Kota Gorontalo, DinkesP2KB – Penguatan kapasitas tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) menjadi langkah penting untuk memastikan anak usia sekolah dan remaja memperoleh pelayanan kesehatan yang berkualitas, terstandar, dan berkelanjutan. Hal ini menjadi fokus Pelatihan Pelayanan Kesehatan Usia Sekolah dan Remaja bagi Tenaga Kesehatan di FKTP yang ditutup oleh Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Provinsi Gorontalo, Anang S. Otoluwa, Kamis (15/10/2026), di Grand Q Hotel, Kota Gorontalo.
Dalam kegiatan tersebut, Anang juga memberikan materi kepada peserta sebagai bagian dari penguatan pemahaman mengenai pentingnya pelayanan kesehatan bagi kelompok usia sekolah dan remaja, termasuk upaya pencegahan anemia pada remaja putri.
Pelatihan berlangsung selama lima hari, 12–16 Oktober 2026, dan diikuti 30 tenaga kesehatan yang berasal dari puskesmas kabupaten dan kota se-Provinsi Gorontalo. Kegiatan dilaksanakan secara tatap muka selama 34 jam pelajaran (JPL), dengan rangkaian materi, praktik, penugasan, serta praktik lapangan di puskesmas.
Pelatihan ini menghadirkan empat fasilitator dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dan satu narasumber dari Poltekkes Kementerian Kesehatan Gorontalo. Pelaksanaannya didukung anggaran Project Strengthening of Primary Healthcare in Indonesia (SOPHI) dan/atau DIPA Sekretariat Direktorat Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Tahun Anggaran 2026.

Anang menegaskan, pelayanan kesehatan bagi anak usia sekolah dan remaja perlu menjadi perhatian bersama karena kelompok usia ini berada dalam fase penting pertumbuhan dan perkembangan. Tenaga kesehatan di puskesmas memiliki peran strategis untuk memastikan upaya promotif dan preventif berjalan optimal, mulai dari edukasi kesehatan, skrining, hingga tindak lanjut terhadap masalah kesehatan yang ditemukan.
“Pelayanan kesehatan usia sekolah dan remaja tidak boleh hanya berfokus pada penanganan ketika anak sakit. Kita perlu memperkuat upaya promotif dan preventif, melakukan deteksi dini, serta memastikan setiap masalah kesehatan yang ditemukan mendapatkan tindak lanjut yang tepat,” ujar Anang.
Ia juga menyoroti pentingnya pencegahan dan penanggulangan anemia pada remaja putri, termasuk peningkatan kepatuhan mengonsumsi Tablet Tambah Darah (TTD). Berdasarkan data yang disampaikan dalam sambutannya, prevalensi anemia pada remaja putri secara nasional mencapai 25,8 persen. Kondisi ini perlu mendapat perhatian karena dapat memengaruhi konsentrasi belajar, produktivitas, serta kesehatan generasi mendatang.
Menurut Anang, keberhasilan pelayanan kesehatan remaja membutuhkan kerja sama tenaga kesehatan, sekolah, orang tua, dan lintas sektor. Puskesmas diharapkan tidak hanya memberikan layanan pemeriksaan, tetapi juga memperkuat edukasi dan pendampingan agar remaja mampu menerapkan perilaku hidup sehat sejak dini.
Dengan pelatihan ini, peserta diharapkan mampu memahami kebijakan dan standar pelayanan kesehatan usia sekolah dan remaja sesuai pendekatan pelayanan kesehatan primer dan siklus hidup, melaksanakan edukasi serta skrining kesehatan, meningkatkan upaya pencegahan anemia, dan memperkuat pencatatan, pelaporan, serta tindak lanjut pelayanan.
Anang berharap kompetensi yang diperoleh selama pelatihan dapat diterapkan di masing-masing puskesmas sehingga pelayanan kesehatan usia sekolah dan remaja di Provinsi Gorontalo semakin berkualitas dan menjangkau kebutuhan kelompok sasaran secara berkelanjutan.
Rilis : ILB
Foto : Melky
Editor : MD
Sosial Media Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo :
Channel Youtube
Facebook Page
Facebook
Twitter
Instagram
