaan sejak usia dini agar kerusakan gigi dapat diketahui dan ditangani sebelum berkembang lebih lanjut.
Sementara itu berdasarkan Survei Kesehatan Indinesia (SKI) 2023 ditemukan 56,9% penduduk usia ≥3 tahun mengalami masalah gigi dan mulut dan hanya 11,2% penduduk yang mengalami masalah tersebut menerima perawatan tenaga kesehatan gigi.
Pelatihan tersebut diikuti 30 tenaga kesehatan pengelola program kesehatan gigi dan mulut dari puskesmas, yang terdiri atas dokter gigi dan terapis gigi. Kegiatan berlangsung pada 15–21 Oktober 2026 dengan tujuan meningkatkan kompetensi peserta dalam mendeteksi masalah kesehatan gigi dan mulut serta memperkuat kualitas pelayanan di wilayah kerja masing-masing.
Selain meningkatkan keterampilan pemeriksaan, tenaga kesehatan diharapkan mampu mendorong perubahan perilaku masyarakat melalui edukasi berkelanjutan.
Rilis : ILB
Foto : Dandels
Videografer : ILB/MD
Video Editor : Reza
Editor : MD
Sosial Media Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo :
Channel Youtube
Facebook Page
Facebook
Twitter
Instagram
