Kabupaten Bone Bolango, DinkesP2KB – Upaya mendeteksi dan menangani masalah gizi pada balita terus diperkuat melalui pemantauan pertumbuhan di Posyandu. Langkah ini menjadi bagian penting dalam memastikan setiap anak yang mengalami gangguan pertumbuhan dapat segera diidentifikasi dan memperoleh intervensi yang sesuai.
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Provinsi Gorontalo, Syafiin S. Napu, bersama tim melakukan kunjungan pemantauan balita bermasalah gizi pada kegiatan pemantauan pertumbuhan di Posyandu Huangobotu, Kecamatan Kabila Bone, Kabupaten Bone Bolango, Selasa (08/09/2026).
Pemantauan dilakukan dengan meninjau hasil pengukuran pertumbuhan balita, termasuk berat badan dan tinggi badan, serta memastikan balita yang teridentifikasi mengalami masalah gizi mendapatkan tindak lanjut dari kader dan tenaga kesehatan.
Salah satu balita yang menjadi perhatian dalam pemantauan tersebut adalah Putri, usia 19 bulan, yang berdomisili di wilayah kerja Puskesmas Kabila Bone. Berdasarkan hasil pemantauan, status gizi berdasarkan berat badan menurut umur (BB/U) menunjukkan berat badan kurang, sementara tinggi badan menurut umur (TB/U) berada dalam kategori sangat pendek.
Syafiin mengatakan, temuan seperti ini harus menjadi perhatian bersama karena pengukuran di Posyandu bukan sekadar kegiatan rutin, tetapi merupakan pintu masuk untuk mendeteksi masalah pertumbuhan sedini mungkin.
“Ketika ditemukan balita dengan berat badan kurang atau tinggi badan sangat pendek, kita tidak boleh berhenti pada hasil pengukuran. Harus ada tindak lanjut untuk mengetahui penyebabnya, bagaimana asupan makanannya, apakah ada penyakit penyerta, serta bagaimana pola asuh dan kondisi lingkungan anak,” kata Syafiin.
Menurutnya, penanganan masalah gizi membutuhkan pemantauan yang berkesinambungan dan keterlibatan keluarga. Kader Posyandu memiliki peran penting dalam memastikan balita yang teridentifikasi bermasalah tidak kehilangan akses terhadap pelayanan kesehatan berikutnya.
“Kita ingin memastikan tidak ada balita bermasalah gizi yang terlewatkan. Posyandu, Puskesmas, keluarga, pemerintah desa dan lintas sektor harus bergerak bersama agar setiap anak yang membutuhkan intervensi dapat segera ditangani dan dipantau perkembangannya,” ujarnya.
Pemantauan balita bermasalah gizi mencakup pengukuran pertumbuhan secara berkala, pencatatan hasil pengukuran, edukasi kepada orang tua mengenai pemberian makanan bergizi dan seimbang, serta pemantauan kondisi kesehatan dan faktor lain yang dapat memengaruhi pertumbuhan anak.
Balita yang membutuhkan penanganan lebih lanjut dapat memperoleh pendampingan tenaga kesehatan dan, bila diperlukan, dirujuk untuk mendapatkan pelayanan sesuai kondisi. Pendekatan tersebut diharapkan dapat memastikan intervensi diberikan secara cepat, tepat, dan berkelanjutan.
Rilis : ILB/Rais
Editor : MD
Sosial Media Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo :
Channel Youtube
Facebook Page
Facebook
Twitter
Instagram
