Ikuti Sosialisasi RAN-PG, Gorontalo Perkuat Rencana Aksi Pangan dan Gizi Berbasis Potensi Lokal

IMG-20261024-WA0007.jpg

Perwakilan Pemerintah Provinsi Gorontalo pada sosialisasi RAN-PG.

Surabaya, DinkesP2KB – Pemerintah Provinsi Gorontalo memperkuat perencanaan pembangunan pangan dan gizi berbasis potensi sumber daya lokal melalui partisipasi dalam Sosialisasi Rencana Aksi Nasional Pangan dan Gizi (RAN-PG) 2026–2029 dan pendampingan penyusunan Rencana Aksi Daerah Pangan dan Gizi Berbasis Potensi Sumber Daya Lokal (RAD-PGBPSDL). Kegiatan yang diselenggarakan Kementerian PPN/Bappenas ini berlangsung di Hotel Mövenpick Surabaya, Jawa Timur, pada 21–24 Oktober 2026.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya menyelaraskan kebijakan nasional dan daerah dalam menjawab persoalan ketersediaan pangan, keterjangkauan pangan bergizi, perbaikan status gizi masyarakat, serta dampak perubahan iklim terhadap sistem pangan.

Nutrisionis Ahli Madya Yustiyanty Monoarfa, salah satu yang mewakili tim Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Provinsi Gorontalo, mengatakan penyusunan RAD-PG perlu didasarkan pada analisis situasi yang akurat, kebutuhan masyarakat, dan pemanfaatan potensi pangan lokal. Perencanaan lintas sektor juga diperlukan agar intervensi pangan dan gizi dapat berjalan secara terpadu dan tepat sasaran.

“Gorontalo memiliki potensi pangan lokal yang beragam, seperti jagung, ubi, sagu, talas, pisang, serta sumber protein dari sektor perikanan. Potensi ini perlu dioptimalkan untuk mendukung ketersediaan pangan bergizi, meningkatkan kualitas konsumsi masyarakat, dan memperkuat ketahanan pangan daerah,” ujar Yustiyanty.

Menurutnya, pengembangan pangan lokal tidak cukup hanya berorientasi pada ketersediaan produksi. Upaya tersebut perlu disertai peningkatan akses masyarakat terhadap pangan bergizi, diversifikasi konsumsi, serta edukasi mengenai pola konsumsi Beragam, Bergizi Seimbang, dan Aman (B2SA).

Berdasarkan bahan analisis situasi RAD-PGBPSDL Provinsi Gorontalo, sejumlah isu strategis yang perlu mendapat perhatian meliputi belum optimalnya diversifikasi konsumsi pangan lokal, keterjangkauan pangan bergizi, permasalahan gizi masyarakat, serta risiko perubahan iklim terhadap produksi dan distribusi pangan.

Risiko banjir dan kekeringan dapat memengaruhi produksi pertanian, sedangkan gangguan distribusi berpotensi membatasi pasokan dan meningkatkan beban pengeluaran rumah tangga. Kondisi tersebut menjadikan pemetaan wilayah rawan pangan, kelompok masyarakat rentan, dan risiko iklim sebagai bagian penting dalam penentuan prioritas program.

Dalam kegiatan tersebut, delegasi Provinsi Gorontalo mendapatkan sosialisasi kebijakan RAN-PG 2026–2029, pedoman penyusunan RAD-PG, serta pendampingan untuk meninjau analisis situasi dan mempertajam matriks aksi prioritas daerah. Pembahasan juga mencakup integrasi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim dalam perencanaan pangan dan gizi.

Delegasi Gorontalo terdiri atas Moh. Diki Siddiki dan Nur Ayin Tuna dari Badan Perencanaan, Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Gorontalo, Yustiyanty Monoarfa dan Meldy Hadju dari Dinkes P2KB Provinsi Gorontalo serta Andi Elwi Yuswati dan Selvie A. Kasim dari Dinas Ketahanan Pangan dan Hortikultura Provinsi Gorontalo.

Keterlibatan ketiga perangkat daerah tersebut mencerminkan perlunya koordinasi lintas sektor dalam menyusun kebijakan pangan dan gizi. Bappeda berperan dalam penyelarasan perencanaan pembangunan, Dinkes P2KB berkontribusi pada intervensi kesehatan dan perbaikan gizi, sedangkan Dinas Ketahanan Pangan dan Hortikultura mendukung pengembangan serta ketersediaan pangan.

Hasil pendampingan diharapkan dapat memperkuat dokumen RAD-PG melalui analisis situasi yang lebih terarah, penetapan aksi prioritas yang terukur, serta pembagian peran perangkat daerah yang jelas. Penentuan indikator, target, sumber data, dan mekanisme pemantauan juga menjadi unsur penting untuk memastikan rencana yang disusun dapat diterjemahkan menjadi program dan kegiatan yang dapat dievaluasi.

Bagi Provinsi Gorontalo, RAD-PG berbasis potensi sumber daya lokal diharapkan menjadi acuan dalam menyelaraskan program lintas sektor, meningkatkan akses masyarakat terhadap pangan bergizi, mendorong diversifikasi konsumsi pangan lokal, serta memperkuat ketahanan pangan menghadapi perubahan iklim.

Dengan perencanaan yang terintegrasi dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat, pengembangan pangan lokal diharapkan berkontribusi terhadap perbaikan gizi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan pembangunan daerah yang berkelanjutan.

Rilis : ILB/Titi
Editor : MD

Sosial Media Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo :
Channel Youtube
Facebook Page
Facebook
Twitter
Instagram

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

eight + 9 =

scroll to top