Oleh: Anang S. Otoluwa
Bagi sebagian orang, Ibu Ninuk Pambudy lebih dikenal sebagai istri Menteri PPN/Kepala Bappenas, Bapak Rachmat Pambudy. Namun, saya mengenal beliau lebih dulu sebagai jurnalis Kompas. Tulisan-tulisannya tentang kesehatan, termasuk profil tokoh kesehatan seperti Prof. Soekirman (Bapak Gizi Pembangunan Indonesia), pernah menjadi bacaan yang saya sukai. Setelah menjadi Pemimpin Redaksi, kini bu Ninuk didapuk sebagai Redaktur Senior di koran bergengsi tersebut.
Karena itu, ketika Ibu Ninuk datang ke Gorontalo bersama ibu-ibu yang tergabung dalam Solidaritas Perempuan Untuk Indonesia (Seruni), saya mencari kesempatan untuk menyerahkan buku saya “Wanita Perkasa”. Selain temanya yang relevan dengan kegiatan organisasi perempuan tersebut, ada alasan pribadi yang membuat buku itu istimewa. Salah satu tulisan di dalamnya pernah dimuat di Harian Kompas, tepatnya di rubrik Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, 6 Februari 2014. Judulnya, Cegah Kerusakan DNA.
Bagi saya, menulis di Kompas adalah pencapaian yang monumental. Saya tahu, media ini sangat selektif dalam memilih tulisan, terlebih dari penulis di luar jajaran wartawannya. Saya pun mengalami penolakan berkali-kali sebelum akhirnya mendapat kesempatan. Tapi, justru itulah yang membuat keberhasilan tersebut terasa begitu berharga.
Saya menyukai gaya penulisan Kompas yang ilmiah, tetapi tetap mudah dipahami pembaca umum. Hasil penelitian yang rumit dapat disajikan dengan bahasa yang jernih tanpa kehilangan substansinya. Dari situlah saya banyak belajar. Dan jujur, gaya penulisan saya turut terinspirasi oleh Kompas. Tak heran jika nama-nama jurnalisnya seperti Ninuk Mardiana Pambudy, Zaid Wahyudi, Ahmad Arif, dan Deonisia Arlinta, begitu akrab di ingatan saya.
Namun, ada satu momen yang membuat pertemuan dengan Ibu Ninuk kali ini terasa jauh lebih istimewa. Setelah menerima buku pemberian saya, beliau bertanya: “Pak Anang masih punya satu lagi bukunya? Saya mau simpan di perpustakaan Kompas.”
Saya terdiam sejenak, lalu tentu saja merasa sangat bahagia. Buku yang saya tulis, kini mendapat tempat di perpustakaan media yang sejak lama saya kagumi. Bagi seorang penulis, rasanya, ini apresiasi yang sangat membahagiakan.
Artikel yang dimuat Kompas itu sebenarnya berangkat dari disertasi saya tentang kerusakan DNA pada ibu hamil dan kaitannya dengan risiko terjadinya stunting. Kekurangan zat gizi mikro, yakni vitamin dan mineral, dapat mengganggu proses biologis penting bagi pertumbuhan janin yang ditandai dengan kerusakan DNA. Dampaknya dapat berupa terhambatnya pertumbuhan anak sejak dalam kandungan intrauterine growth restriction (IUGR).
Dalam tulisan tersebut, saya lalu merekomendasikan dua hal. Pertama, penggunaan multiple micronutrient (MMN) sebagai pengganti tablet tambah darah yang hanya mengandung zat besi dan asam folat. Kedua, pentingnya perhatian terhadap kesehatan ibu bahkan sebelum kehamilan terjadi (prakonsepsi).
Kini, gagasan itu perlahan menemukan jalannya. Sejak 2023, Kementerian Kesehatan telah menjadikan MMN sebagai suplemen untuk ibu hamil (MMS) secara nasional. Gorontalo termasuk provinsi yang seluruh kabupaten/kotanya mulai menggunakan MMN sebagai pengganti tablet tambah darah.
Kesehatan calon pengantin atau wanita prakonsepsi juga telah mendapat tempat dengan lahirnya Perpres 72/2021 tentang percepatan penurunan stunting.
Tentu, perubahan kebijakan tidak lahir dari satu tulisan semata. Ada penelitian intervensi MMN pada wanita prakonsepsi yang kami mulai di Makassar, Banggai, kemudian menyebar di 25 wilayah bersama Unhas, Airlangga, UI, dan Vitamin Angels. Ada advokasi Institut Gizi Indonesia (IGI) yang gigih kepada dunia industri dan pemerintah, pertimbangan ilmiah termasuk di Asian Conggress of Nutrition (ACN), dan kerja banyak pihak di baliknya. Namun, melihat gagasan yang dahulu saya tulis sebagai rekomendasi kini mulai diterapkan, ada kebahagiaan tersendiri. Rasanya, tulisan itu tidak berhenti sebagai kumpulan kata di atas kertas, tetapi ikut mengambil bagian dalam perubahan kebijakan di Indonesia.
Mungkin itulah salah satu alasan kenapa saya tetap mencintai dunia tulis-menulis. Kita tidak pernah tahu sejauh mana sebuah tulisan akan berjalan, siapa yang akan membacanya, atau kapan gagasan di dalamnya menemukan momentum untuk diwujudkan.
Dan bagi saya, semuanya bermula dari sebuah cita-cita: menulis di Kompas.(*)
Sosial Media Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo :
Channel Youtube
Facebook Page
Facebook
Twitter
Instagram
